TUTUP
TUTUP

Menata Kota Tua Jakarta

Sebanyak 12 gedung tua sudah direvitalisasi, namun masih ada kendala.
Wisatawan menikmati suasana liburan di kawasan kota tua, Jakarta

VIVA.co.id – Sore itu wajah lalu lintas kota Jakarta ramai seperti biasa, kepadatan jalan raya yang dipenuhi kendaraan roda empat dan dua menjadi pemandangan yang tak terelakkan di sekitar Stasiun Kota yang berada di kawasan Kota Tua.

Bangunan peninggalan kolonial Belanda ratusan tahun lalu itu tampak berdiri kukuh di antara deretan bangunan lain yang penuh dengan lamuran lumut, menutupi warna cat tembok bangunan yang berada di sebelahnya. Bergeser 500 meter ke arah utara Stasiun Kota, terdapat sejumlah bangunan tua yang juga berdiri megah bertuliskan 'Gouverneurs Kantoor' yang menggambarkan pusat pemerintahan Batavia di zaman Belanda dahulu. 

Kantor Gubernur Batavia yang saat ini dikenal dengan nama Museum Sejarah atau Museum Fatahilah itu dikelilingi oleh sejumlah gedung tua berwarna putih yang kini menjadi objek wisata Kota Tua, di antaranya Gedung Museum Seni dan Keramik, Gedung Kantor Pos Indonesia, Gedung Museum Wayang, Gedung Museum Bank Mandiri dan Gedung Museum Bank Indonesia.

Sinar mentari perlahan mulai memudar. Petang pun datang diiringi sinar rembulan menyinari halaman Kota Tua yang luasnya dua kali lipat lapangan sepak bola. Semakin gelap langit ibu kota, pemandangan Kota Tua pun semakin ramai didatangi para pengunjung yang ingin melepas kepenatan usai melakukan aktivitas sehari-hari. Sangat nampak perubahan wajah Kota Tua saat ini jika dibandingkan dua tahun silam. 

sorot kota - Musium Fatahillah di kawasan Kota Tua Jakarta tahun 2008

Bangunan Museum Fatahillah yang berada di kawasan kota tua Jakarta. (VIVA.co.id/Maryadie)

Latar gedung Gouverneurs Kantoor yang saat ini disebut Museum Fatahilah, kini sudah bersih dari lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) yang beberapa tahun lalu memenuhi halaman gedung. Tidak sedikit warga Jakarta menikmati indahnya suasana malam di tengah bangunan tua yang memiliki nilai sejarah di pusat Jakarta itu.

Duduk-duduk di lantai batu pualam yang berada di tengah-tengah deretan bangunan peninggalan kolonial Belanda pun menjadi pilihan para pengunjung yang ingin menikmati suasana malam kota Jakarta. Tidak sedikit dari pasangan muda mudi menjadikan gedung-gedung tua itu sebagai spot untuk ber-swafoto dan mengunggahnya di media sosial. [Baca juga: Kota yang Tak Lagi Tua]

Pantauan VIVA.co.id di lapangan, halaman Kota Tua yang kini menjadi objek wisata masyarakat Jakarta kini sudah mulai tertata rapi. Tidak ada satu pun PKL yang menggelar lapak di area atau kawasan tersebut.

Hal itu dibenarkan oleh salah satu petugas Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Rukhmana. Menurutnya, penertiban PKL yang dahulunya berjualan di halaman Gedung Gouverneurs Kantoor sudah dilakukan sejak akhir tahun 2015 lalu. Saat ini para pedagang kaki lima sudah tidak boleh lagi berjualan di dalam kawasan Kota Tua yang kini tengah difokuskan Pemprov DKI sebagai kota wisata.

"Bahkan kita juga memberlakukan jam malam bagi para pengunjung. Batasnya jam 10 malam semua sudah harus keluar dari sini. Jadi jam 10 malam sudah harus steril pengunjung, juga sudah tidak boleh nongkrong di sini," kata Rukhman baru-baru ini.

Sejak tahun 2013, pemerintah memang berencana merevitalisasi Kota Tua. Proses peremajaan dengan dana lebih dari Rp200 miliar ini dilakukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota warisan era kolonial Belanda sekaligus menarik wisatawan lokal dan mancanegara. Namun, dana tersebut tidak hanya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan juga dari dana program sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Rencananya, semua akan dibuat terintegrasi, mulai dari penataan kali, trotoar hingga lahan parkir pengunjung yang akan dibuat terpadu dari Jalan Cengkeh sampai Jalan Tongkol. Selain merevitalisasi gedung-gedung tua, akan dilakukan pula relokasi dan sentralisasi para pedagang kaki lima. [Baca juga: Permata di Kota Tua]

Selanjutnya..Wacana sejak zaman Ali Sadikin

TUTUP