TUTUP
TUTUP

Wayang Orang yang Melegenda

Wayang orang Sriwedari lebih satu abad. Bertahan di tengah era modern.
Salah satu agedang pagelaran wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta.

VIVA.co.id – Suasana di dalam gedung Pewayangan Kautaman Taman Mini Indonesia Indah mendadak senyap. Hari beranjak siang. Saat itu, Senin 24 April 2017.  

Keriuhan pendukung pementasan kelompok wayang orang Sriwedari sebelum gladi resik dimulai perlahan hilang. Berganti dengan keheningan. 

Lamat-lamat suara gamelan terdengar. Para pemain, pengrawit atau penabuh gamelan, dan kru wayang orang Sriwedari mulai menyatu. Memadu gerak gladi resik jelang pementasan. 

Cerita tentang Arjuna dengan lakon “Mintaraga” perlahan mengalir. Pemain pun melakoni peran dengan khidmat.  

Wayang Orang

Pada pagelaran wayang orang, para pemain akan selalu menari seiring dengan jalan cerita. (VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis)

Pemain dan penari meliukkan tubuhnya secara pelan namun indah, membawa imajinasi penonton pada kisah Ramayana dan Mahabharata. Adegan demi adegan dilakukan sepenuh hati, serasa terlempar jauh ke masa lalu dan berjarak dengan hiruk pikuk dunia kekinian. Meski baru gladi resik, semua pemain memberikan totalitas pada setiap peran yang mereka jalani. 

Mintaraga atau Ciptoning, mengisahkan Arjuna yang sedang bertapa mencari jati diri. Dalam pertapaannya itu, ia mendapatkan berbagai ujian atau cobaan dari para dewa melalui aneka macam perwujudan. Tujuannya untuk menguji seberapa teguh niat Arjuna untuk mencapai tujuannya. Arjuna berhasil melalui semua godaan, sehingga ia dipilih oleh dewa-dewa untuk menjadi “Jagonya Dewa”.  

Arjuna diberi tugas melawan raksasa yang bernama Niwoto Kawojo. Saat itu, Niwoto Kawojo telah mengobrak-abrik Kahyangan karena ingin mempersunting bidadari bernama Subpraba. Padahal, bukan ranahnya raksasa memperistri seorang bidadari.

Lakon Mintaraga memiliki pesan bahwa seseorang yang sudah mencapai tingkatan tertinggi, seperti raksasa Niwoto Kawojo dan Begawan Ciptoning, yang sama-sama memiliki kesaktian luar biasa, sesungguhnya masih bisa dipertanyakan. 

Apakah mereka yang sudah mencapai tingkatan seperti itu sudah menjalani perannya sesuai dengan kodratnya? Sesuai dengan titahnya dengan sesama manusia, titahnya dengan alam semesta, juga titahnya dengan Tuhan?

Umumnya, cerita wayang memang selalu penuh dengan filosofi. Pesan-pesan moral yang pas untuk menjalani kehidupan kerap muncul melalui dialog, adegan, juga dari tema utuh. 

Meski kisah yang diangkat berasal dari cerita yang sudah turun temurun selama berabad-abad, namun filosofi dalam wayang tak pernah basi, dan tetap menarik disimak. 

Karena mementaskan wayang adalah mementaskan kehidupan seorang manusia. Kisah yang disampaikan adalah kisah yang sama, hanya berganti tahun, berganti masa dan berganti kondisi sosialnya. 

Kelompok wayang orang Sriwedari misalnya. Melakukan pementasan dengan dua alasan, menyambut Kongres IX Serikat Nasional Pewayangan Indonesia atau Senawangi dan menyambut perayaan wayang orang itu yang tahun ini mencapai 107 tahun. Sebuah usia yang luar biasa untuk perjuangan mempertahankan kesenian dan tradisi budaya. (Baca juga: Seabad Wayang Orang Sriwedari Berjuang)

Lebih dari satu abad wayang orang Sriwedari melakoni perjalanan budayanya. Di tengah gempuran masa yang menuntut serba mudah dan cepat, wayang orang Sriwedari tetap setia menjalankan pentas dengan persiapan matang yang melibatkan puluhan orang, ratusan alat musik, seni berpakaian dan berdandan yang mungkin saat ini dilihat lamban serta ribet. (Baca juga: Pernik-pernik Wayang Orang)

Salah satu kelompok yang ikut berperan aktif menjaga kesenian wayang orang adalah Triardhika Production, yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta membawa wayang orang Sriwedari berpentas di Jakarta. 

Produser Triardhika, Enny Sulistyowati, berkisah, Sriwedari adalah kelompok wayang orang yang awalnya dibentuk di dalam keraton yang akhirnya dibawa keluar. Setelah dipentaskan di luar keraton, wayang orang menjadi semakin dikenal. 

Apalagi menjelang kemerdekaan, wayang orang disiarkan di sebuah siaran radio. Maka makin luaslah penggemarnya. Semakin banyak penggemar wayang orang, membuat seorang pengusaha asal Tionghoa tertarik menjadikannya sebagai hiburan yang memiliki nilai jual.

“Jadi pada zaman dulu itu kemudian dikemas oleh pengusaha Tionghoa supaya bisa dijadikan hiburan yang memiliki nilai jual. Dijadikanlah wayang orang sebagai tontonan panggung, dan tontonan panggung itulah yang ada sampai sekarang,” ujar Enny.

Enny mengaku sangat mengagumi Sriwedari, yang kini sudah mencapai empat generasi. Kelompok ini pernah mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1970-an. Di masa itu, ada tiga nama yang begitu populer dan kini mulai melegenda. Ketiganya adalah Surono, Rusman, dan Darsih. 

Ketiga orang ini disebut sebagai aktor luar biasa yang membuat popularitas Sriwedari mencapai puncak emasnya. Bahkan Presiden Soekarno kerap meminta kelompok ini tampil di hadapan tamu negara.

Selanjutnya, Wayang Orang vs Budaya Pop

TUTUP