TUTUP
TUTUP

Heboh Padepokan 'Tipu-tipu'

Simak sepak terjang Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti bikin padepokan.
Polisi menunjukkan barang bukti dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi di mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat

VIVA.co.id – Matahari mendekati ufuk barat. Langit mendung tipis selimuti dusun terpencil di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kala itu, Rabu sore, 12 Oktober 2016.

Dusun itu letaknya di perbatasan Desa Wangkal dan Gading. Namanya, Dusun Cengkelek. Daerah tersebut beberapa hari terakhir sudah jadi pusat perhatian. Awalnya cuma jadi sorotan masyarakat lokal, kemudian jadi perhatian jurnalis nasional, dan kini sudah masuk pemberitaan media massa internasional.

Bukan tanpa sebab dusun kecil itu jadi populer. Seorang warga di sana, Taat Pribadi (46 tahun), tiba-tiba jadi magnet pemberitaan saat padepokan yang diasuhnya digerebek polisi pada 22 September 2016 lalu. Padepokan Dimas Kanjeng, itulah namanya.

Padepokan itu berdiri di atas lahan yang berada di dua desa, yakni Desa Wangkal dan Gading. Lokasinya terbilang pencil. Ada empat jalan kecil menuju ke sana, yakni melalui Kecamatan Pajarakan ke selatan, Jalan Semampir atau Jalan Gus Dur di Kecamatan Kraksaan, dan terakhir bisa lewat Paiton.

Butuh sekira lima puluh menit perjalanan untuk sampai di lokasi dari Jalan Raya Kraksaan (Probolinggo)-Situbondo. Sampai di Desa Wangkal (juga kota Kecamatan Gading), ada dua jalur masuk ke area Padepokan. Jalur selatan dan utara. Di setiap mulut jalur berdiri gapura cokelat bertuliskan Padepokan Dimas Kanjeng.

Dari pusat desa, pengikut atau pengunjung membutuhkan waktu tak sampai lima menit tiba di area Padepokan. Sampai di lokasi, gapura serupa berdiri menjadi pintu sebuah lahan kosong sebagai parkir kendaraan. Seratus meter dari parkiran, di situlah pintu gerbang utama padepokan berada.

Di mulut padepokan, pos penjagaan berdiri. Menurut warga setempat, pos ini biasanya dijaga oleh para pengikut Dimas Kanjeng. Ada lima bangunan atau gedung yang mencolok begitu masuk ke area dalam Padepokan. Gedung asrama putra, aula berdinding kaca, rumah lama Dimas Kanjeng, asrama putri, dan rumah utama nan megah Dimas Kanjeng.

Di sisi selatan bangunan utama itu, ada dua bangunan lagi berhalaman luas, yakni masjid, satu gedung serupa kantor tempat pengurus. Di sebelahnya ada lapangan olahraga. Sedangkan di sisi barat lahan kosong, jadi tempat para pengikut Dimas Kanjeng yang masih bertahan sekarang. Mereka mendirikan tenda-tenda dari terpal.

Padepokan itu berada di lahan sekira dua hektare. Area dalam padepokan seperti dibuat steril karena dikelilingi pagar setinggi kira-kira satu setengah meter. Hanya ada dua akses untuk masuk ke dalam area padepokan, yakni sisi selatan dan utara. Saat ini, akses itu ditutup dengan bambu dan dijaga polisi. 

Papan nama Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Papan nama Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Foto: VIVA.co.id/Nur Faishal

Tarik Pengikut

Dimas Kanjeng, demikian Taat dikenal, ditangkap karena disangka membunuh dua pengikutnya, Ismail Hidayah dan Abdul Gani. Belakangan, Taat juga dijadikan tersangka penipuan bermodus penggandaan uang. Pengikutnya disebut-sebut ada puluhan ribu orang. Mereka berasal dari berbagai provinsi di Tanah Air. Diperkirakan, uang penipuan yang berhasil dikumpulkan Dimas Kanjeng bernilai triliunan rupiah.

Ihwal Padepokan Dimas Kanjeng tidak ada data pasti bisa dijadikan rujukan sejak kapan berdiri. Setiap narasumber yang ditemui VIVA.co.id, punya cerita berbeda-beda.

Satu-satunya data tertulis yang bisa diperoleh ialah selembar kertas berisi Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI bernomor: AHU-3632.AH.01.Tahun 2012, tentang pengesahan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Surat Keputusan itu dikeluarkan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, ditandatangani oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum, Aidir Amir Daud, pada 13 Juni 2012. Surat dikeluarkan berdasarkan permohonan dari notaris bernama Ayu Marliaty pada 28 Mei 2012. Notaris itu disebutkan berkedudukan di Kabupaten Sidoarjo.

Camat Gading, Slamet, mengakui berkas SK Menkumham soal pengesahan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng tersebut. Dia juga membenarkan bahwa yayasan itu disahkan oleh pemerintah pada tahun 2012. “Tapi sebelum itu kegiatannya sudah ada,” kata Slamet saat berbincang VIVA.co.id, Kamis, 13 Oktober 2016.

Sekretaris Kecamatan, Sutrisno, menjelaskan SK Kemenkumham tersebut dia temukan di teras rumah utama Taat Pribadi kala penggerebekan dilakukan oleh ribuan personel polisi dari Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur dan Kepolisian Resor Probolinggo pada 22 September 2016 lalu. “Saya foto, lalu saya serahkan ke Pak Camat. Soal asli tidaknya SK itu, saya tidak tahu,” ujarnya.

Sutrisno tidak tahu sejak kapan aktivitas Padepokan Dimas Kanjeng berjalan. Dia baru dua bulan bertugas di Kecamatan Gading sebelum penggerebekan terjadi. Sebelumnya, Sutrisno bertugas di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Probolinggo. “Selama saya di Bakesbangpol, tidak ada yang mendaftarkan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng masuk,” ujarnya.

Dari seorang tokoh muda Desa Wangkal (selanjutnya disebut samaran Kamandanu), VIVA.co.id memperoleh cerita lebih rinci tentang sosok dan kegiatan seorang Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng. “Saya tahu Taat sejak saya masih kecil. Waktu saya masih kecil, Taat ini sudah SMA. Saya lupa tahunnya berapa,” kata pria yang namanya minta dirahasiakan.

Kamandanu menceritakan, sejak SMA, Taat memang dikenal sebagai pemuda yang suka mencari ilmu berkaitan hal gaib, atau bahasa warga sekitar “suka berguru”. Antara tahun 1990-an-awal 2000, Taat pernah menjadi Koordinator Yayasan Amalillah dan merekrut banyak klien di Desa Wangkal. Soal itu juga terkonfirmasi dari warga lain yang ditemui. “Tapi Pribadi (sebutan Taat Pribadi) bukan koordinator tinggi, masih tingkat bawah,” katanya.

Bersama empat temannya, Taat kemudian diketahui berguru kepada Abah Ilyas di Mojokerto. Saat itu, Taat kebingungan menanggung utang sekira Rp50 juta. Di Abah Ilyas, mereka juga tergiur iming-iming penggandaan uang. “Dari lima orang ini, hanya yang Pribadi yang cair Rp50 juta. Yang lain tidak,” katanya.

Pria bertubuh pendek itu ingat, kegiatan di Padepokan Dimas Kanjeng mulai ramai sejak 2006. Kala itu, area Padepokan Dimas Kanjeng tidak seluas seperti sekarang. Rumah Taat masih satu unit, yakni di samping rumah utama yang megah sekarang. Rumah asal Taat persis seperti foto beredar kala dia memamerkan uang, didampingi beberapa polisi memegang senjata. “Rumahnya masih itu,” ucapnya.

Sejak itu, kata Kamandanu, banyak orang luar Probolinggo berdatangan ke Desa Wangkal. Lama-lama, banyak lahan milik warga dibeli Dimas Kanjeng dan dipakai sebagai area padepokan. Waktu itu pengikutnya banyak yang indekos di rumah warga. “Ada yang sudah lama di sana sampai mau ditawari tidur di kandang, karena warga kasihan ke pengikutnya yang datang dan tinggal lama,” tuturnya.

Sejumlah pengikut Dimas Kanjeng bertahan di sejumlah tenda

Sejumlah pengikut Dimas Kanjeng bertahan di sejumlah tenda Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10/2016). Foto: ANTARA/Umarul Faruq

Cuma Tontonan

Kamandanu menyangkal berita-berita di banyak media bahwa warga sekitar semua diam karena “disuntik” kedermawanan Dimas Kanjeng. Kata Kamandanu, memang ada yang diberi semacam sedekah, tapi dipilih-pilih. “Kalau yang kritis dan selalu ngerasani, tidak diberi. Tapi ada juga warga yang menolak pemberian Taat, karena tahu itu uangnya pengikut,” ujarnya.

Bagi warga Desa Wangkal, menurut Kamandanu, Padepokan Dimas Kanjeng dan pengikutnya direspons sebagai tontonan atau hiburan saja. Warga cuek karena selama ini  Taat dan pengikutnya tidak pernah mengganggu ketentraman warga. “Malah kalau ada warga luar salat di masjid, terkadang ibu-ibu melarang orang yang mau ke sana, diingatkan agar tak ke padepokan. Tapi tetap nekat,” katanya.

Biasanya, para ‘Sultan’, sebutan bagi koordinator, yang biasa berbaur dengan warga sekitar. Mereka menceritakan tentang kesaktian Dimas Kanjeng. Para sultan bahkan menggambarkan Dimas Kanjeng selaik waliyullah. Bagi warga sekitar, cerita seperti itu sudah lama didengar dari para pengikutnya. “Ditanggapi saja, tapi warga sebetulnya tertawa,” ujarnya.

Pernah ada satu cerita pasangan suami-istri dari luar daerah hendak ke Padepokan Dimas Kanjeng. Sebelum ke lokasi, pasutri itu melaksanakan salat di masjid di Desa Wangkal. Jemaah wanita yang mengetahui tujuan pasutri itu lalu menasihati si istri agar tidak ke sana, karena iming-iming penggandaan uang yang dijanjikan sebetulnya semu. “Si istri kemudian melarang suaminya. Keduanya bertengkar di masjid,” ucap Kamandanu.

Respons berbeda disampaikan Emma, warga Desa Wangkal. Dia membuka warung makan di dekat pintu utama padepokan. Emma mengaku keberadaan Padepokan Dimas Kanjeng justru sebagai berkah. Dia mengaku berumah tinggal di Pasar Wangkal yang relatif lebih ramai.

Tiga tahun lalu, Emma ditawari oleh istri Dimas Kanjeng agar berjualan di sekitar Padepokan. Saat itu, pengikut Dimas Kanjeng sudah ribuan orang. Datang dan pergi setiap hari, selain yang indekos di rumah-rumah warga. “Istrinya Kanjeng menyuruh santri makan di warung saya. Mungkin karena saya masih baru berjualan,” ujar Emma.

Awal buka warung, Emma memasak nasi menghabiskan beras satu kuintal dan langsung habis. Semua pengikut padepokan diperintahkan makan di warungnya. “Warung yang lain, seperti di depan saya itu, langsung sepi. Saya masak lauk apapun langsung habis,” ucapnya.

Sejak Dimas Kanjeng ditangkap dan Padepokan tidak ada kegiatan,  pendapatan Emma langsung melorot tajam. Betul, sekarang banyak orang berkunjung ke padepokan untuk melihat-lihat, tapi hanya beberapa yang mampir untuk makan. “Kalau sekarang, memasak beras satu kilo saja belum tentu laku,” ucapnya.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi digiring petugas usai melakukan rekontruksi

Tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi digiring petugas usai melakukan rekontruksi di padepokannya Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10/2016). Foto: ANTARA/Umarul Faruq

Ajaran Dimas Kanjeng

Kamandanu mengatakan, sebetulnya inti dari janji Taat Pribadi kepada para pengikutnya ialah penggandaan uang. Warga desa setempat biasa menyebut dengan ‘Uang Kotakan’. Istilah itu terkonfirmasi dengan beberapa laporan korban penipuan Taat yang rata-rata diberi kotak kayu yang konon disebut ATM dapur.

Sejauh yang dia ketahui, setiap orang yang ingin menjadi anggota Padepokan Dimas Kanjeng diminta membayar uang pendaftaran sebesar Rp250 ribu. Itu di luar mahar. Soal iming-iming dan modus, kata dia, selalu berubah-ubah. “Misalkan bulan ini tidak cair, nanti modusnya yang disampaikan ke pengikut berbeda lagi,” katanya.

Untuk meyakinkan pengikutnya, para sultan menggambarkan sosok Dimas Kanjeng sebagai orang yang memiliki kelebihan. Bahkan, ada juga ritual pembersihan pengikut yang kadang dilakukan di laut atau pantai. “Sultan menggambarkan seperti pembersihan ala Nabi. Misalnya, memberikan istilah membelah dada pengikut lalu dibersihkan,” ucapnya.

Kamandanu mengaku pernah mendengar pidato doktrinasi Dimas Kanjeng ke pengikutnya. Taat kala itu menyampaikan bahwa di Desa Wangkal akan berdiri sebuah masjid yang digambarkan suci bernama Masjid Baitul Makmur. “Kalau di Mekkah ada Masjidil Haram, di Madinah ada Masjid Nabawi, kalau di Yerussalem ada Masjidil Aqsha, di Wangkal nanti ada Masjid Baitul Makmur. Saya tidak  tahu masjid yang mana yang dimaksud,” katanya.

Dia mengaku tidak tahu ilmu apa yang dipakai Dimas Kanjeng, sehingga banyak pengikutnya seperti terhipnotis. Tapi dia menduga keahlian yang dipakai Dimas Kanjeng adalah ilmu jin. “Saya kira pakai bantuan jin. Tapi yang jelas kalau doktrinasinya ada di sebuah CD yang diberikan kepada semua pengikutnya,” kata Kamandanu.

Soal kemampuan supranatural Dimas Kanjeng, Sekretaris Kecamatan, Sutrisno, punya ceritanya. Beberapa hari lalu, ada seorang keluarga pengikut Dimas Kanjeng datang ke Padepokan hendak menjemput kerabatnya yang masih bertahan. “Orang dari Pasuruan itu datang bersama seorang kiai,” kata Sutrisno.

Ketika menemui pengikut yang dimaksud, si kiai lalu melecutkan sorbannya ke kepala anggota Dimas Kanjeng yang hendak dijemput. Seketika itu juga orang yang akan dijemput tergelagap, seperti baru sadar dari tidur. “Dia seperti baru menyadari kenapa ada di tempat (padepokan) ini. Dari situ saya menganalisis, pengikutnya seperti terhipnotis,” cerita Sutrisno.

Selain cerita kewalian, Dimas Kanjeng juga diketahui menggunakan ‘baju’ kewibawaan untuk memikat para pengikutnya. Salah satunya dengan cara memperlihatkan keakraban dengan tokoh dan ulama yang disegani. Beberapa tokoh diundangnya ke padepokan untuk berceramah. Dia juga membuat acara penobatan raja untuk dirinya pada tahun 2014 lalu. Taat bergelar Sri Raja Prabu Rajasanagara.

Mata uang asing barang bukti penipuan Dimas Kanjeng

Polisi menunjukkan barang bukti berupa mata uang asing dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi ketika ungkap kasus di Mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat

Kisah penobatan Raja Dimas Kanjeng ini diceritakan oleh Hassan Ahsan Malik (Non Alek), putra dari KH Syaiful Islam atau Non Beng. Non Alek menceritakan, sebetulnya saat itu acara para raja se-Nusantara ialah di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo.

“Penobatan raja acaranya di Genggong. Ada tiga orang di sini yang diberi gelar raja, salah satunya Abah saya. Soal kriteria raja, tanyakan ke ketua asosiasi para raja,” kata Non Alek ditemui VIVA.co.id pada Rabu malam, 12 Oktober 2016.

Mendengar acara itu, Dimas Kanjeng mengutus orangnya, untuk dikomunikasikan agar para raja datang ke Padepokan. “Abah saya tidak mau menyampaikan, tapi memberikan nomor telepon ketua para raja itu. Disuruh agar menyampaikan sendiri,” jelas Non Alek.

Rupanya, Dimas Kanjeng berhasil mengajak para raja untuk bertandang ke Padepokannya. Keesokan harinya, acara penobatan Dimas Kanjeng sebagai Sri Raja Prabu Rajasanagara berlangsung. “Abah saya hadir seperti yang terlihat di TV-TV itu, karena diundang,” ujarnya.

Non Alek mengakui bahwa Abahnya sering diundang berceramah di Padepokan Dimas Kanjeng. Non Alek sendiri mengaku dua kali melihat Dimas Kanjeng bertamu di kediaman Abahnya. “Menurut penuturan Abah saya, Abah datang ke sana dalam rangka diundang. Biasanya satu tahun sekali. Kalau tidak Isra Mi’raj, ya Maulid,” katanya.

Pernah awal tahun 2015 ada laporan bahwa Dimas Kanjeng melakukan penipuan. Abahnya langsung mengklarifikasi ke Dimas Kanjeng. “Menurut Abah saya, Dimas Kanjeng membantah menipu. Dimas Kanjeng mengatakan bahwa ingin membantu masyarakat. Ketika ditanya soal uang dari pengikut, mereka sukarela,” ucapnya.

“Jadi, Abah saya menganggap, menghukumi Dimas Kanjeng secara zahir. Abah sudah tabayun. Soal menipu atau tidak, itu urusan dia (Dimas Kanjeng) dengan Tuhan. Itu yang disampaikan Abah saya ke saya. Kalau saya sendiri, memang tidak tahu kegiatannya,” Non Alek menambahkan.

Menurut Non Alek, memang pengikut Dimas Kanjeng kadang terdengar berlebihan dalam menggambarkan sosok Taat Pribadi kepada pengikut dan warga. “Pengikutnya ini berlebihan. Katanya (Dimas Kanjeng) memiliki kemampuan melebihi kemampuan Kiai Hasan Sepuh (pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan). Katanya, kalau Kiai Hasan Sepuh bisa jadi tiga, Dimas Kanjeng bisa jadi lima. Ini berlebihan karena tidak ada buktinya,” tutur Non Alek.

Hassan Ahsan Malik

Hassan Ahsan Malik alias Non Alek, putra dari KH Syaiful Islam atau Non Beng. Foto: VIVA.co.id/Nur Faishal

Menutup Diri

Sayang, saat ini tidak ada satu pun pengurus Dimas Kanjeng yang bisa dimintai keterangan soal Padepokan Dimas Kanjeng. Bahkan, pengikutnya yang masih bertahan di tenda-tenda area padepokan sangat menutup diri untuk berkomunikasi dengan orang luar, termasuk awak media. “Pengurusnya sudah lari semua sejak Taat ditangkap. Pengikutnya juga emosi dengan pemberitaan panutannya dan tidak mau lagi diajak bicara,” kata Sutrisno.

VIVA.co.id berusaha untuk mengajak bicara pengikut Dimas Kanjeng yang bertahan di tenda-tenda. Dua anggota berhasil ditemui dan mau ditegur sapa. Mereka juga mengakui berada dan tinggal di dalam tenda. Tapi ketika ditanya soal padepokan, mereka kompak menjawab, “Saya tidak tahu.”

Kamandanu mengatakan, pengurus dan para sultan Dimas Kanjeng menghilang sejak sultan bernama Mishal dan rekan-rekannya ditangkap oleh polisi, ketika kasus pembunuhan Abdul Gani diungkap oleh polisi. “Kan yang terungkap lebih dulu kasusnya Gani, setelah itu pembunuhan Ismail tahun 2015 lalu juga terungkap,” katanya.

Sumber lain di Kecamatan Krejengan, perbatasan Kecamatan Gading, mengatakan setelah kasus pembunuhan Abdul Gani dan Ismail Hidayat diungkap polisi dan beberapa sultan ditangkap sebagai tersangka, banyak pengikut Dimas Kanjeng di Krejengan yang langsung membuang identitas keanggotaan padepokan. “Dulu di sini banyak yang ikut dan sering sesumbar kalau ingin kaya ke Dimas Kanjeng,” ujar sumber yang namanya ingin dirahasiakan.

Ciri khas dari pengikut Dimas Kanjeng, ialah gelang hitam bertanda khusus. Sebelum heboh kasus Dimas Kanjeng, gelang itu pasti dipakai oleh warga Krejengan pengikut Dimas Kanjeng. “Ketika tersangka dan Taat ditangkap polisi, aksesori gelang itu sudah dilepas,” cerita dia. Pengikut menghapus jejak sebagai anggota Padepokan Dimas Kanjeng.

Secara resmi, korban penipuan bermodus penggandaan uang yang melapor ke Polda Jatim ialah lima orang. Itu belum satu laporan yang di Markas Besar Kepolisian RI di Jakarta. Yang paling menonjol ialah pelapor bernama almarhum Najmiah Muin, warga Makassar, Sulawesi Selatan. Laporannya dilayangkan sulung Najimah, Muhammad Najmur, ke Polda Jatim, Surabaya, pada 30 September 2016 lalu. Korban mengaku merugi Rp200 miliar.

Tapi, cerita para korban yang belum melapor ke kantor polisi masih banyak. Salah satu di antaranya ialah Ibu S, warga Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Bersama dua temannya, S, mendatangi Padepokan Dimas Kanjeng, Kamis, 13 Oktober 2016. Dia langsung menemui polisi di pos penjagaan pintu masuk utama padepokan.

S mengaku tertarik ikut Dimas Kanjeng setelah dikenalkan oleh tetangganya berinisial J, tiga tahun lalu. J ini diketahui sebagai koordinator Dimas Kanjeng di Nguling. Tergiur uang berlipat-lipat, S meminjam uang ke bank sebesar Rp500 juta dengan mengandalkan usaha aksesorisnya sebagai jaminan. “Saya sampai bertengkar dengan suami dan cerai karena ikut Dimas Kanjeng.” katanya.

S mengaku tidak tahu kenapa bisa menurut saja ketika diberi tahu oleh J soal kemampuan Dimas Kanjeng. Dia juga menurut ketika dimintai sumbangan Rp3 juta untuk biaya proses penobatan raja Dimas Kanjeng pada tahun 2014 lalu. S baru sadar telah tertipu ketika kasus Dimas Kanjeng terkuak di media. “Tapi sudah dikembalikan baru dua ratus juga oleh si koordinator ini,” ujarnya.

Beberapa hari lalu, lanjut S, J pulang ke rumahnya di Nguling. S berusaha menghubungi untuk menanyakan soal sisa uang setoran kapan cair. “Waktu pulang kemarin saya telepon masih bisa. Dia (J) bilang akan cair. Dia minta mahar lagi, ya, saya tidak kasih.  Lah wong yang sebelumnya sudah nipu. Katanya dia sekarang di sini (padepokan),” katanya.

Nah, S mendatangi Padepokan Dimas Kanjeng untuk mengkonfirmasi lagi soal uang sisa setorannya itu. Tapi setelah dihubungi, nomor J sudah tidak aktif. S berusaha masuk untuk menemui J di tenda padepokan, tempat pengikut Dimas Kanjeng bertahan, tapi tidak diperbolehkan oleh petugas kepolisian yang berjaga.

Petugas menyarankan S untuk melaporkan apa yang dialaminya ke Kepolisian Resor Probolinggo. Disarankan seperti itu, S terlihat gamang. Wanita berjilbab itu mengaku tidak memiliki bukti apapun untuk melapor ke polisi. “Saya tidak diberi kuitansi setoran. Kuitansinya dibawa dia (J),” ujarnya.

Cerita S itu seperti menegaskan bahwa pengikut Dimas Kanjeng yang bertahan di tenda-tenda padepokan ialah mereka yang kebanyakan menjadi koordinator, perekrut atau pengepul uang mahar orang-orang yang ingin uangnya digandakan. “Kalau di media, pengikut ini menunjukkan sikap optimis kalau uang akan cair. Kalau saya dekati, sebetulnya mereka ingin pulang tapi bingung,” kata seorang petugas pemerintahan setempat.

Camat Gading, Slamet, menuturkan, data per 13 Oktober 2016, jumlah anggota Padepokan Dimas Kanjeng yang masih bertahan di tenda-tenda padepokan sebanyak 213 orang. Mereka berasal dari beberapa daerah di Pulau Jawa dan luar Jawa. “Kami mendata pengikut yang menetap  di dalam saja, belum yang keluar-masuk,” katanya.

Ihwal berubah-ubahnya data anggota yang bertahan di padepokan digambarkan oleh Sekretaris Kecamatan, Sutrisno. “Beberapa hari lalu tercatat yang bertahan 276 orang, besoknya berkurang jadi 242 orang, besoknya lagi tinggal 235 orang, hari ini 212 orang,” katanya.

Ratusan polisi mengamankan proses rekontruksi di padepokan Dimas Kanjeng

Ratusan petugas kepolisian mengamankan proses rekontruksi di padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10/2016). Foto: ANTARA/Umarul Faruq

Perbedaan data pengikut bertahan juga tergambar saat proses rekonstruksi kasus pembunuhan Abdul Gani dua pekan lalu digelar. Waktu itu, pihak Kepolisian setempat menyampaikan bahwa anggota yang bertahan sebanyak 85 orang. Sedangkan Bupati Probolinggo, Tantriana Hasan, menyebutkan angka 351 orang. “Karena memang banyak yang keluar-masuk. Karena itu sulit didata,” kata Sutrisno.

Kepala Kepolisian Resor Probolinggo, AKBP Armand Asmara, mengatakan bahwa pihaknya menerima kabar tuntutan pembubaran Padepokan Dimas Kanjeng dan pemulangan anggotanya yang masih bertahan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tapi sementara ini, kepolisian masih belum bisa menentukan keputusan. “Tapi kami selalu berkoordinasi dengan Muspida setempat,” katanya di Padepokan Dimas Kanjeng, Kamis, 13 Oktober 2016.

Dia meminta warga bersabar dan menyerahkan langkah persuasif yang dilakukan oleh pemerintah kepada anggota Padepokan Dimas Kanjeng yang masih bertahan. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aksi-aksi yang memancing kondisi tidak nyaman. “Biarkan penegak hukum memproses kasus hukumnya dulu,” ujarnya.

Untuk sementara ini, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jatim baru menetapkan satu tersangka dalam kasus dugaan penipuan bermodus penggandaan uang, yakni Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng. “Tersangkanya baru satu si Taat,” kata Ajun Komisaris Besar Polisi Cecep Ibrahim, Kepala Subdit I Ditreskrimum Polda Jatim dihubungi VIVA.co.id, Kamis, 13 Oktober 2016.

Tapi tidak menutup kemungkinan tersangka dalam kasus penipuan tersebut bisa bertambah. Saat ini penyidik masih terus menggali informasi soal aliran uang dan siapa saja yang berperan dalam praktik penipuan yang dilakukan oleh Taat Pribadi. Sesuai jadwal, Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng, Marwah Daud Ibrahim, akan diperiksa sebagai saksi pada Senin depan. “Tunggu saja Senin nanti,” kata Cecep.

Padepokan Brajamusti

Kasus penipuan berkedok padepokan bukan hanya dilakukan Taat Pribadi. Gatot Brajamusti atau biasa disapa Aa Gatot, juga punya padepokan. Namanya, Padepokan Brajamusti. Di tempat ini dia mengajarkan berbagai ilmu kepada para pengikutnya.

Padepokan Brajamusti jadi terkenal sejak artis ternama macam Elma Theana dan Reza Artamevia berguru di sana. Berbagai kegiatan marak di padepokan ini. Mulai dari kegiatan sosial, spiritual sampai pengobatan alternatif. Nama Gatot pun kian mentereng, sebagai guru spiritual dan artis, sebelum akhirnya diciduk polisi karena kedapatan pakai narkoba. 

Wahyuhono Adi Paripurno, sahabat Gatot, yang juga menjadi pendiri padepokan, menceritakan muasal Padepokan Brajamusti kepada VIVA.co.id saat ditemui di salah satu Padepokan Brajamusti, di Jalan Niaga Hijau X, Pondok Pindang, Jakarta Selatan. Sekitar tahun 1999, Wahyu dan Gatot bertemu di Surabaya. Keduanya merupakan jawara.

“Waktu awal dulu, kami kan masih muda-muda, pengennya jadi jawara. Aa bilang, ‘jangan jadi jawara, pasti dicoba orang’. Aa ingin bentuk padepokan. Paling tidak, jawara-jawara atau yang liar-liar bisa bergabung untuk ke arah yang benar,” kata Wahyu kepada VIVA.co.id.  

Setelah disepakati, Gatot dipilih sebagai ketua. Oleh sejumlah temannya, Gatot dinilai memiliki ilmu kebatinan dan tenaga dalam yang paling bagus.

Gatot kembali ke Sukabumi pada tahun 2000. Saat itu padepokannya mulai berkembang. Setidaknya sekali dalam seminggu, Wahyu mengirimkan anak buah untuk memperdalam ilmunya ke Gatot.

Tak cuma mentransfer ilmu, Gatot juga membuka jasa pengobatan. Untuk menyembuhkan pasien, Gatot menggunakan media air. Sejumlah orang berhasil disembuhkan. Sampai-sampai dari komunitas lepra datang dan berharap kesembuhan dari Gatot. “Aa itu kalau ada yang sakit pasti dia tolong,” ujar Wahyu.

Wahyu juga membantah adanya ritual yang harus melibatkan kegiatan fisik kecuali latihan tenaga dalam. Gatot kemudian berpindah ke Jakarta. Tak disangka, namanya semakin berkibar. Bukan hanya pengobatan dan  latihan kanuragan, Gatot menerima dan menampung orang-orang yang memiliki masalah dalam kehidupan pribadi. Tak terkecuali para artis.

Namun Wahyu menegaskan, tidak ada ajaran menyimpang yang disampaikan Gatot ke para muridnya. Termasuk persetubuhan dengan para muridnya.

Gatot Brajamusti saat syuting film Azraq

Padepokan Brajamusti jadi terkenal sejak artis ternama macam Elma Theana dan Reza Artamevia berguru di sana. Foto: VIVA.co.id/Muhamad Solihin

“Enggak ada itu sekamar dengan muridnya. Kalau sekamar berdua kan pasti ada istrinya. Dia enggak pernah lepas dari istrinya. Jangan salah. Kalau Aa Gatot ada tuh kami senang dengarkan petuah-petuahnya. Makanya kalau dibilang begitu, waduuuh, naif banget,” ucapnya.

Apa yang diceritakan Wahyu berbeda dengan yang dialami artis Elma Theana. Menurut Elma, selama mengikuti Padepokan Gatot, ada sejumlah keanehan. Tak banyak interaksi yang terjadi antar sesama pengikut Gatot. Bahkan, Elma tak pernah bersinggungan langsung dengan Reza, apalagi saling bicara soal masalah. Semacam peraturan tak tertulis bahwa sesama pengikut Gatot tak boleh menceritakan masalahnya selain ke pendiri padepokan.

“Kami hanya ramai-ramai, tapi enggak bisa, kayak dibikin enggak mau tahu urusan orang atau masing-masing. Fokus kami hanya di Aa. Kami enggak saling bersinggungan,” ujar Elma saat berbincang dengan VIVA.co.id.

Kata Elma, kepada murid-muridnya, Gatot selalu memberikan ceramah agama. Awalnya, Elma saat itu merasakan aman dan nyaman saat mendengarkan petuah dari Gatot. Terlebih saat itu Elma sedang mengalami masalah keluarga. Sehingga dia membutuhkan orang yang dianggap mampu menyembuhkan psikologinya.

Tapi lama-kelamaan, Elma merasakan, petuah dan ceramah yang disampaikan Gatot banyak menyimpang. Namun, Elma merasa heran, dia dan murid-murid lainnya tidak bisa berbuat apa-apa. Seakan terhipnotis dengan ucapan Gatot.

“Itu kadang saya suka agak bingung yah. Ada melencengnya. Tadi ngomong gini, kok jadi gitu ya. Ada lah pokoknya. Tapi kami enggak bisa apa-apa,” ujar Elma.

Lima tahun keluar dari padepokan, Elma merasa hidupnya lebih tenang, karena bisa lebih dekat dengan keluarga. Maklum saja, selama di padepokan, Elma dicap tak peduli pada kerabat dan keluarga oleh kakaknya sendiri, Rency Milano.

Rency, yang lebih dulu ikut, menceritakan awal mulanya gabung dengan Padepokan Gatot. Ia ikut sebelum Gatot mendirikan padepokan di Jakarta. Awalnya tak ada yang aneh dari ajaran Gatot. Tapi, saat Gatot meniupkan aspat dari mulut ke mulut, saat itu pula ia keluar dari padepokan.

“Dia (Gatot) sempat mau keluarkan asap dari mulut dia ke mulut saya. Di situ saya enggak mau, dan keluar dari sana. Saya enggak tahu maksudnya dia apa mau keluarkan asap ke mulut saya,” kata Rency.

Soal banyaknya wanita muda di sekeliling Gatot, Elma tak berkata banyak. Namun dia membenarkan. Sepengetahuannya, wanita-wanita itu merupakan anak angkat Gatot. Konsultasi yang kadang dilakukan sendiri-sendiri itulah, membuat Elma tak tahu banyak apa saja yang Gatot lakukan bersama wanita-wanita tersebut.

“Aku enggak tahu-menahu terjadi korban anak-anak, enggak tahu, karena tak ada satupun anak itu cerita sama aku. Aku tahu ya itu anak angkat, karena mereka panggil ‘Papa’. Aku enggak ngerti masalah anak-anak itu,” ujar Elma.

Wahyu, sahabat dan juga pendiri padepokan, juga tak menyangkal soal wanita-wanita muda di sekeliling Gatot. Menurut Wahyu, wanita-wanita muda itu adalah anak angkat Gatot. Pendidikan dan biaya hidup mereka dibiayai oleh Gatot. Beberapa wanita tersebut juga diketahuinya pergi dari rumah dan memilih padepokan sebagai tempat perlindungan.

“Ya dilihat latar belakangnya dulu. Kalau memang broken home segala macam, ya harus ditampung. Ada yang dari Surabaya, Sukabumi. Kalau mereka butuh kuliah, ya dari situ.  Begitu lulus, mau kerja, ya sudah. Tidak terus ditahan,” kata Wahyu.

Nadine Chandrawinata diperiksa polisi terkait senjata api milik Gatot Brajamusti

Artis Nadine Chandrawinata berjalan keluar ruangan usai menjalani pemeriksaan di Resmob Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (19/9/2016). Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja

Proses Hukum

Pihak padepokan boleh saja menyangkal. Tapi, kasus yang menjerat Gatot terus bergulir di kepolisian. Gatot dan para korbannya terus diperiksa. Bahkan, kepada penyidik, Gatot mengakui beberapa perbuatannya. Seperti melakukan persetubuhan dan memberikan narkoba jenis sabu, yang disebut-sebut aspat, kepada murid-muridnya.

“Dari pemeriksaan saksi korban dan Aa GB memang mengakui. Korban mengaku bahwa selama ini dia dicekoki aspat yang baru diketahui ternyata adalah sabu. Sampai 2002 ngakunya Aa GB menggunakan aspat dan sejak 2002 ke atas baru menggunakan sabu,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono saat berbincang dengan VIVA.co.id, Rabu, 13 Oktober 2016.

Bahkan, dari pengakuan Gatot dan korban kepada penyidik, persetubuhan dilakukan secara bergantian. Namun, korban mengaku melakukan itu dalam keadaan kurang sadar, karena terpengaruh narkoba.

“Korban mengaku suka melakukan perbuatan seks lebih dari dua orang dan Aa Gatot juga mengakui bersama sang istri,” kata Awi.

Selain narkoba dan pelecehan seksual, Gatot juga terjerat kasus kepemilikan senjata api dan kepemilikan satwa langka. Untuk kasus kepemilikan senjata api, kepolisian masih memeriksa saksi-saksi, sambil menunggu kasus narkoba di Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat. Untuk kasus kepemilikan satwa langka, status Gatot sudah tersangka.

Terkait kasus pelecehan seksual, saat ini baru dua korban yang melapor. Mereka masih terus diperiksa. Dalam kasus ini, status Gatot sendiri masih terlapor.

“Kami juga melakukan tes DNA kepada anak salah satu pelapor, yang diduga adalah hasil hubungan dengan Aa GB. Kami juga akan melakukan tes DNA ke Aa GB untuk membuat terang kasus ini dan penyidik akan ke NTB dan berkoordinasi dengan penyidik di sana,” kata Awi.

Padepokan “Facebook”

Anton Hardiyanto tertunduk lesu. Dia hanya bisa menyesali perbuatannya, karena telah membunuh dua pemuda di Depok, Jawa Barat. Dia kini mendekam di tahanan Polres Depok.

Pria 34 tahun ini merupakan Pemimpin Padepokan Satrio Aji Danurwenda. Padepokan ‘abal-abal’ yang dibuat untuk mencari keuntungan pribadi. Sebelum kasus ini mencuat, Anton tinggal di kontrakan pamannya di Jalan M. Yusuf, RT 2 RW 21, Sukmajaya, Depok.

Ditemui di Polres Depok pada Kamis, 13 Oktober 2016, dengan wajah lesu, Anton menceritakan ihwal membuat padepokan ‘tipu-tipu’.

Beberapa bulan ini, Anton membuka Padepokan Satrio Aji Danurwenda. Padepokan ini tidak seperti padepokan pada umumnya. Padepokan buatan Anton hanya ada di situs jejaring sosial Facebook. Anton berdalih, sarana itu digunakanya untuk berdagang.

“Biasa buat tukar informasi, jual barang-barang antik dan silaturahmi saja. Intinya buat kumpul-kumpul saja. Saya kan sampingannya jual barang-barang itu (antik). Kerjaan saya sehari-harinya buruh serabutan. Ya terserah mau dibilang apa,” kata Anton.

Ide mendirikan padepokan di Facebook itu berangkat dari inisiatifnya. Tujuannya, supaya barang dagangannya laku keras. “Kalau dari media sosial kan gampang nyebar-nya,” begitu dalih Anton.

Pria bertubuh gempal yang memiliki empat orang istri ini membantah jika di padepokan yang ia buat mengajarkan aliran sesat. Kadang kumpul-kumpul, bakti sosial. Saling tukar informasi, sekaligus jualan barang dagangannya. Tidak ada ajaran sesat, begitu katanya.

Pemimpin Padepokan Satrio Aji, Anton Hardiyanto alias Aji.

Pemimpin Padepokan Satrio Aji, Anton Hardiyanto alias Aji. Foto: VIVA.co.id/Zahrul Darmawan

Tidak seperti padepokan pada umumnya, yang punya tempat untuk memberikan materi ke murid-muridnya, padepokan buatan Anton ini tak ada majelis. Saling tatap muka pun jarang. Kalau kumpul, tempatnya tidak tentu. Terang saja, padepokan ini hanya ‘beroperasi’ di jagad Facebook.

Tak cuma itu, pria berkulit sawo matang ini pun mengakui tidak memiliki kemampuan supranatural apapun. Termasuk menarik emas batangan dari alam gaib. Semua yang diperlihatkan ke murid-muridnya itu hanyalah trik sulap yang ia pelajari secara otodidak.

“Itu cuma sulap yang saya pelajari dari jalan dan YouTube. Alat-alatnya saya beli di Jatinegara.”

Awal Kasus

Nasi sudah jadi bubur. Nyawa yang sudah dihabisi, tak mungkin bisa kembali. Anton hanya bisa meratapi nasib, akan berakhir di jeruji besi. Dia menyesal karena telah menghabisi nyawa dua muridnya.

Shendy Eko Budianto (27) dan Ahmad Sanusi (20), dibunuh dengan cara mencampurkan racun ikan atau potassium sianida ke dalam kopi keduanya.

Pembunuhan Shendy dan Sanusi bermula dari perkenalan mereka dengan Anton beberapa bulan silam. Saat itu, Anton yang membuka padepokan di Facebook, mengaku bisa menarik emas batangan secara gaib, apabila kedua lelaki itu mau menyerahkan mahar dan melakukan serangkaian ritual.

Mahar yang diminta adalah mobil Avanza B 2963 TFT milik Shendy yang biasa dikemudikan Sanusi untuk taksi online. Anton tak kehabisan akal ketika kedua pria itu menolak memberikan mobilnya. Pada Jumat malam, 30 September 2016, Anton mengajak keduanya untuk melakukan ritual di Kampung Serab, Sukmajaya, Depok. 

Sebelum melakukan ritual di tempat itu, Anton lebih dulu mampir ke warung tak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Jalan M . Yusuf, Sukmajaya Depok. Di warung kopi itu dia membeli gorengan, tiga bungkus kopi berikut gelas plastik dan satu bungkus es teh manis.

Setibanya di tempat ritual itulah, Anton kemudian mencampurkan kopi kedua pengikutnya itu dengan sianida yang ia bawa dengan botol plastik. Seketika itu juga kedua korbannya ambruk, meregang nyawa di lokasi ritual. Kedua korbannya kemudian dibuang di tempat berbeda.  Sanusi dibuang dalam kondisi miring di dalam parit, di Jalan Makam Kopo RT 09 RW 09, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Depok Sabtu pagi, 1 Oktober 2016.

Sedangkan Shendy, ditemukan di dalam kali Jalan Pertanian Raya, RT 05 RW 04, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Depok, tak jauh dari lokasi ditemukannya jasad Ahmad Sanusi.

Atas kasus ini, polisi telah menetapkan dua orang tersangka yakni Anton alias Aji dan Riyadi yang diduga terlibat saat Anton berupaya kabur di Lampung. Namun tak butuh waktu lama, keduanya akhirnya berhasil diringkus, Senin, 3 Oktober 2016, di Lampung. Penangkapan ini melibatkan Polda Banten, Polda Jawa Tengah dan Polda Lampung. Selanjutnya kasus ini masih dalam penyelidikan Polres Kota Depok.  

Prarekonstruksi pembunuhan pengikut Padepokan Satrio Aji di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat, pada Selasa, 11 Oktober 2016.

Prarekonstruksi pembunuhan pengikut Padepokan Satrio Aji di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (11/10/2016). Foto: VIVA.co.id/Zahrul Darmawan

Kasat Reskrim Polresta Depok, Komisaris Teguh Nugroho, mengatakan progres penanganan kasus saat ini sudah tahap pemberkasan. Kepolisian juga sudah melakukan prarekonstruksi yang nantinya akan dilanjutkan rekonstruksi. Pemeriksaan psikologi juga sudah dilakukan terhadap pelaku, sebagai pelengkap berkas penyidikan.

“Dalam waktu dekat kami akan melengkapi pemberkasan untuk diserahkan ke kejaksaan,” kata Teguh.

Teguh menjelaskan, motif pembunuhan yang dilakukan Anton adalah ingin menjarah barang berharga korban. Korban penipuan atas tersangka Anton yang saat ini telah melapor adalah Sefie Rosa Winudin.

“Nah dia juga saksi atas kasus pembunuhan ini. Sebab dari saksi Sefie inilah kami dapat petunjuk sehingga bisa mengungkap kasus pembunuhan itu,” jelas Teguh.

Cerita Mantan Murid

Sefie Rosa Winudin, salah satu pemuda yang sempat ikut padepokan, menceritakan awal bergabung dengan padepokan. Sefie tahu padepokan itu setelah melihat di Facebook.

“Aktivitasnya ya saya jarang ngikut ya. Saya cuma dua bulan tahu padepokan itu. Paling kalau datang ya kumpul-kumpul aja. Dia juga sering melihatkan barang-barang yang katanya memiliki khasiat dan kemampuan gaib,” ujarnya.

Sefie sempat percaya dengan kemampuan magis Anton, lantaran pernah melihat langsung tangan Anton mengeluarkan asap dan kebal.

“Ternyata, pas saya tahu dari polisi itu cuma trik sulap ya. Apes dah saya kena tipu. Dari awal saya juga emang sudah curiga,” katanya.

Dia juga mengisahkan awal terjerat tipu-tipu Anton. Usai melihat ‘kesaktian’ Anton, Sefie lantas terpikat. Dia pun akhirnya minta bantuan Anton untuk dipasang susuk agar awet kerja dan berwibawa. Susuk kaki dan sayap serangga itu dibelinya senilai Rp350 ribu. Ditempel di kening.

“Eh enggak tahunya setelah saya pakai susuk dari dia, saya malah dipecat,” ujar Sefie.

Sefie juga pernah ditawari emas gaib oleh Anton. Namun, kala itu dia tidak mau. “Saya belum pernah lihat dia narik emas, tapi katanya ada yang mau narik emas sama dia. Ya itu mungkin si korban kali ya, yang dibunuh sama dia,” kata Sefie.

(ren)

Baca Juga

Padepokan Sarang Masalah

Kultur Mistis Penyubur Padepokan

TUTUP