TUTUP
TUTUP

Mengabdi Lewat Startup untuk Rakyat

Namanya moncer sebagai 'Ratu Gojek'. Lalu hengkang untuk mengabdi.
Co-Founder Binar Academy, Alamanda Shantika Santoso.

VIVA.co.id – Sosok perempuan berkacamata itu muncul di depan layar besar di auditorium. Melalui sambungan Skype, perempuan muda itu bicara di depan ribuan orang. 

Saat mulai bicara, ribuan pasang mata khusyuk menyimaknya. Dari Balikpapan, perempuan itu berbagi pengalaman bagaimana membangun aplikasi Gojek dari nol sejak Mei 2014. 

Buah visi dan karyanya, kini aplikasi Gojek sudah terasa manfaatnya bagi pengguna dan 250 ribu mitra pengemudi. Sukses membesut aplikasi Gojek, membuat perempuan itu memetik pelajaran berharga. 

Bukan materi dan ketenaran, tapi kebahagiaan sederhana. Yaitu bahagia karyanya melahirkan kebahagiaan ratusan ribu mitra pengemudi dan jutaan pengguna.

Tepuk tangan menggema riuh di auditorium. Menggelorakan semangat hadirin civitas akademika Binus University Jakarta.

Perempuan itu, Alamanda Shantika Santoso kembali melanjutkan pengalamannya. Dia merasakan bahagia melihat orang lain bahagia. 

"Sekarang saya mikirnya bagaimana membantu orang lain di luar sana serta berkontribusi untuk negara ini," ujar Alamanda dalam tampilan video teleconference di Balai Sidang Jakarta Convention Center Jakarta.

Ribuan hadirin itu bersemangat, yang mayoritas mahasiswa Binus University. Nama Alamanda bagai bintang yang makin terang di jagad startup Tanah Air. Sukses membesut aplikasi Gojek yang bermanfaat bagi masyarakat.

Setelah makin terkenal di bawah bendera Gojek yang makin berjaya, tak lantas membuat alumnus Binus University itu berpuas diri. 

Pada Oktober 2016, dia memutuskan hengkang dari Gojek yang melejitkan namanya. Vice President Gojek Indonesia itu memutuskan untuk hijrah menjadi pendidik atau mentor di Kibar Kreasi Indonesia, sebagai Chief Activist di FemaleDev. Alamanda juga bergabung menjadi penasihat kurikulum dan program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital yang digelorakan pemerintah.

Motivasinya jelas bukan materi. Alamanda ingin berbagi ilmu yang dia dapatkan di Gojek ke lebih banyak orang lain di luar sana. 

"Sayang, ilmu yang saya dapatkan di Gojek hanya dikembangkan di Gojek saja," tegasnya.

Baginya, startup bisa menjadi jalan untuk kebangkitan Indonesia dan lebih penting lagi jalan untuk anak muda Indonesia berkontribusi bagi bangsa.

Dia melihat, sejak Gojek muncul dan menjadi tren, pola pikir anak muda Indonesia dalam membidani startup bukan hanya untuk menghasilkan uang saja, tapi mulai muncul tren membuat startup untuk membantu menyelesaikan problem pemerintahan.

"Peran Gojek sadarkan orang enggak usah complain doing, tapi lakukan sesuatu," ujar dia.

Salah satu wujud inovasi teknologi yang berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat, menurutnya, yakni aplikasi Qlue yang dipakai Pemprov DKI Jakarta. Anak muda turun tangan untuk membantu problem masyarakat.

Selama menjadi pendidik dan penasihat di berbagai wadah teknologi itu, Alamanda makin melihat potensi sejumlah anak muda dalam industri kreatif dan startup. Sudah banyak dia menemui beragam ide untuk pengembangan startup, namun dia menyimak masih ada sejumlah kekurangan. Banyak ide muncul, namun susah untuk mengeksekusi beberapa gagasan di kepala para pengagas startup

Menurutnya, percuma ide startup atau inovasi teknologi sebagus apa pun, tapi hanya sebatas gagasan. Saat masuk ke tahap eksekusi ide itu, kandas.

Selanjutnya, Startup Area Terpencil

TUTUP