TUTUP
TUTUP

Renyahnya Bisnis Apartemen

Target pasarnya merambah kaum mahasiswa tajir. Ada risiko mengintai.
Sejumlah bangunan apartemen berdiri di antara kawasan padat penduduk di Bandung

VIVA.co.id – Puluhan orang berusia muda tampak lalu lalang. Mereka hilir mudik, keluar masuk gedung bertingkat yang berlokasi di Jalan Margonda, Depok, Jawa Barat ini. Beberapa di antaranya terlihat menggendong tas ransel dan menenteng buku. Sesekali, terdengar tawa renyah mereka saat masuk lobi gedung.

Pemandangan serupa juga terlihat di luar gedung. Sejumlah kendaraan roda empat terlihat keluar masuk area gedung. Puluhan mobil beragam merek itu melintas dan berhenti tepat di depan lobi, guna menurunkan penumpang yang sebagian besar berusia muda. Basement gedung yang digunakan sebagai lahan parkir juga dijejali mobil dan kendaraan roda dua.

Gedung 18 lantai yang nyaris tak pernah sepi ini merupakan Margonda Residence II. Apartemen yang terletak di pusat Kota Depok ini hanya berjarak sekitar 300 meter dari kampus Universitas Indonesia.

Sebagai salah satu daerah penyangga Ibu Kota yang berlokasi di selatan Jakarta, Depok mengalami pertumbuhan ekonomi yang lumayan pesat. Kondisi ini terlihat di kawasan Margonda, wilayah yang dikenal sebagai jantung Kota Depok. Margonda yang tak pernah tidur ini menjadi magnet bagi para pengembang.

“Ya hukum ekonomi lah. Ketika banyak permintaan sudah pasti ada barang,” ujar Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna, kepada VIVA.co.id, Kamis 30 Maret 2017.

Meski demikian, Pemerintah Kota Depok mulai membatasi pembangunan apartemen di kawasan tersebut. Ini dilakukan, lantaran pemerintah khawatir dengan ledakan jumlah penduduk yang dibarengi dengan melonjaknya volume kendaraan.

“Bisa dibayangkan, jika satu apartemen saja jumlah penghuninya ada sekitar 500 orang, kemudian sebagian memiliki mobil maka akan berdampak pada arus lalu lintas di kawasan tersebut,” ujar Pradi menambahkan.

sorot apartemen di ipb bogor

Tak hanya Depok, pembangunan apartemen juga mulai merambah Bogor. Salah satunya, pembangunan apartemen di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (VIVA.co.id/Ayatullah Humaeni)

Tak hanya Depok, pembangunan apartemen juga mulai merambah Bogor. Salah satunya, pembangunan apartemen di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Apartemen yang rencananya akan dibangun empat lantai ini hanya berjarak sekitar satu kilometer dari kampus Institut Pertanian Bogor (IPB).

Proses pembangunan apartemen sudah berjalan satu tahun. Rencananya, akhir tahun ini apartemen tersebut akan selesai. Luas tanah apartemen yang menyasar mahasiswa ini mencapai 7 ribu meter persegi. "Saat ini, baru 50 persen proses pembangunannya, kamar yang disediakan oleh pengelola sebanyak 500 kamar," ujar Auning (45), salah satu petugas apartemen.

Menurut dia, meski pembangunan apartemen belum selesai, seratus persen sudah dipesan konsumen. “IPB sudah pesan satu tower atau sebanyak 128 kamar. Sedangkan, kamar yang lainnya sudah dipesan oleh masyarakat,” ujarnya menambahkan.

Pengamat Properti Ali Tranghanda mengatakan, saat ini apartemen memang menjadi motif investasi. Menurut dia, banyak mahasiswa yang berasal dari luar kota. “Jadi ini transformasi. Kalau dulu kan landed housing. Karena sekarang harga tanah semakin tinggi indekos bertransformasi ke vertical. Memang pasar itu sangat besar,” ujar Ali kepada VIVA.co.id, Jumat 31 Maret 2017.

Ia mengatakan, banyak pengembang yang membangun apartemen di dekat kampus karena melihat peluang ekonomi. “Investor akan melihat ini sesuai lagi apa enggak. Ketika pasar besar itu akan besar. Dia bisa sewain lagi enggak, gitu, Karena permintaannya besar. Jadi bukan hunian, untuk dijadikan sebagai kos-kosan. Jadi memang orang atau investor masuk ke sana sebagai objek investasi bukan untuk hunian,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch ini menambahkan.

Pakar Tata Ruang Kota, Yayat Supriatna, mengungkapkan maraknya apartemen di dekat kampus tak hanya terjadi di Jakarta. Menurut dia, gejala serupa juga terjadi di kota lain seperti Malang dan Yogyakarta. “Sebetulnya ini kaya universitas yang konsepnya seperti pemukiman,” ujar Yayat kepada VIVA.co.id, Jumat 31 Maret 2017.

Menurut dia, fenomena ini sebetulnya menarik. Karena bisa membantu efisiensi biaya transportasi dan kegiatan. Selain itu, kehidupan kampus juga bisa lebih kondusif dengan pendidikan berbasis riset. Karena, mahasiswa bisa mengakses kampus selama 24 jam, bukan hanya saat jam belajar. “Jadi kampus yang tumbuh kembang menjadi sebuah kegiatan, kegiatan ekonomi, kegiatan sosial, maupun kegiatan lainnya,” ujarnya menambahkan.

Ia menyarankan, ada semacam integrasi kegiatan pembangunan apartemen dengan kegiatan di kampus. Jadi ada kerja sama antara pengembang dan pihak kampus. “Jadi konteksnya itu memang membangun rumah susun atau apartemen untuk menunjang pendidikan, bukan komersial semata,” ujarnya berharap.

Yayat menilai, kampus menjadi sasaran karena pengembang melihat dari perspektif bisnis. Pengembang menganggap, mahasiswa yang kuliah di kampus besar dan terkenal berasal dari kelas menengah baru di Indonesia. “Sekarang orang bisa kuliah di UI, ITB, UGM dan universitas terkemuka baik swasta atau negeri, itu rata-rata biaya kuliahnya sudah sangat tinggi. Artinya sasaran mereka memang kalangan menengah yang memang mampu,” ujarnya.

“Sekarang kalau di Bandung, ITB atau di universitas terkemuka baik negeri atau swasta, itu kesulitannya bukan mencari tempat tinggal untuk kos, tetapi mencari tempat parkir buat mobil.”

Selanjutnya...Bisnis Menggiurkan

TUTUP