TUTUP
TUTUP

Langgam Dunia Memikat Pelancong Muslim

Tahun 2020, diperkirakan ada 168 juta pelancong muslim internasional.
Seorang pegawai muslim menyajikan makanan untuk sarapan di hotel Al Meroz di Bangkok, Thailand, 29 Agustus 2016.

VIVA.co.id – Wisata halal di dunia tumbuh tiap tahun. Mahfum, penelitian CrescentRating, situs yang fokus terhadap wisata halal, menunjukkan pasar wisata bagi umat muslim ini sangat menggiurkan. 

Berdasarkan hasil penelitian , pasar wisata muslim bekembang sangat cepat dalam industri wisata global. Tahun 2015, diperkirakan ada 117 juta pelancong muslim internasional. Jumlah ini diprediksi akan bertambah menjadi 168 juta di tahun 2020. Pasar wisata muslim ini bahkan diharapkan bisa menyumbang pendapatan melebihi US$200 miliar .

CrescentRating-MasterCard merilis Global Muslim Travel Index (GMTI) pertama kali dirilis pada tahun 2015. GMTI merupakan penelitian yang paling komprehensif di pasar wisata muslim dunia. Tahun 2016, GMTI meneliti 130 destinasi dengan kriteria destinasi yang aman dan ramah untuk keluarga, destinasi dengan pelayanan dan fasilitas ramah muslim, serta pemasaran destinasi dan kesadaran soal kehalalan. 

Lalu siapa yang paling unggul. Berdasarkan laporan GMTI 2016 , Malaysia adalah destinasi wisata halal terbaik di dunia di antara negara-negara yang tergabung dalam Organisation of Islam Cooperation (OIC). Indonesia sendiri berada di posisi keempat setelah United Arab Emirates (UAE) dan Turki. Sementara untuk negara non-Muslim, Singapura yang berada di posisi puncaknya. 

Wisata halal di Malaysia

Tahun ini merupakan tahun keenam bagi Malaysia menyandang predikat negara dengan pariwisata muslim terbaik berturut-turut sejak GMTI diluncurkan pada tahun 2011. Dengan total skor 81,9, Malaysia dinilai memenuhi semua kriteria GMTI sehingga berhasil meraih dan mempertahankan posisi puncaknya di kalangan negara-negara yang tergabung dalam Organisation of Islamic Cooperation (OIC).

Fasilitas ramah muslim yang ada di Malaysia antara lain mudahnya menemukan musala atau masjid di sejumlah tempat yang sering dikunjungi turis, seperti di bandara, pusat perbelanjaan, dan juga objek wisata.

Kuala Lumpur International Airport sebagai pintu masuk wisatawan mendapat skor tertinggi, 100, karena memiliki tempat ibadah dan pelayanan ramah muslim lainnya. Musala bisa ditemukan di sejumlah sudut bandara ini. Meski tak terlalu besar, namun memiliki sajadah, mukena, dan juga Alquran.

Pun pelayanan ramah muslim bisa dirasakan pada akomodasi, seperti hotel. Meraih skor 69, Malaysia dinilai memiliki akomodasi yang membuat wisatawan muslim menginap dengan nyaman. Sejumlah hotel menyediakan tanda petunjuk arah kiblat di dalam kamarnya. Aktivitas non-halal yang rendah ikut menjadi alasan mengapa negara ini disebut sebagai destinasi halal terbaik di dunia.

Bicara soal halal, makanan memang jadi sorotan utama bagi para muslim. Malaysia mendapat skor 90 untuk pilihan restoran halal menurut CrescentRating. Sangat mudah menemukan makanan dan restoran halal, baik dengan cita rasa Melayu, India dan oriental di negara ini.

Bahkan di kawasan yang dikenal sebagai destinasi wajib para pemburu kuliner di Kuala Lumpur, Jalan Alor, bisa ditemukan sejumlah kedai makanan halal. Menyusuri jalan ini, Anda bisa menikmati makanan apapun dengan bumbu dan bahan makanan yang sudah aman dikonsumsi untuk para muslim di kedai yang sudah berlabel halal.

Jalan Alor di Kuala Lumpur

Jalan Alor di Kuala Lumpur, Malaysia. FOTO: VIVA.co.id/Zahrotustianah.

Malaysia juga memiliki sejumlah situs wisata yang menarik untuk kaum muslim. Destinasi untuk keluarga muslim di negeri ini mendapat skor 64 dan jadi yang tertinggi di antara negara OIC lainnya. Masjid Jamek adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi wisatawan muslim jika berkunjung ke Kuala Lumpur.

Dari jalur LRT, Masjid Jamek terlihat begitu megah hingga terlalu sulit untuk diabaikan begitu saja. Masjid ini merupakan masjid tertua di Kuala Lumpur yang sudah berdiri sejak tahun 1909. Arsitekturnya yang indah menjadi pesona siapa saja yang menjejakkan kaki di dalamnya.

Lokasi Masjid Jamek ini juga berada di lokasi yang strategis untuk para wisatawan. Di sekitar Masjid Jamek terdapat sejumlah objek wisata lain, seperti Masjid India dan juga kawasan Dataran Merdeka. Dengan kemudahan menuju tempat ibadah dan objek wisata sekaligus, predikat sebagai destinasi wisata halal terbaik memang pantas disandang negeri jiran tersebut.

Wisata halal di Singapura

Singapura mampu menempati posisi ke-8 pada peringkat wisata ramah muslim terbaik di dunia. Tak heran jika di antara negara-negara non-Muslim, Singapura berhasil dinobatkan sebagai yang terbaiknya. Skor wisata muslim yang berhasil dikumpulkan Singapura adalah 68,4. Di posisi kedua ada Thailand kemudian diikuti oleh UK, Afrika Selatan, dan juga Hong Kong.

Sebagai negara mayoritas non-Muslim, Singapura dinilai punya banyak fasilitas ramah muslim yang memadai dan nyaman bagi para pelancong di sana. Kemudahan untuk beribadah merupakan kunci mengapa negara ini jadi yang terdepan dalam wisata halal di kalangan negara non-Muslim.

Skor untuk kemudahan lokasi salat di Singapura mencapai 70 dan tentunya yang tertinggi di antara 82 negara non-Muslim yang masuk dalam indeks penilaian GMTI. Jika Anda mengunduh aplikasi wisata muslim di Singapura pada ponsel cerdas Anda, banyak musala bahkan masjid yang bisa ditemukan di negara ini. Mulai dari Bandara Changi hingga sejumlah objek wisata di tengah kota, tempat ibadah untuk kaum muslim mudah ditemukan.

Anda yang ingin berkunjung ke pusat wisata halal, Arab Street hingga Mustafa Centre yang ada di kawasan Little India bisa jadi pilihannya. Di sinilah terdapat banyak makanan halal dan juga tempat beribadah yang nyaman. Di sini, Anda juga bisa membeli sejumlah suvenir, seperti parfum non-alkohol.

Terpilihnya Singapura sebagai destinasi wisata halal terbaik di antara negara non-Muslim juga karena kemudahan akses informasinya. Lewat situs resmi Your Singapore, Anda bisa dengan mudah menelusuri lokasi masjid hingga restoran halal. Wisatawan muslim bahkan bisa mendapatkan informasi lengkap seputar wisata halal tersebut dengan mudah dalam bentuk file pdf yang bisa jadi panduan Anda selama berada di Singapura.

Wisata Muslim di Korea Selatan

Negara ini termasuk ke dalam salah satu negara yang juga gencar mempromosikan wisata ramah muslim sejak beberapa tahun belakangan. Dari data Korea Tourism Organisation (KTO) Jakarta pada tahun 2015 lalu, setidaknya ada 750 ribu wisatawan muslim yang berkunjung ke Korea dan 210 ribu wisatawan dari Indonesia. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat mengingat minat masyarakat Indonesia terhadap negeri seribu boyband itu makin tinggi. 

Dengan banyaknya wisatawan muslim yang mengunjungi Korea, wisata ramah muslim pun semakin giat digalakkan. Penyediaan fasilitas ramah muslim, seperti tempat beribadah dan restoran yang tidak menyediakan daging babi atau alkohol sedang marak dikembangkan.

Melalui situs resmi Visit Korea, informasi terkait lokasi ibadah dan juga restoran ramah muslim bisa diakses dengan mudah. Informasi tersebut juga dapat diunduh langsung dalam bentuk e-book sehingga bisa jadi panduan para traveler muslim di sana. Dari informasi yang dikumpulkan baik dari situs resminya hingga catatan perjalanan wisatawan yang pernah berkunjung ke sini, Bandara Incheon diketahui menyediakan tempat ibadah yang terletak di boarding gate 24 lantai 4. Meski tempat ini juga bisa digunakan untuk pemeluk agama lain, tanda kiblat dan Alquran juga disediakan di sini.

Selain di bandara, Korea Selatan juga mulai giat menggalakkan wisata muslim di berbagai destinasinya. Ketika VIVA.co.id berkesempatan mengunjungi negeri K-Pop ini pada September 2015 lalu. Ada beberapa tempat wisata yang ramah bagi para turis muslim. Misalnya, Nami Island. Pulau ini adalah salah satu destinasi wajib dikunjungi jika Anda pergi ke Korea Selatan.

Pulau yang populer lewat drama Winter Sonata itu memiliki musala dan juga restoran halal yang bisa dikunjungi muslim dengan aman. Anda bisa mendapat peta wisata di Nami Island sebagai panduan menemukan musala dan restoran yang lokasinya berdampingan tersebut. Beberapa restoran Asia di Nami Island ini sudah mendapat sertifikasi halal dari Korea Muslim Federation atau organisasi muslim di Korea yang berdiri sejak 1967. KMF juga jadi lembaga resmi untuk mengeluarkan sertifikat halal di Korea.

Anda yang begitu penasaran dengan makanan asli Korea bisa dengan tenang menikmatinya di restoran dengan logo halal tersebut. Di Nami Island, Asian Cuisine adalah salah satu restoran yang bisa dikunjungi. Restoran ini menyajikan aneka menu makanan Korea, seperti Bibimbap atau nasi campur, Naengmyeon atau mi dingin, dan masih banyak lagi lainnya.

Tempat lainnya adalah Itaewon, yang merupakan salah satu kawasan di Seoul yang banyak dihuni orang asing. Mulai dari orang Barat hingga orang Arab ada di sini. Tak heran jika kawasan Itaewon dikenal sebagai global village dan jadi salah satu destinasi wajib wisatawan mancanegara. Bagi wisatawan Muslim, Itaewon rasanya wajib masuk dalam daftar perjalanan.

Di kawasan inilah, Seoul Central Mosque atau yang dikenal juga sebagai Masjid Itaewon berdiri. Itaewon juga jadi surga makanan halal bagi para pelancong muslim.

Cukup menggunakan subway dan turun di Itaewon Station, Anda akan langsung menghirup nuansa global di sini. Itaewon adalah kawasan multibangsa yang membuatnya cukup berbeda dari kawasan lain di Seoul. Kedai dan restoran Turki serta Arab berjejer di sepanjang jalan. Mulai dari es krim Turki yang terkenal hingga aneka kebab dan makanan lain Timur Tengah ada di sini. 

Tidak hanya Turki, restoran India dan Melayu seperti Malaysia bahkan Indonesia juga banyak terlihat di kawasan ini. Seperti kebanyakan kedai makanan lain, makanan mereka juga memasang label halal. Bahkan, ada juga biro perjalanan haji dan umrah layaknya di negara berpenduduk muslim lainnya.

Seperti di Nami Island, restoran berlabel halal dari KMF pun ada di sini. Ied Restaurant, namanya. Lokasi kedai ini tak jauh dari Seoul Central Mosque. Hanya sekitar 200 meter, bisa menjumpai kedai Ied yang sejajar dengan letak masjid. Ied Restaurant merupakan kedai yang dikelola langsung oleh keluarga asli Korea. Putra keluarga ini yang juga turun langsung dalam menjamu tamu sudah menjadi mualaf sekitar 11 tahun silam

Makanan halal di Ied Restaurant, Korea Selatan

Makanan halal di Ied Restaurant, Korea Selatan. FOTO: VIVA.co.id/Zahrotustianah.

Dibantu mantan pelajar Malaysia, kedai ini menyajikan makanan khas Korea yang berlabel halal KMF. Makanan yang wajib dicoba di sini antara lain Bulgogi yang dicampur dengan nasi, Samgyetang atau sup ginseng ayam yang terkenal punya khasiat kesehatan luar biasa, serta aneka kimchi dan kudapan lainnya.

Rasa yang otentik ditambah jamuan pemilik yang ramah menambah kelezatan makan di kedai ini. Ied Restaurant selalu ramai dikunjungi, terutama pada hari Jumat. Hal itu karena warga dan juga wisatawan muslim di Seoul berbondong-bondong menuju Itaewon untuk melaksanakan Salat Jumat di Masjid Itaewon.

Masjid ini berdiri kokoh dengan cat warna putih dan lafaz Allahu Akbar di puncak bangunannya. Menariknya, Bahasa Korea, Inggris, dan juga Arab jadi bahasa pengantar khotbah Jumat yang disampaikan. 

Tak hanya untuk beribadah, Masjid Itaewon juga difungsikan sebagai pusat kajian Islam di Seoul. Lantai pertama masjid ini digunakan sebagai tempat berkumpul sementara lantai dua dan tiga diperuntukkan khusus untuk beribadah. 

Indonesia di persaingan wisata halal global

Populasi penduduk muslim di seluruh dunia berdasarkan data di tahun 2010 berjumlah 1,6 miliar jiwa dan meningkat setiap tahunnya. Islam adalah agama terbesar kedua di dunia namun menjadi agama yang jumlah pemeluknya berkembang paling cepat.

Dengan menargetkan usia produktif dan konsumtif, setidaknya ada 35 persen dari total populasi muslim yang bisa jadi sasaran pasar wisata muslim. Syamsul Lussa, Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Kemaritiman, mengatakan, di tahun 2015, ada sekitar 1,9 juta wisatawan mancanegara muslim yang masuk Indonesia.

Pada tahun 2016, pemerintah menargetkan lebih dari 2 juta wisatawan dan bahkan optimis bisa meraih 5 juta wisatawan mancanegara muslim yang berasal dari Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UAE, dan juga dari Asia, seperti Malaysia, Singapura dan Tiongkok pada tahun 2019 mendatang.

Dengan jumlah wisatawan muslim yang terus bertambah, tidak mengherankan jika wisata ramah muslim atau wisata halal ini terus dikembangkan berbagai negara. Seperti yang disebutkan sebelumnya, berdasarkan hasil penilaian GMTI, posisi Indonesia berada di peringkat ke-4 setelah Malaysia, UAE, dan Turki. Jika dilihat dari jumlah penduduk muslim Indonesia yang merupakan terbesar di dunia, peringkat ini memang dirasa belum maksimal.

Namun, prestasi ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya di mana Indonesia berada di peringkat ke-6. Asisten Deputi Pembangunan Destinasi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, Lokot Ahmad Enda, mengatakan, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim mudah mengklaim segala sesuatunya halal. Padahal, jika bicara wisata halal dunia, yang dibutuhkan wisatawan mancanegara adalah label halalnya.

"Nah, makanya sejak kita deklarasikan sebagai destinasi pariwisata halal, ranking kita yang sebelumnya di peringkat enam jadi berubah ke posisi empat ranking GMTI," ujarnya saat dijumpai VIVA.co.id.

Lokot menjelaskan, konsep wisata halal di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak tahun 2012 di mana saat itu masih menggunakan kata syariah. Namun agar lebih mudah diterima masyarakat baik muslim maupun non-Muslim, Kemenpar Arif Yahya akhirnya memutuskan untuk mengubahnya menjadi halal tourism yang mana melingkupi destinasi, restoran, juga hotelnya.

Istilah tersebut memang digunakan berbeda-beda di berbagai negara. Sebagian besar menggunakan kata muslim friendly atau ramah muslim, muslim tourism, atau bahkan islamic tourism. Namun konsep secara global sama.  "Karena kalau enggak pakai label (halal) terutama Malaysia, mereka enggak mau beli," katanya lagi.

Indonesia juga patut berbangga karena pada ajang World Halal Tourism Awards 2015 yang digelar di Abu Dhabi, Tanah Air kita menyabet tiga penghargaan halal dari 15 kategori yang ada. Sofyan Hotel sebagai hotel ramah wisatawan muslim, Lombok sebagai destinasi wisata halal terbaik, dan juga Lombok, destinasi bulan madu terbaik.

Indonesia pun optimis bisa bersaing secara global dalam pasar wisata halal. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia sebenarnya memiliki banyak kelebihan dan keuntungan dibanding negara lain. Budaya dan produk yang dihasilkan sudah banyak memenuhi standar halal.

"Kita tinggal memperbanyak hotel, restoran, destinasi halal. Saat ini kita baru punya 200. Di Singapura sudah 2.000 dan Malaysia sudah 5.000 restoran yang bersertifikat halal. Wisatawan sekarang selektif," tambahnya.

Sebagai salah satu upaya mengokohkan wisata halal Indonesia di mata dunia, Kementerian Pariwisata sudah melakukan seleksi untuk mewakili Tanah Air ke ajang World Halal Tourism Awards 2016 di Abu Dhabi Desember mendatang.

Lewat Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016 yang diumumkan pada 21 September lalu, pemerintah akan membawa 10 pemenang untuk mengincar penghargaan kompetisi pariwisata halal nasional, bandara ramah wisatawan muslim terbaik, hotel keluarga ramah wisatawan muslim terbaik, resor ramah wisatawan muslim terbaik, dan destinasi bulan madu ramah wisatawan muslim terbaik. 

Selain itu, pemerintah menyiapkan tiga pintu masuk bagi wisatawan mancanegara ke Indonesia, antara lain Batam, Bali, dan Jakarta. Great Batam untuk masuk ke Aceh dan Sumatera Barat sebagai provinsi dengan destinasi ramah wisatawan muslim terbaik dalam Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016 tersebut, Bali untuk menuju Lombok yang mendominasi penghargaan pada ajang tersebut, serta Jakarta untuk masuk ke wilayah ibukota dan Jawa Barat.

Didukung dengan amenitas dan pelayanan yang baik, Indonesia sangat optimis bisa menempati posisi pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik sedunia. (adi)
 

TERKAIT
TUTUP