TUTUP
TUTUP

Menunggu Pemilik Baru Tahta Negara Adidaya

Hillary Clinton dan Donald Trump memiliki kebijakan yang berbeda.
Amerika Serikat akan memilih pemimpin baru untuk menggantikan Barack Obama yang telah memimpinĀ AS selama 8 tahun.

VIVA.co.id – Negara adi daya, Amerika Serikat, akan memiliki pemimpin baru. Presiden saat ini, Barack Obama sudah waktunya lengser setelah memimpin AS selama delapan tahun. Obama sudah dua periode, dan menurut konstitusi AS dia tak boleh dipilih lagi. 

Dua calon presiden dengan kesempatan  paling kuat sudah terpilih dari dua partai yang ada di Amerika. Hillary Clinton dari Partai Demokrat, dan Donald Trump dari Partai Republik. Sejak awal penjaringan kandidat, posisi Trump dan Clinton sudah terlihat sama kuat. Keduanya tersaring setelah berhasil menyisihkan rekan partainya. 

Sejak awal sah menjadi calon Presiden AS, kedua orang ini bergantian diterpa pemberitaan negatif. Berbeda dengan Clinton yang hanya diterpa isu, Trump kerap membuat blunder dengan ucapannya sendiri. Mulai dari keinginannya melarang Muslim masuk ke AS, menghina Meksiko dan akan membangun perbatasan dengan Meksiko, memuji-muji Putin, dan mengaku akan mendekat dengan Rusia jika terpilih jadi Presiden AS. Sementara kasus paling kuat yang menerpa Hillary Clinton hanyalah soal penggunaan email pribadi yang pernah dia lakukan saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. 

Capres Amerika Serikat, Donald Trump

Donald Trump, Calon Presiden AS dari Partai Republik. (REUTERS)

Kisah Trump semakin memanas saat rekaman video sebuah acara televisi pada tahun 2005 beredar ke publik. Dalam rekaman itu, terdengar Trump mengatakan bahwa ia bisa melakukan apapun pada seorang perempuan, bahkan tanpa meminta ijin pada mereka. Rekaman yang beredar satu minggu sebelum Debat Kandidat Ketiga, yang dilakukan pada tanggal 19 Oktober 2016, ternyata memberi pengaruh signifikan pada kandidat dari Partai Republik itu. Jika sebelumnya terjadi saling kejar perolehan elektabilitas antara Clinton dan Trump, kasus ini membuat elektabilitas Clinton secara stabil naik dan meninggalkan Trump, meski hanya sedikit.

Hajatan besar rakyat Amerika itu akan digelar pada 8 November mendatang. Tak hanya rakyat Amerika yang menunggu babak akhir dari gelaran nasional itu, namun seluruh dunia menunggunya. Indonesia juga menunggu siapa kandidat yang menempati singgasana utama Amerika.  Dari hasil debat kandidat, kebijakan luar negeri Trump dinilai akan membawa Amerika menjadi lebih tertutup. Sementara, kebijakan luar negeri Hillary Clinton, diyakini akan melanjutkan apa yang sudah dilakukan Obama.

Pengamat Politik Internasional, Arya Sandhiyudha Ph.D mengatakan, kebijakan Hillary Clinton terlihat lebih intervensionis.  “Pendekatannya  lebih agresif dalam panggung internasional. Ia akan menekan Eropa untuk jatuhkan sanksi baru ke Rusia terkait Ukraina. Mendesak  zona bebas terbang di Suriah. Mengancam penjatuhan sanksi ke Iran apabila membatalkan kerja sama nuklir dengan AS. Mendukung operasi militer di Iraq dan Libya. Begitupun di Asia Pasifik dan ASEAN, kebijakan rebalancing atas China akan dijadikan fokus,” ujar Arya kepada VIVA.co.id, Rabu, 2 November 2016.

Sementara Donald Trump, menurut Arya akan lebih isolasionis. “Trump kemungkinan akan mengevaluasi ragam perjanjian perdagangan dengan negara-negara Asia dan Amerika Latin. Ia juga akan meninjau ulang kontribusi di North Atlantic Treaty Organization (NATO). Siap beraliansi dengan Rusia. Mendorong negara aliansi AS seperti Korea Selatan dan Jepang untuk mandiri  dan mengembangkan senjata nuklir. Artinya, Trump menolak ide AS musti berperan sebagai pemimpin yang menjamin stabilitas internasional,” ujar Direktur Eksekutif Madani Center for Development and International Studies (MaCDIS) ini menambahkan. 

Dampak bagi Indonesia

Menurut Arya, sikap politik yang berbeda antara keduanya jelas akan berpengaruh pada Indonesia. Arya menilai, hal paling berpengaruh adalah usulan AS soal Trans Pacific Partnership (TPP). Arya mengatakan, upaya AS meningkatkan kekuatan poros di Asia Tenggara, seperti, penggalangan Vietnam, Malaysia, Singapura, Brunei untuk bergabung pada inisiatif TPP. 

“Tentu semua  berpotensi pada krisis atau tumbuhnya ekonomi dan perbaikan aspek politik-keamanan AS dengan China. Secara tidak langsung Indonesia akan terdampak. Entah Trump akan segigih apa mendekati Indonesia, Filipina, dan Singapura, namun ia akan menimbang dalam hitungan untung rugi bagi AS,” katanya menjelaskan.

Capres Amerika Serikat, Hillary Clinton

Hillary Clinton, Calon Presiden AS dari Partai Demokrat. (REUTERS)

Arya yakin, Hillary akan melanjutkan inisiatif seperti TPP yang telah sukses merangkul empat anggota ASEAN (Brunei Malaysia Singapura Vietnam). “Akselerasi terhadap negara-negara ASEAN akan dipantau China sebagai potensi aksi kolektif anti China. Posisi Indonesia akan sangat menentukan bagi AS ataupun China. Ini dilematis bagi Indonesia, karena AS, Jepang, Australia yang ada di TPP adalah tiga negara mitra utama ASEAN.” 

Sementara untuk urusan ekonomi, pengamat ekonomi Josua Pardede menilai, dalam hal ekonomi, Hillary mendapatkan respon yang lebih positif dibandingkan Trump. “Donald Trump ini kebijakannya justru akan bertolak belakang. Dia akan membuat pembatasan terhadap ekonomi global dan juga akan menambah beban hutang. Kebijakan ekonomi seperti itu akan membuat rasio pajak diturunkan,” ujar Josua saat dijumpai VIVA.co.id, Rabu, 2 November 2016.

Ekonom Bank Permata ini juga mengatakan, pelaku pasar lebih condong ke Hillary karena ia dianggap akan meneruskan kebijakan Obama. Sementara Trump dinilai berpotensi untuk membuat ekonomi Amerika Serikat terpuruk. “Jika saja Donald Trump menang dan dia mengimplementasikan kebijakan-kebijakan tersebut nanti mungkin saja peringkat Amerika bisa turun karena itu kan dia harus tambah hutang lagi. Karena defisit semakin besar, maka ekonomi Amerika juga tidak semakin membaik, tidak kondusif,”  katanya menjelaskan.

Jika ekonomi AS tidak kondusif, bisa berefek panjang karena hingga saat ini perekonomian AS masih menjadi barometer perekonomian seluruh dunia.

Berbeda dengan kekhawatiran jika Trump terpilih, menurut Josua, kemenangan Hillary tak akan membawa perubahan ekonomi global secara siginifikan. Dan itu akan berbeda jika yang memenangkan Pemilu AS adalah Donald Trump. Josua menjelaskan, AS adalah motor ekonomi dunia, makanya pada saat ekonomi Amerika melemah akan membebani ekonomi secara global. Dan pasti akan berdampak juga nantinya ke ekspor kita ke Amerika. Jika ekspor melemah, ekonomi Indonesia juga akan melemah, dan tak bisa setinggi yang pemerintah harapkan kalau Donald Trump yang menang.

“Tapi kalau Hillary Clinton yang menang ini saya pikir akan direspon cukup positif, karena tidak ada kebijakan yang berbeda dibandingkan dengan Barrack Obama,” ujarnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menolak berkomentar panjang soal dampak ekonomi Presiden AS terpilih. “Tergantung siapa yang menang, dan bagaimana kebijakan ekonominya. Saya kira tak akan beda banyak,” ujarnya kepada VIVA.co.id, saat ditemui di Balai Kartini Jakarta, Kamis 3 November 2016.

Komentar senada disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo. Ia memilih menunggu hasil presiden terpilih. “Belum terjadi, nanti saja kalo terjadi. Kita mikir yang disini dulu,” ujarnya singkat.

Tak Bergeser

Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia, Brian McFeeters mengatakan, secara umum, tak akan terjadi perubahan yang signifikan pada hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, siapapun yang nanti menjadi Presiden Amerika Serikat. AS secara umum, menurut McFeeters, memiliki kerja sama yang kuat dengan Indonesia. Apalagi dalam hal menanggulangi terorisme, juga dalam perekenomian.

"Pada dasarnya kerja sama dengan Asia dan Indonesia itu sangat kuat. Contohnya seperti melawan terorisme, juga dalam perekonomian, Secara umum hubungan bilateral tidak berubah. Ini adalah bentuk apresiasi kita kepada Indonesia dan Asia," kata McFeeters, dalam acara diskusi di Kedutaan Besar AS di Jakarta, Rabu, 3 November 2016.

Misalnya saja dalam hubungan kerja sama militer, McFeeters mengaku baru saja kembali dari Manado untuk menyaksikan latihan Angkatan Udara Indonesia dan Amerika. Latihan bersama yang bersandi "Cope West" ini merupakan pertama kalinya, dalam kurun waktu 19 tahun terakhir. Menurutnya, ini adalah salah satu contoh dalamnya kerja sama militer kedua negara. Selain itu ada juga latihan militer Pacific Partnership di Padang.

"Kita bangga menjadi partner utama Indonesia di bidang militer," kata McFeeters.

Meski kalkulasi siapa yang akan terpilih sebagai Presiden AS masih belum jelas, namun Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI,  Muhammad Anshor, mengaku tetap optimis. Dalam konteks menghadapi hasil Pemilu AS, Anshoor mengatakan, Indonesia perlu tetap optimis dalam melihat peluang peningkatan hubungan dengan AS di bawah presiden terpilih nanti. Baik dengan Hillary atau Trump, Indonesia tetap memiliki posisi yang menguntungkan di mata kedua kandidat. 

“Bagi Hillary, Indonesia merupakan mitra tradisionalnya di ASEAN. Sedangkan bagi Trump hubungan baik dengan Indonesia dapat menolong Trump memulihkan citranya di mata dunia Islam,” ujarnya saat ditemui oleh VIVA.co.id di Jakarta, Rabu, 2 November 2016.

Muhammad Anshor menilai, kehadiran AS dipandang berpengaruh terhadap stabilitas regional di kawasan Asia. Ia justru meminta Indonesia mencermati hubungan AS dengan negara lain. “Hal yang perlu dicermati oleh Indonesia adalah dinamika hubungan AS-India, AS-China dan AS-Korea Selatan-Korea Utara. Dinamika hubungan AS dengan sejumlah negara di Asia tersebut akan membawa dampak bagi Indonesia,” ujarnya menambahkan.

Siapa presiden baru AS baru akan ketahuan pekan depan. Namun perhitungan ekonomi, politik, dan militer atas kehadiran presiden baru itu dan hubungannya dengan Indonesia tetap perlu diperhitungkan. Antara Hillary Clinton dan Donald Trump memiliki kebijakan yang sangat berbeda, sehingga dampaknya juga akan sangat berbeda. 

(mus)
 

TERKAIT
TUTUP