TUTUP
TUTUP

Gadget Vs Permainan Tradisional

Mana lebih baik untuk sang buah hati?
Ilustrasi anak bermain ponsel.

VIVA.co.id – Hampir tiga jam Alin terlihat asyik dengan smartphone-nya. Aiman adiknya yang masih berusia dua tahun pun ikut nimbrung menyimak apa yang dilakukan kakaknya.

Ternyata Alin dan Aiman menonton film animasi Upin Ipin lewat YouTube. Sesekali mereka terlihat tertawa dan mengomentari film.

Sang bunda, Intan Aini (34) mengaku saat ini kedua buah hatinya memang gemar menonton tayangan favoritnya lewat YouTube.

"Karena masih kelas satu SD, Alin belum banyak kegiatan. Makanya sampai rumah dia senang menonton film kartun dari HP, biasanya saya batasi. Pokoknya paling lama tiga jam," ujarnya kepada VIVA.co.id.

Sementara itu, Wulan (30) memiliki permasalahan yang sama dengan Intan. Sarah, putrinya yang berusia 10 tahun tak bisa lepas dari gadget. Hobinya main game kerap membuat ia dan suaminya geleng-geleng kepala.

"Dahulu waktu masih kelas satu sampai kelas dua, setiap hari pasti Sarah main game. Kalau enggak dikasih suka tantrum, mengamuk dia. Apalagi sejak tahu cara download aplikasi," ujar Wulan.

Wulan mengeluhkan bahwa ia sering merasa kerepotan mengatur waktu Sarah bermain game. Akhirnya ia mencoba membatasi aktivitas bermain game hanya ketika weekend saja. Namun hal itu ternyata juga tidak menyelesaikan masalah. Ia dan suami mengaku pernah dibuat kesal lantaran Sarah sering ogah-ogahan kalau diajak pergi saat akhir pekan.

"Soalnya jatah dia main game memang hanya saat akhir pekan saja. Begitu ada acara, dia malas ikut lantaran merasa jatah main game jadi berkurang," ungkapnya.

Permasalahan serupa mungkin dialami hampir seluruh orangtua yang memiliki anak yang lahir di era generasi milenial. Semua serba canggih, teknologi berkembang dan mendominasi berbagai lini, hingga ke permainan anak-anak.

Sorot Permainan Tradisional Anak

Permainan tradisional anak-anak kini tergantikan dengan permainan yang serba modern. Kemajuan teknologi saat ini memengaruhi permainan anak-anak di masa sekarang. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Hingga tahun 1990-an, anak-anak masih senang bermain petak umpet, bentengan, galasin dan permainan sejenis yang melibatkan aktivitas fisik dan interkasi dengan teman-teman sebaya. Namun, kini anak-anak cenderung asyik menatap layar gadget.

Psikolog Annelia Saei Sani mengatakan bahwa teknologi mengambil andil yang besar terhadap permainan anak-anak.

"Dahulu kita main tahu bagaimana rasa atau tekstur rumput, pasir, tanah, dan lainnya. Sekarang, anak hanya tahu lewat gadget. Mereka tahu rumput itu berwarna hijau, tanah berwarna cokelat, tapi mereka tidak tahu bagaimana teksturnya," ujarnya.

Anne juga mengungkapkan, dari data tahun 2013 diketahui 70 persen anak usia 11-12 adalah pengguna smartphone. Sementara anak usia 14 tahun 90 persen. Dan, pada dua tahun terakhir, 56 persen anak usia 10-13 tahun memiliki ponsel.

Yang lebih mengejutkan, saat ini 25 persen anak usia 2-5 tahun sudah dibelikan gadget. Bahkan mereka sudah mengenal simbol dalam game terlebih dahulu sebelum mengenal huruf.

Itu artinya, anak-anak sejak usia balita sudah mengenal gadget dan mampu mengoperasikannya.

Selanjutnya, gadget vs permainan tradisional

TERKAIT
TUTUP