TUTUP
TUTUP

Kembalinya Kegembiraan Masa Kecil

Era teknologi, gadget jadi pilihan. Melupakan dolanan tradisional.
Sejumlah murid sekolah dasar memainkan permainan anak tradisional Maluku, Toki Gaba-gaba, di arena Pameran Hari Pers Nasional (HPN) dan Maluku Expo 2017, Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku

VIVA.co.id – 

Yo pro konco dolanan ning jobo
Padang bulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

Ayo kawan-kawan kita bermain di luar
Terangnya bulan, seperti siang hari
Bulan seperti memanggil-manggil
Mengingatkan untuk tidak tidur sore hari

Penggalan lirik lagu berbahasa Jawa itu begitu sederhana. Pilihan katanya mudah dinyanyikan anak-anak di masa itu.  

Berisi ajakan untuk bermain dan berkumpul bersama. Ruang terbuka jadi pilihan. Tujuannya tak lain adalah kegembiraan.
 
Ya, bermain adalah dunia gembira. Sebuah ajang kebersamaan untuk berbagai ruang bahagia. 

Harapan itu sepertinya yang ingin dicapai lewat ajang pameran dan gelar permainan tradisional yang dihelat di Bendara Budaya Jakarta. Mengajak masyarakat untuk menengok dan menyelami kembali ruang gembira lewat permainan anak.

General Manager Bentara Budaya Jakarta, Frans Sartono, dalam materi pengantar pameran bertajuk "Menyelami Kegairahan Masa Kecil" itu menilai, perubahan zaman telah meminggirkan permainan tradisional anak. 

"Boleh dikatakan, permainan anak ini sebagai kekayaan budaya yang nyaris punah," tulis Frans dalam pengantarnya.   

Dan, harapan itu pun sepertinya ingin terus diwujudkan, di saat permainan modern menggempur, seiring pesatnya perkembangan teknologi. Tak ayal, dalam pameran yang berlangsung selama sepekan, 22-28 Februari 2017, ratusan permainan tradisional dipamerkan.

Penyelenggara berharap antusiasme pengunjung untuk "kembali" ke masa kecil. Menyelami kembali kegairahan bermain, berkumpul, dalam ikatan kebersamaan. 

Bagi anak-anak di masa sekarang, tentu saja harapannya adalah mengenal ribuan mainan tradisional di Tanah Air. Tak hanya mengenal, tapi juga memainkannya.

Seperti terlihat pada Selasa 28 Februari 2017. Siang itu, bangunan seluas lapangan futsal sudah ramai dengan puluhan anak. Mereka berkejaran dan berlarian. Berteriak riang. 

Sepatu mereka berdentum dan berdecit, saat beradu dengan lantai keramik berwarna kecokelatan di bangunan itu. Suasana ceria tampak di wajah mereka.  

Mereka asyik bermain. Ada juga yang berkelompok di sudut ruang. Suasana riang itu seakan ingin menghidupkan kembali keceriaan yang pernah terjadi di usia mereka, di masa lalu. 

Tak hanya anak-anak, pengunjung dewasa pun cukup antusias. Mereka mencoba untuk memainkan sebagian dari ratusan koleksi mainan tradisional. Mulai dari gasing, perahu klotok, congklak, bakyak, hingga egrang bambu.

“Saya sengaja datang ke sini. Kebetulan ini hari terakhir (pameran). Hitung-hitung bernostalgia dengan permainan masa kecil dulu,” kata Triwiyanti (38 tahun) kepada VIVA.co.id.

Saat itu, ia tengah memainkan congklak. Sambil meraup beberapa biji congklak, Triwiyanti mengisi lubang-lubang kosong di papan congklak di hadapannya. 
 
Perempuan yang tinggal di bilangan Tebet, Jakarta Selatan itu mengaku bahwa permainan tradisional anak-anak seperti congklak, gasing, hingga lompat karet, langka ditemukan saat ini. 

Semakin pesatnya teknologi, disinyalir berdampak pada munculnya permainan-permainan anak yang lebih modern.
 
“Ini asyik kok, tidak membosankan lah memainkannya. Bisa mengenang masa lalu," tuturnya. 

Sorot Permainan Tradisional Anak

Di masa kecilnya, ia memainkan permainan congklak itu dengan teman-teman sebaya. Namun, sekarang, anak-anak sudah jarang yang memainkan permainan itu. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Menurut dia, permainan tradisional lebih alami. Dapat dimainkan dengan riang dan mampu mengasah kreativitas anak. "Lebih have fun daripada main di gadget,” kata perempuan yang akrab disapa Yanti itu.
 
Hanya saja, ia tetap menyayangkan minimnya antusiasme masyarakat yang datang mengunjungi Pameran dan Gelaran Dolanan Nusantara itu. Di saat maraknya serbuan permainan anak yang jauh lebih modern seperti games online hingga playstation

Meskipun, menurut salah satu relawan pameran itu, Sintia Ramadani, sejak hari pertama dibuka hingga sepekan kemudian, jumlah pengunjung sudah lebih dari 250 orang. Jumlah itu di luar pengunjung yang berasal dari sekolah-sekolah yang berada di sekitar Jabodetabek. 

Menurut dia, selama digelarnya pameran permainan tradisional anak itu, tidak kurang dari delapan sekolah sudah datang membawa siswa-siswanya yang rata-rata memiliki usia 3-12 tahun.
 
“Kalau antusias pengunjung itu sudah termasuk lumayan ramai lah Mas, ada orang tua membawa anak-anaknya. Anak-anak senang bermain dengan permainan tradisional yang ada di sini,” kata Sintia kepada VIVA.co.id, Selasa 28 Februari 2017.

Selanjutnya, mulai terlupakan

TUTUP