TUTUP
TUTUP

Jejak Candu Kretek, Dari Nginang Sampai Rok'an

Industri rokok di Indonesia punya tradisi dan sejarah yang panjang.
Usai kematian Djamhari pada tahun 1890-an rokok campuran tembakau dan cengkih yang konon dipercaya bisa untuk obat itu mulai dibuat masal di rumah-rumah warga.

VIVA.co.id – "Tentu saja, karena rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh (lengket) dengan air ludahku yang manis dan harum." (Roro Mendut, abad-17)

Hikayat yang tertuang dalam Babad Tanah Jawi ini konon, dalam ceritanya, menyebutkan Roro Mendut – perempuan yang menolak menjadi selir panglima perang Kerajaan Mataram Tumenggung Wiroguno – dicatat pernah menjadi penjaja rokok ketika diusir dari istana kerajaan. Dengan cacahan daun tembakau kering yang dibalut dengan daun klobot (Jagung), Roro Mendut menjajakan karyanya ke masyarakat. Dan sebagai penarik pembelinya, Klobot yang telah bercampur tembakau itu dibakar dan diisap ujungnya oleh Roro Mendut sebelum dijualnya ke pembelinya.

Kisah Roro Mendut inilah yang kemudian menjadi ihwal masifnya kebiasaan mengisap tembakau bakar di tingkatan masyarakat Jawa kala itu. Roro Mendut dianggap membongkar praktik tembakau bakar yang biasa dikonsumsi para raja menjadi hal yang juga bisa dinikmati oleh warga biasa.

Nginang dan Rok'an

Kebiasaan mengisap tembakau bakar di nusantara. Sejatinya tak lepas dari masuknya tanaman tembakau di Indonesia. Catatan ahli bahasa dan kebudayaan asal Belanda, Profesor Schelegel Gustaaf, menyebut jika tembakau ada di nusantara atas pengaruh Portugis pada abad ke-16.

Ini merujuk dari kata Tembakau, yang dahulu dalam bahasa Portugis dinamai Tabaco atau Tumbaco. Konon, serapan inilah yang kemudian menjadi dasar mula kata Tembakau. Jadi bukan dari bahasa Belanda, meski negara ini telah menjajah tiga abad lebih di Indonesia.

Dasarnya, kata Schelegel, Belanda menyebut tembakau dengan sebutan Tabak. Sehingga sulit untuk dikaitkan dengan istilah Tembakau yang saat ini sudah menjadi istilah resmi di Indonesia. Karena itu wajar adanya, Tembakau memang diyakini dikenalkan oleh Portugis di Nusantara.

Dahulu, Tabaco atau Tumbaco dan kemudian menjadi Tembako dalam fonem Jawa. Digunakan bangsa Portugis untuk Sugi, yakni kebiasaan mengunyah daun Sirih yang dicampur Tembakau.

Sama dengan tradisi serupa di Indonesia yang dinamai Nginang. Hanya saja bedanya, Nginang tidak menggunakan tembakau. Ia hanya menggunakan daun sirih yang dicampur kapur dan buah Pinang. Sementara Sugi ala Portugis, daun Sirih dikunyah bersama dengan tembakau cacah.

Kuat dugaan, sentuhan Portugis inilah yang kemudian membuat penggunaan Tabaco atau Tumbaco menjadi masif. Tradisi Nginang pun akhirnya mencampurkan tembakau di dalam racikannya. Atas itu kemudian lahirlah kebiasaan Bako Susur, atau Sirih, Pinang dan Kapur yang sudah dicampur dengan tembakau.

Lambat laun, konon pada abad 17-an, Nginang ini pun berubah ke membakar tembakau, yang umumnya memang sudah dilakukan oleh raja-raja, yang juga sudah mendapat sentuhan tradisi dari orang Eropa yang berkunjung ke kerajaan-kerajaan di jawa.

Hal itu lah yang kemudian tercatat dalam hikayat Roro Mendut, yang terbuang dari kerajaan dan kemudian mempraktikkan cara membakar tembakau lewat Klobot (daun Jagung) lalu menjualnya di masyarakat Jawa.

Namun demikian, kala itu seperti tertuang dalam hikayat Babad ing Sangkala yang ditulis tahun 1738. Dahulu tidak ada istilah Rokok untuk tembakau yang dibakar. Orang Jawa kuno menyebutnya dengan sebutan Eses, Ses, atau Udud (isap). Istilah ini juga tertuang dalam Serat Centhini (1814).

Konon, kata Ses atau Eses disebut dari bunyi yang dikeluarkan ketika cacahan tembakau dibalut dengan Klobot (daun jagung) dan dibakar oleh penikmatnya, maka penikmatnya akan mengeluarkan suara seperti mendesis. Atas itulah di catatan Jawa kuno banyak ditulis sebutan Ses atau Eses.

Alhasil, hingga akhir abad 18-an, kebiasaan tembakau bakar dengan Klobot ini pun akhirnya menjadi lazim di lingkungan warga Jawa Kuno. Cuma mediumnya saja yang berganti, ada yang tetap menggunakan Klobot namun ada juga yang menggunakan daun Aren atau disebut Kawung. Beberapa mencampurnya lagi dengan Kemenyan sebagai pelengkap aromatik, karena Cengkih waktu itu belum dicoba.

Lantas kapan Tembakau masif di Indonesia? Era ini diduga kuat terjadi ketika Belanda sudah masuk ke Nusantara. Negara penjajah ini kabarnya juga membawa misi untuk membuka ladang Tembakau. Ini berdasarkan kebutuhan tembakau memang sedang tinggi di Eropa saat itu.

Atas itu, di sejumlah wilayah Jawa akhirnya dilakukan tanam paksa tembakau. Jika dahulu tembakau cuma menjadi tanaman pelengkap untuk penggemar Ses atau Eses dengan Klobot atau pun Nginang. Belanda rupanya ingin hal itu menjadi komoditi dagang. Berhektar-hektar tembakau pun ditanam di Jawa.

Apalagi, kala itu yang sudah memasuki abad 18-an. Di Eropa, sudah cukup populer yang namanya rokok atau tembakau bakar. Hanya saja mediumnya waktu itu menggunakan cangklong atau pipa. Sebagaimana dilakukan Suku Indian, penduduk asli Benua Amerika yang didatangi Columbus.

Waktu itu, orang Belanda memang cuma mengenal dua cara untuk menikmati tembakau. Pertama dengan menggunakan pipa atau Ro'ken dan kedua dengan cerutu seperti yang sudah populer di benua Eropa.

Atas itulah, kemudian di Indonesia akhirnya populer istilah Ro'ken, dan konon istilah inilah yang kemudian diserap menjadi penyebutan Rokok hingga saat ini. Namun, memang saat itu, yang bisa Ro'ken cuma memang orang-orang mampu saja. Di lingkungan pribumi, tetap warga setempat menggunakan Klobot atau Kawung untuk menikmati tembakau bakar.

Memasuki akhir abad ke-18, lahirlah kisah Haji Djamhari. Lelaki asal Kudus Jawa Tengah inilah yang dikenal karena pertama kalinya meracik tembakau bakar yang menggunakan Klobot (daun Jagung) dengan Cengkih.

Konon, seperti yang tertuang dalam buku Hikayat Kretek karya Sejarahwan Amen Budiman dan Ongkoham, ide pencampuran Cengkih dalam Klobot dan tembakau ditujukan untuk menyembuhkan sakit batuk dan asma Djamhari.

Ternyata usaha coba-coba Djamhari itu pun rupanya membuahkan hasil. Batuk dan sesak asma yang menderanya sedikit ringan. Alhasil, Klobot obat atau rokok ajaib ala Djamhari pun populer. Teman dan kerabatnya memintanya untuk membuat rokok serupa.

Diceritakan, Djamhari pun kewalahan memenuhi permintaan itu. Rokok ajaib Djamhari pun populer dinamai dengan sebutan rokok Cengkih. Hanya saja memang, ketika dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi meng-kretek, lama kelamaan warga akhirnya menamai rokok itu dengan istilah Kretek.

Dan konon, sejak itulah kemudian populer istilah Kretek. Djamhari pun menjajakan rokok kreteknya yang masih dibungkus Klobot per ikat berisi 10 linting. Dan tanpa kemasan apa pun.

Sejauh ini, bagaimana identitas Djamhari masih samar. Namun para sejarahwan memperkirakan, apa yang dilakukan Djamhari saat itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya rokok Kretek di Indonesia.

Sebab, usai kematiannya pada tahun 1890-an. Rokok ajaib, yang merupakan campuran tembakau dan cengkih yang konon dipercaya bisa untuk obat itu mulai dibuat masal di rumah-rumah warga Kudus jawa Tengah.

Bangkitnya Kretek Indonesia

Pengusaha rokok NitisemitoNitisemito

Sepeninggal Djamhari, mengutip dalam buku karya Raja Kretek, karya Erlangga Ibrahim. Munculah nama Nitisemito. Pedagang asal Kudus Jawa Tengah ini dinilai memiliki andil besar kebangkitan rokok Kretek di Indonesia. Bagaimana tidak, ia memulai bisnis kretek setelah melihat tingginya kebutuhan warga saat itu akan Klobot dengan Tembakau dan Cengkih.

Lewat tangan Nitisemito bersama istrinya Nasilah yang piawai membuat rokok Klobot. Ia pun akhirnya membuat bisnis rokok kretek pertama kali di Indonesia dan menggunakan kertas, tidak lagi Klobot atau Kawung seperti umumnya di Jawa.

Tahun itu, tercatat tepat tahun 1908, rokok kretek bernama Tjap Bulatan Tiga atau populer dengan sebutan Bal Tiga pun beredar di pasaran. Nama itu menjadi nama kedua setelah sebelumnya Nitisemito mengeluarkan nama rokok Tjap Kodok Mangan Ulo (Rokok cap Kodok Makan Ular) yang gagal di pasaran.

Kretek milik Nitisemito pun populer. Ia laris manis diburu oleh warga. Sehingga berkat bisnis itulah, Nitisemito akhirnya menjadi juragan kaya sekaligus pelopor bisnis rokok Kretek pertama kali di Indonesia secara masif sebelum pecahnya perang dunia kedua. Setidaknya, lebih dari 15.000 orang bekerja menjadi buruh rokok di usaha milik Nitisemito hingga tahun 1932-an.

Namun, sayang, seiring waktu sang Raja Kretek Indonesia ini pun akhirnya mengalami kebangkrutan. Belanda saat itu menuduh Nitisimito tidak membayar pajak. Perusahaannya yang sudah dipimpin anak Nitisemito akhirnya disita sejumlah asetnya.

Alhasil, Nitisemito pun limbung. Kondisi pun diperburuk dengan masuknya penjajahan Jepang pada tahun 1945. Perusahaannya diambil alih paksa dan kemudian diminta beroperasi lagi pada tahun 1947. Namun sial, usaha itu akhirnya mengalami kemacetan.

Nitisemito pun meninggal pada tahun 1953. Seluruh bisnis kreteknya redup dan akhirnya mati dengan sendirinya. Namun demikian, di balik itu bisnis kretek serupa rupanya ikut menjambur di Kudus dan sekitaran Jawa Tengah, dan meluas, beberapa bahkan ada yang bertahan hingga tahun ini.

Beragam nama rokok pun muncul sejak itu seperti, Djambu Bol, Nojorono, Djarum (Jawa Tengah), Bentoel (Malang), Gudang Garam (Kediri), Sukun hingga Sampoerna (Surabaya).

Namun, apa pun itu. Nitisemito memang telah mencatatkan sejarah. Ia menjadi figur orang Indonesia asli yang membangkitkan bisnis kretek di Indonesia. Ia menjadi pelopor mewabahnya bisnis kretek dimana pun. Karena itu tak ada salahnya, lelaki yang tak pernah bersekolah itu kini telah dinobatkan sebagai bapak Kretek Indonesia.

Candu yang jadi Obat

Dahulu, memasuki abad ke-18, ketika Djamhari mempopulerkan rokok ajaibnya dengan Klobot (daun Jagung) berisi Tembakau dan Cengkih. Sejatinya, apa yang ada di pikiran Djamhari hanya untuk kebutuhan obat.

Aroma cengkih yang berpadu dengan tembakau ketika daun Klobot dibakar, dipercaya menjadi asal muasal sembuhnya penyakit batuk dan sesak nafas Djamhari. Rokok ajaib itu lah yang menyebar dari mulut ke mulut. Rokok Cengkih itu pun diburu hingga membuat Djamhari kewalahan. Jualannya satu ikat yang berisi 10 linting Klobot Cengkih dan tembakau laris manis dibeli.

Ya, singkatnya itu awalnya adalah obat yang dipercaya bisa menyembuhkan sesak nafas dan batuk. Djamhari lah yang menjadi contoh. Ia sehat wal afiat berkat mengisap Tembakau plus Cengkih.

Tak ada rujukan medis pasti bagaimana 'beruntungnya' Djamhari saat itu bisa sembuh cuma dengan mengisap Tembakau plus Cengkih. Namun yang jelas, apa yang dilakukan Djamhari dan kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kretek di Indonesia itu memang untuk obat.

Di era kekinian, di tengah membanjirnya beragam informasi tentang bahaya merokok yang konon menjadi penyebab kematian jutaan orang di dunia dan dianggap sebagai mesin pembunuh paling efektif.

Rokok atau tembakau di Indonesia di sebagian tempat memang masih dipercaya untuk pengobatan. Salah satunya adalah dalam bentuk Terapi Balur Tembakau. Ya, balur atau melumuri tubuh dengan tembakau.

Pengalaman ini dirasakan Yekhti Hesti Murthi, warga Tangerang Selatan, yang kini menderita penyakit Hepatitis B. Perempuan yang telah mengidap penyakit ini sejak Januari 2016 mengaku telah berulang kali berupaya lewat jalur medis rumah sakit.

Namun entah mengapa, upayanya sia-sia. virus Hepatitis B justru semakin mengkhawatirkan menggerogoti tubuhnya. Hesti pun diharuskan mengasup obat-obatan rutin sebagai penawarnya. Dan ironisnya, obat itu terbilang mahal per butirnya. Jika terputus, maka ia harus memulai dari awal lagi pengobatan.

Hesti pun frustrasi. Atas itu lah ia mencoba pengobatan alternatif lewat terapi Balur. Menurut Hesti, terapi itu berupa memasukkan asap tembakau murni ke dalam tubuh (telinga, hidung dan mulut).

Setelah itu, pasien akan diminta tidur di atas sebuah plat tembaga yang sudah dialiri listrik. Baru kemudian seluruh tubuh pasien akan dibaluri dengan rempah-rempah herbal seperti, cairan tembakau, kopi, dan telur ke seluruh tubuh.

"Itu berlangsung beberapa jam, nanti setelah selesai kelihatan tuh di lempengan tembaganya, kalau yang organ tubuh kita sakit itu cairannya akan berubah menjadi hitam warnanya," kata Hesti, Rabu, 25 Agustus 2016.

Terapi itu, lanjut Hesti, mesti dilakukan oleh pasien secara rutin. Rentang waktunya ada yang bisa setiap hari dan ada juga yang berjarak hingga seminggu atau sebulan sekali tergantung dengan kondisi racun yang ada di dalam tubuh pasiennya.

Uniknya, pengakuan Hesti, terapi ini juga menganjurkan pasiennya untuk merokok. Ya, penyedia Terapi Balur mewajibkan seluruh pasiennya untuk mengisap rokok bernama Divine. Rokok putih dengan filter ini disebut berisi tembakau murni. Cara menggunakannya pun persis seperti mengisap rokok biasa.

"Saya juga diminta minum kopi yang dikocok dengan telur ayam negeri. Dan sampai sekarang, terakhir saya cek lab, virus Hepatitis B yang sempat divonis rawan itu berkurang. Sampai dokter ku kaget," kata Hesti.

Atas itu, kini Hesti meyakini, jika rokok khususnya rokok yang mengandung tembakau murni tak selamanya berbahaya untuk kesehatan. Ibu dua anak ini pun berharap agar semua orang bisa bijak dan tidak tendensius menyoal bahaya rokok bagi kesehatan.

"Rokok Divine ini kan dipakai untuk kesehatan. Ini murni tembakau pilihan yang diambil dari ketinggian tertentu," kata Hesti.

Lalu apakah terapi tembakau ini memang teruji medis? Sejauh ini, praktik yang digelar secara tertutup dan terbatas ini memang masih menjadi kontroversi. Uji kelaikan dan kebenaran metode pengobatannya juga belum bisa dipastikan secara benar.

Hanya saja memang, berdasarkan pengakuan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI Siswanto, tembakau memang diakui memang masuk dalam kategori obat. Namun di dunia kedokteran memang tidak dipakai.

Ia memang memiliki zat yang sifatnya merangsang. Namun demikian, karena lebih banyak bahayanya, akhirnya penggunaan tembakau tidak dianjurkan. "Tembakau itu memang bisa merangsang. Tapi jangan lupa yang lebih berbahaya itu karena rokok itu dibakar jadi asap. Inilah yg mengandung partikel bakaran tadi, karena partikel kecil maka mempengaruhi alveoli paru, juga mengandung zat karsinogen, nitrosoamoin. Jadi bukan nikotin asli jangan disalahartikan, tapi partikel yang ada di dalamnya," urai Siswanto.

Candu dan Dagang

Sejak beberapa waktu ke belakang, kisruh rokok di Indonesia memang belum pernah tuntas. Alasan kesehatan menjadi dasar utama bahwa rokok menjadi biang awal harus dikurangi.

Rokok juga dipersalahkan dalam meluasnya jumlah kemiskinan di Indonesia. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menyebut bila rokok menjadi penyumbang keuda terbesar masalah kemiskinan setelah beras, dengan kontribusi 8,08 persen di perkotaan dan 7,68 persen di pedesaan.

Dengan jumlah warga miskin tercatat hingga September 2015, sebanyak 28,51 juta orang atau setara 11,13 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

"Konsumsi rokok ini secara nasional maupun dilihat dari bawah garis kemiskinan itu masih cukup tinggi. Jadi rokok ini benar penyumbang kedua (kemiskinan) setelah beras," ujar Ketua BPS Suryamin, awal Januari lalu.

Atas itu, kini rokok pun menjadi perdebatan serius. Ia dianggap bisa mengancam negara, karena berdampak buruk bagi regenerasi dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Karena itu, muncul opsi agar bahwa rokok harus dibuat semahal mungkin. Harapannya akan ada pengurangan jumlah pembelian.

Unjuk rasa tolak kenaikan harga rokok

Aksi ribuan petani tembakau dari lereng Gunung Sumbing, Sindoro dan Prau menolak wacana kenaikan harga rokok dan menuntut pemerintah mengurangi impor tembakau.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI Siswanto, menilai dengan kenaikan harga jual, maka akan menurunkan daya beli. Khususnya bagi para perokok pemula yang baru belum mencapai level ketagihan.

"Kalau perokok pemula yang belum lama, maka secara ekonomi, dia adalah elastic to price. Artinya kalau harga naik, dia nggak akan membeli atau menurunkan konsumsi," kata Siswanto.

Ia tak menampik jika kebijakan kenaikan harga rokok tidak akan berpengaruh pada perokok lama. Sebab dalam pandangan medis, mereka sudah masuk dalam tahap adiksi atau ketagihan. Sehingga berapa pun harga, akan tetap dipaksa untuk membeli.

Siswanto mengaku, dari data survei saat ini ada satu dari lima anak telah merokok. Terbanyak adalah anak laki-laki sebanyak 36,2 persen dan perempuan 4,3 persen. Rentang umur mereka antara 13-15 tahun.

Ancaman atas penyakit kanker, jantung, paru-paru pun menjadi ancaman paling nyata bagi generasi Indonesia. Catatan Kemenkes, dari riset yang dilakukan tahun 2014. Terbukti bahwa perokok aktif telah membuat dampak buruk kepada orang yang tidak merokok terutama untuk anak-anak dan perempuan.

Rincinya, untuk anak usia 0-4 tahun, laki-laki mencapai 56,1 persen, perempuan 55,9 persen. Kemudian usia 5-9 tahun, laki-laki 57,6 persen dan perempuan 57,3 persen. Anak usia 10-14, laki-laki 56,1 persen dan perempuan 57,5 persen. Lalu anak usia 15-19 tahun, laki-laki 34,3 persen dan perempuan 57,1 persen.

"Semakin dia balita jumlahnya semakin tinggi (perokok pasif). Karena apa? Anak-anak ini kan di rumah. Bapaknya merokok dan dia kena," kata Siswanto.

Meski begitu, di balik perdebatan medis sengit tentang rokok tersebut. Sejumlah orang tetap meyakini bahwa isu ancaman kematian di balik rokok tak lebih sebagai propaganda.

 

Tujuannya sederhana, yakni mematikan bisnis rokok kretek di Indonesia dan membuat jutaan petani tembakau di Indonesia merana.

Budayawan Indonesia sekaligus peneliti Kretek, M Sobari, menilai sejak lama memang telah berembus kabar bahwa rokok kretek di Indonesia menjadi ancaman. Khususnya bagi para pemilik rokok putih atau rokok filter tanpa cengkih.

Jargon yang diembuskan, kata Sobari, dimulai dari rokok mengganggu kesehatan, rokok membunuh hingga pun rokok itu adalah barang haram. "Ini kepentingan dagang. Asing itu sejak lama memang khawatir dengan produksi rokok kita," kata Sobari.

Atas dasar itu Sobari meyakini kuat apa yang selama ini dituduhkan kepada rokok Indonesia tidak berdasar. Bahkan, kata Sobari, ia menduga kuat ada isu kebutuhan farmasi asing di balik protes keras terhadap rokok di Indonesia.

"Jadi masyarakat  jangan mengambil kesimpulan baru sekarang. Dari dulu persaingan ini selalu ada. Sejarahnya sudah panjang. Mau ngomong soal riset-riset segala, jelas kok ini ada kepentingan dagang. Tujuannya mematikan petani," kecam Sobari.

Lalu, bagaimana sesungguhnya perdebatan rokok sampai saat ini? Indonesia masih terus berkisruh soal ini. Ancaman medis di balik bahaya rokok, bisa jadi ada benarnya. Dan kekhawatiran bila kretek Indonesia akan dimatikan oleh rokok asing mungkin juga ada benarnya.

Sebab,  hal ini pernah diutarakan oleh almarhum Agus Salim yang juga pahlawan nasional Indonesia. Lelaki berkumis putih yang pernah menjadi duta besar Indonesia untuk Inggris pertama kali ini.

Konon, pernah menyemburkan asap rokok kretek di hadapan para tamu dalam sebuah jamuan diplomatik di Kota London. Seperti tertuang dalam buku “Kretek: Cultural Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes,” saat itu Agus Salim mengeluarkan asap putih dengan aroma khas menusuk di meja makan.

Spontan para tamu pun menanyai benda yang dia isap dan diembuskannya tersebut. Agus Salim pun menjawab, " It is (kretek) the reason for which the West conquered of the world."

 

(ren)

TERKAIT
TUTUP