TUTUP
TUTUP

Kultur Mistis Penyubur Padepokan

Kentalnya budaya mistis dinilai menjadi pemicu munculnya padepokan
Kapolres Probolinggo mengecek kuburan di kompleks Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Foto: VIVA.co.id/Nur Faishal

VIVA.co.id – Siang menjelang ketika sosok perempuan berparas cantik masuk ke halaman Polda Metro Jaya, Jakarta. Baju gamis cokelat muda yang dipadupadan dengan jilbab merah siang itu membuat wajah Elma seolah bercahaya.

Rabu, 21 September 2016, aktris kelahiran 3 Oktober 1974 ini kembali memenuhi panggilan polisi. Pemilik nama lengkap Elma Theana ini memang menjadi saksi kunci kasus dugaan pelecehan seksual, penggunaan narkoba dan kepemilikan senjata api milik Gatot Brajamusti, ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI).

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Elma. Ia terus menggenggam erat tangan Ina Rachman, pengacaranya. Hari itu, pemeriksaan terbilang lama. Setidaknya selama lima jam Elma dimintai keterangan oleh penyidik Kepolisian. Saat hari menjelang sore, Elma baru terlihat keluar dari ruangan. Namun, ia irit berbicara.

"Saya hanya mengenal mereka (korban Aa Gatot). Saya tidak melihat (pelecehan seksual)," ujarnya singkat.

Pelarian Elma

Sembilan tahun silam, tepatnya sejak tahun 2002-2011, Elma berguru di padepokan Aa Gatot. Padepokan tersebut yang mengenalkan kerudung kepadanya hingga kini itu. Elma mendaulat Aa Gatot atau Gatot Brajamusti sebagai guru spiritualnya. Perlakuan Gatot yang mengayomi, membuatnya bisa melupakan retaknya biduk rumah tangganya yang hancur usai bercerai setelah lima tahun menikah dengan seorang seniman kaligrafi bernama Fary Indarto.

Untuk itu, apa pun yang dititahkan Gatot, termasuk penggunaan Aspat yang disebut makanan jin dan belakangan terungkap ternyata sabu-sabu pun dilakoni Elma. Namun, keluguan itu yang menjerumuskan Elma begitu dalam di padepokan Aa Gatot.

"Saya merasa ada sesuatu masuk ke badan saya. Kayak ada jin masuk ke badan saya. Tapi begitu habis, ibadah berkurang, zikir tidak seperti kemarin (bersemangat)," ujar Elma mengenang Aspat atau makanan  jin milik Gatot Brajamusti.

Gelap mata itulah yang akhirnya  membuat Elma nekat menerabas peringatan keluarganya tentang kejanggalan sosok Gatot. Bagi Elma, Aa Gatot adalah segalanya. Ia beragama, punya ilmu gaib dan bisa menyembuhkan masalah yang sedang menerpa Elma saat itu.

"Sembilan tahun nggak pulang, meninggalkan keluarga, anak, suami. Ya itu kesalahan saya," ujar Elma dalam sebuah pengakuannya yang diunggah di akun youtube miliknya pada 1 September 2016.

Reza Artamevia diperiksa polisi terkait senjata api milik Gatot Brajamusti

Penyanyi Reza Artamevia menuju ruang pemeriksaan setibanya di Resmob Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/9/2016). Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja

Petaka Reza

Elma tak sendiri, koleganya sesama artis Reza Artamevia juga berguru di padepokan yang sama. Hampir dua belas tahun lalu, tepatnya pada tahun 2005. Biduk rumah tangga penyanyi terkenal Reza Artamevia kandas karena bercerai dengan aktor tampan Adjie Massaid.

Sejak itu Reza limbung dan dikabarkan sempat depresi apalagi saat itu Reza dan almarhum Adjie Massaid telah dikarunai dua orang putri.

Lalu tiba-tiba Reza pun menghilang. Keluarga dan rekan kebingungan karena tak menemukan Reza dimana pun. Ia bahkan sempat hampir dilaporkan ke polisi karena dianggap telah diculik. Namun akhirnya laporan itu batal.

Karena Reza muncul di sebuah padepokan di Sukabumi Jawa Barat. Penampilannya berubah, ia berkerudung dan ditemani oleh seorang pria. Lelaki itulah yang kemudian dikenal sebagai Gatot Brajamusti. Pemilik padepokan yang kemudian dipercaya sebagai guru spiritual Reza Artamevia.

Apalagi, saat itu memang ada salah satu muridnya yang juga artis yakni, Elma Theana. Ia disebut sudah hampir tiga tahunan berguru di padepokan itu. Terhitung sejak itu, Reza pun memilih meninggalkan dunia keartisannya. Dan selama dua tahun berjalan. Rupanya kekhusyukan Reza di padepokan Aa Gatot berhasil memulihkan kepercayaan dirinya.

Tepat tahun 2007, ibu dari Zahwa dan Aaliyah ini pun kembali bersinar. Ia kembali ke dunia keartisannya dan tentunya tetap didampingi sang guru spiritual Aa Gatot.

Bahkan, bukti kepercayaan diri Reza Artamevia pun diwujudkan dengan terpilihnya ia sebagai 50 penyanyi terbesar di Indonesia pada tahun 2009. Album yang dirilisnya dengan nama The Voicer membawa nama Reza Artamevia kembali melambung di blantika musik Indonesia.

Namun, kini kisah itu seketika lebur ketika di ujung September 2016. Petaka terjadi, yakni saat polisi menggerebek Gatot Brajamusti bersama istri ketiganya Dewi Aminah dan Reza Artamevia di sebuah hotel. Gatot, Reza dan sang istri tertangkap sedang menggelar pesta narkoba. Kepolisian pun bergerak cepat. Barang bukti berupa sabu-sabu dan hasil tes urine membuat Gatot tak bisa berkelit.

Ia pun ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan narkoba oleh Kepolisian Resor Mataram pada Selasa, 30 Agustus 2016 atau dua hari usai penobatannya menjadi Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) untuk kedua kalinya.

Penangkapan itu pun membongkar sosok Aa Gatot dan padepokannya. Ternyata tak cuma narkoba, Gatot pun tersandung dugaan kepemilikan senjata api, penyimpanan satwa langka dan terakhir yang paling fenomenal adalah dugaan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Setidaknya kini sudah ada delapan orang yang mengaku menjadi korban Gatot Brajamusti. Dan konon jumlah itu belum seluruhnya. Sebab dari pengakuan pelapor, ada puluhan anak bawah umur yang pernah menjadi korban pelecehan seksual Gatot.

Dan ironisnya, seluruh korban Gatot itu juga dicekoki Aspat atau sabu-sabu yang menjadi andalan Gatot untuk merayu para korbannya. "Sejauh ini ada delapan laporan yang masuk ke kita. Bahkan informasi aduan yang masuk itu ada puluhan, tetapi yang sudah terverifikasi ada delapan," kata Komisi Perlindungan Anak Indonesia Asrorun Ni'am.

Kejahatan Kultural

Menurut Sosiolog Universitas Indonesia, Ganda Upaya, kultur budaya orang Indonesia diakui memang masih kental dengan nilai agama dan budaya mistis. Hal ini yang kemudian menjadi awal mula masalah untuk kejahatan budaya kultural, salah satunya lewat kemunculan padepokan-padepokan penipu yang bertabir keagamaan dan kebudayaan.

Orang Indonesia, kata Ganda, akhirnya dengan mudahnya mempercayai apa yang dijual oleh kelompok yang berbau agama atau pun hal yang bersifat mistis dan di luar nalar.

Untuk itu, fenomena kepercayaan itu bisa ditemukan hampir di setiap sudut Indonesia. Beberapa pengikut melakukan secara sadar dan beberapa lain lantaran  karena putus asa dan tidak memiliki pengetahuan keagamaan atau umum yang memadai. "Ketika mengalami kesulitan, orang ingin berubah dengan jalan pintas," kata Ganda, Jumat, 14 Oktober 2016.

Di Jawa Timur, munculnya padepokan bernama Dimas Kanjeng pimpinan Taat Pribadi. Menjadi bukti bahwa padepokan berkedok keagamaan begitu mudahnya masuk ke masyarakat.

Ribuan orang pun percaya kelompok yang disebut kerap menggelar pengajian dan sedekah bagi orang miskin ini akan bisa menuntaskan masalah mereka. Kepercayaan bahwa pimpinan padepokan Taat Pribadi memiliki karomah karena bisa menggandakan uang pun menjadi motif ribuan pengikut kelompok ini.

Kondisi serupa pun terjadi di Depok Jawa Barat yang dilakoni padepokan bernama Satrio Aji Danurwenda. Motif awalnya serupa dengan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yakni berkedok keagamaan dan ditujukan untuk meraup kekayaan sesaat. Para korban pun ditanamkan kepercayaan bahwa pimpinan Padepokan Satrio Aji ini bisa memberikan kekayaan dan kepercayaan diri. Mediumnya dengan cara menjual sejumlah benda-benda klenik kepada para pengikutnya.

Kemudian, Padepokan milik Gatot Brajamusti di Sukabumi Jawa Barat. Bermotif dengan menjanjikan pengikutnya ibadah keagamaan dan sedikit iming-iming soal ketenaran lantaran pimpinan padepokannya seorang artis. Padepokan milik Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) ini pun berhasil membius pengikutnya. Lelaki ini pun dipercaya memiliki ilmu agama tinggi dan yang lebih konyolnya lagi ia bisa menjadi jin yang konon diakui pengikutnya bisa mencabut nyawa mereka yang membangkang.

"Orang itu kalau mendengar bahasa padepokan itu luar biasa loh. Mereka masuk sana itu dianggap hebat, karena pemimpinnya ini diyakini adalah orang yang hebat," kata Ganda.

Oleh karena itu, kata Ganda, wajar adanya ketika para pengikut tidak bisa berbuat apa-apa ketika tahu mereka diperdayai. Pengkultusan pemimpin mereka membuat para korban akhirnya memilih berdiam diri dan menyimpan apa yang mereka alami.

Hal senada disampaikan Arthur Josias Simon. Kriminolog Universitas Indonesia ini mengatakan, kejahatan yang dilakukan oleh ketiga pimpinan padepokan yakni, Taat Pribadi, Satrio Aji dan Gatot Brajamusti memang kejahatan kultural. Ketiganya menggunakan nilai-nilai yang ada di tataran masyarakat menjadi dasar awal muslihat yang hendak dibangun. Sikap orang Indonesia yang begitu mempercayai hal yang berbau mistik pun menjadi pintu masuk penting.

Tak ayal, padepokan-padepokan yang memiliki maksud untuk mengakomodasi nilai-nilai ketenangan, kenyamanan, ketenteraman dan tidak materialistik pun menjadi magnet kuat untuk merekrut pengikutnya.

"Di awal mungkin saja baik (padepokannya). Tapi dalam perkembangannya itu disalahgunakan oleh pemilik atau ada penyimpangan-penyimpangan," kata Arthur.

Emas batangan barang bukti penipuan Dimans Kanjeng

Polisi menunjukkan barang bukti berupa emas batangan dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi ketika ungkap kasus di Mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat

Butuh Peran Ulama

Padepokan Dimas Kanjeng, Satrio Aji dan Gatot Brajamusti telah menjadi fenomena hangat di Indonesia. Ketiganya terbukti menipu. Ada yang menawarkan kekayaan dan ada juga yang menawarkan kesenangan dengan penggunaan narkoba.

Menurut Arthur, penyelesaian masalah munculnya kasus penipuan bermodus padepokan ini memang pelik. Selain para korbannya yang enggan melapor dan terbuka. Secara eksternal, kelompok ini memang menutup diri dari lingkungan masyarakat.

Mereka cenderung menempatkan kelompoknya di tempat terpencil atau sulit dijangkau. Sehingga sulit dicium publik. Kalau pun ada masalah itu akan muncul ke permukaan ketika ada ketidakpuasan di dalam kelompok tersebut.

Arthur mencontohkan kasus Padepokan Dimas Kanjeng dan Satrio Aji. Dimana terbongkarnya praktik penipuan ini justru karena ada kasus pembunuhan terhadap pengikutnya. Jika saja tidak ada kasus itu maka akan sulit muncul ke permukaan.

Ia menyarankan agar publik mewaspadai setiap munculnya kelompok seperti itu kepada masyarakat. "Masyarakat harus mencari informasi sebanyak mungkin sebelum masuk ke dalamnya. Selain itu butuh pengawasan lembaga pemerintah termasuk masyarakat," katanya menambahkan.

Tak cuma itu, mengingat munculnya kasus penipuan padepokan ini bermotif keagamaan. Maka seharusnya juga membutuhkan peran pemuka agama untuk memproteksi ini kepada masyarakat. Terkhusus untuk agama Islam misalnya, perlu diperkuat bahwa hal-hal yang berbau janggal di luar ajaran Islam harus diawasi. Entah itu berkaitan dengan kekayaan secara cepat seperti yang ditawarkan Padepokan Dimas Kanjeng dan Satrio Aji.

Atau juga mungkin yang berkaitan dengan unsur ketenangan seperti Padepokan yang dipimpin oleh Gatot Brajamusti. "Ulama-ulama kita juga harus bicara menjelaskan kepada masyarakat.Bahwa tidak ada kesuksesan itu didapat dengan cara cepat."

Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj. Ia mengatakan, pimpinan padepokan-padepokan itu tak lebih sebagai Khowas, yakni orang yang mengaku dirinya seperti Tuhan.

Ia menegaskan, Islam tidak pernah mengajarkan hal itu. "Masyarakat jangan mudah dibohongi seperti itu. Pengawasan di padepokan-padepokan harus ditingkatkan," ujarnya.

(mus)

TUTUP