TUTUP
TUTUP

Bemo Ganefo Warisan Soekarno

Tahun 1962, ribuan bemo menginvansi ibu kota. Pesanan khusus Soekarno.
Bemo saat mangkal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta

VIVA.co.id – Pagi itu Jakarta tampil benderang. Sesuai tabiat, potret kemacetan masih jadi menu utamanya. Namun seperti biasa pula, atmosfer ini tak memengaruhi para sopir bemo untuk mangkal menjejerkan kendaraannya menunggu penumpang di kolong flyover Stasiun Karet, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tergambar jelas semua kendaraan roda tiga ini terlihat tua dan lusuh, cat mengelupas, serta dipenuhi gempuran karat.

Tak sampai menunggu penumpang penuh, seorang pengemudi bemo terlihat berlari, kemudi langsung diayun. Seakan-akan para sopir bemo sadar diri dengan peminatnya. Empat hingga lima orang, sudah cukup bagi mereka untuk langsung melaju di padatnya lalu lintas Jakarta.

Para pengemudi bemo di sana rata-rata sudah berpuluh-puluh tahun mencari nafkah di kawasan tersebut. Bahkan ada yang menjadi sopir bemo dari generasi ke generasi.

Jika difigurkan, bemo merupakan kendaraan yang memiliki suara khas sumbang cenderung sember, serta berasap tebal. Asap menyembur siapa saja yang ada di dekatnya. Tak terbayang bagaimana perasaan pengendara di sekitarnya, mungkin memang butuh kelapangan hati besar jika berkendara di dekat bemo. Meski nian, aksi selap-selip masih bisa dilakoni, kendati tenaga tak berbanding lurus dengan suara knalpot.

Sorot Bemo

Warga masih menggunakan bemo sebagai transportasi harian di Jakarta. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Di balik gambaran miris soal bemo, ada cerita besar yang pernah dikepalnya. Dahulu bemo merupakan tunggangan berjaya yang banyak dibangga-banggakan warga ibu kota. Untuk sekadar berangkat kerja, sekolah, hingga melancong, bemo-lah andalannya. Apalagi dengan harga murah yang diusung, jadilah bemo bagian dari kendaraan favorit rakyat dahulu kala.

Tak banyak yang tahu pula jika perusahaan transportasi besar sekelas Blue Bird terlahir dari rahim bemo. Sebelum kuat menancapkan kuku bisnisnya di bidang pertaksian, Blue Bird lebih dahulu mengoperasikan bemo sebagai armada. Hingga pada akhirnya bisnis berkembang, Blue Bird mengukuhkan diri sebagai perusahaan layanan taksi pada 1972.

Menurut Executive Officer Research and Development PT Astra Daihatsu Motor, Pradipto Sugondo, bemo merupakan kendaraan Daihatsu pertama yang masuk ke Indonesia. Tetapi saat itu bukan dibawa oleh mereka, karena PT ADM baru mengawali kiprahnya pada 1973 dan bekerja sama dengan Astra International pada 1978.

"Waktu itu setahu saya bemo masuk dalam jumlah besar satu kali, jadi bukan produksi sampai tahun berapa, tidak. Jadi sekali datang tidak tahu berapa ribu unit dan berapa kali pengiriman. Itu impor dari Jepang. CBU (Completely Built Up), jadi belum diproduksi di sini," kata Pradipto kepada VIVA.co.id.

Selanjutnya, Menyingkirkan Becak

***

Menyingkirkan Becak

Berdasarkan catatan sejarah yang ditulis dalam buku "Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa" karya Ratna Saptari terbitan KITLV-Jakarta, bemo pertama kali mendarat ke bumi nusantara pada 1962-an. Bemo memang sengaja dipesan khusus Presiden Soekarno, sebagai kendaraan angkutan di Jakarta dalam kaitannya menyambut Ganefo, pekan olahraga akbar yang digadang-gadang menyaingi olimpiade.

Agenda lain, Bung Karno menghadirkan bemo sebagai bagian untuk menghapus becak dari Tanah Air. Alasannya, karena Bung Karno merasa iba dengan pemandangan adanya seseorang yang harus rela berpeluh keringat menggenjot pedal becak demi sesuap nasi. Apalagi pedal diinjak setelah adanya tawar-menawar ongkos, sungguh pedih di matanya. Bung Karno memandang itu bagian simbolisasi exploitation de lhome par lhome --penindasan manusia di atas manusia.

Sekadar gambaran, saat itu tarif becak per jam untuk jarak 10 kilometer cuma Rp10. Ketika cuaca buruk, tarifnya dinaikkan menjadi Rp15 untuk jarak 10 kilometer. Tarif sewa becak ini digantung atau ditempel pada badan becak, sehingga mudah dilihat calon penumpang. Jika pengemudi becak melanggar, maka akan dikenakan sanksi tak boleh menarik selama satu tahun dan didenda setinggi-tingginya Rp5.000.

Sorot Bemo

Kini tarif bemo untuk jauh dekat Rp3 ribu. Sementara mereka yang narik bemo milik orang lain, harus setoran Rp50 ribu setiap hari. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Bung Karno lalu mengajukan gagasan modernisasi sarana transportasi lokal becak dengan menggunakan tenaga motor sebagai pengganti tenaga manusia. Itu juga sebabnya mengapa kata bemo dipilih, karena akronim dari becak motor.

Tak lama keudian, Menteri Perindustrian kala itu, Chairul Saleh, mengimpor 3.000 kendaraan buatan Jepang dengan nilai US$13,3 juta, yang salah satu jenisnya merupakan Daihatsu Midget (kerdil) yang berjuluk bemo di Tanah Air.

Tak cuma menteri perindustrian, Gubernur Jakarta kala itu, Sumarmo, juga langsung memuluskan rencana Pimpinan Besar Revolusi Indonesia. Becak kemudian diberangus. Para tukang becak diarahkan untuk menjadi sopir bemo.

Dalam laporan Suluh Indonesia, 25 September 1962, untuk memudahkan para tukang becak memiliki bemo, mereka dapat membelinya secara mengangsur setelah tiga tahun dioperasikan. Para tukang becak lalu dilatih mengoperasikan bemo secara cuma-cuma oleh pusat Yayasan Motor, terutama bagi mereka yang bisa membaca dan menulis.

Selanjutnya, Pernah Dipuja

TUTUP