TUTUP
TUTUP

Merayu Risma

Sejumlah pihak meminta Risma maju dalam Pilkada DKI Jakarta
Risma melakukan kunjungan kerja ke Batam

VIVA.co.id – Perempuan separuh baya yang mengenakan jilbab hitam dengan motif bunga itu menemani seorang pria yang menenteng tas kerja keluar dari rumah. Pagi itu, jarum jam masih menunjukkan pukul 05.00, ibu dua anak itu melakukan rutinitas bertahun-tahun, mengantar suaminya, Djoko Saptoadji, sejak dari pintu rumah sampai ke mobil yang selalu dikendarai sang suami seorang diri menuju tempat bekerja. "Hati-hati di jalan ya, Pak," ujar perempuan bernama Tri Rismaharini itu.

Setelah suaminya bertolak pergi kerja, perempuan kelahiran Kediri tahun 1961 ini segera bergegas masuk ke rumah. Tak lama di dalam, Risma, begitu panggilannya, keluar lagi sambil menenteng kotak plastik kecil berisi bubur kacang hijau hangat. Bubur ini nanti adalah sarapan yang akan dimakannya di dalam mobil, kebiasaan saat harus bergegas kerja sejak pagi buta.

Hari itu, perempuan yang sudah dua periode menjadi Wali Kota Surabaya ini dijadwalkan untuk meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Sepanjang perjalanan, mata Risma tampak antusias memperhatikan setiap ruas jalan yang dilaluinya.

"Itu jalan Pakal SMK Wachid Hasyim ini kok macet? Apa tidak bisa diaturkan agar jalanannya menjadi sedikit lancar, karena banyak anak sekolah yang mau masuk ini,” ujarnya lewat handy talky (HT) yang digenggamnya.

Risma memang tak bisa diam. Sekali pun dalam perjalanan, ia tetap memantau dan memberi instruksi kepada bawahannya. Dan satu kegiatan favoritnya adalah membenahi taman-taman kota. Tak heran jika dia dijuluki 'Ibu Giman’ alias Ibu Gila Taman. Sambil inspeksi, Risma mencatat dan memberikan instruksi kepada bawahannya agar memperbaiki yang dianggap kurang.

Itulah Risma, sosok ibu, istri dan pekerja pengabdi. Semua dijalankannya dengan telaten, sampai pulang larut malam. “Sejak kecil itu saya tidak pernah tidur siang, jadi tidak masalah kalau aktivitasnya padat. Pokoknya itu siklusnya begini, kalau jam 9 malam saya lolos tidak mengantuk, berarti kuat sampai lebih malam lagi,” kata Risma sembari tertawa.

Risma membersihkan jalan di kawasan Jembatan Merah

Membujuk Risma

Nama Risma belakangan ini kembali hangat dibicarakan. Perempuan yang baru dilantik 17 Februari 2016 sebagai Wali Kota Surabaya untuk kedua kalinya ini, dikabarkan akan diusung menjadi calon Gubernur Jakarta.

Ia disebut-sebut disiapkan melawan Ahok atau Basuki Thahaja Purnama, calon petahana untuk Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017. Risma dianggap satu-satunya 'senjata' yang bisa menandingi popularitas Ahok.

Memang harus diakui, kepiawaian Risma dalam bidang pemerintahan bukan isapan jempol. Namanya beberapa kali tercatat sebagai pemimpin terbaik di dunia. Seperti yang pernah dicatat majalah Fortune pada tahun 2015, Risma sempat disejajarkan dengan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, sebagai 50 tokoh paling berpengaruh di dunia.

Hal itu jugalah yang ditunjukkan Risma di Pilkada serentak 2015. Risma berhasil menang mutlak dengan perolehan suara 86,34 persen mengalahkan pasangan Rasiyo-Lucy Kurniasari yang diusung oleh Partai Demokrat dan PAN. 

Politikus-politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), selaku partai pengusung Risma, secara diam-diam terus merayu figur perempuan satu ini untuk bersedia ke Jakarta. Risma sampai beberapa kali ke Jakarta untuk bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Namun demikian, meski berulang kali pemanggilan, Risma  tetap kukuh di pendiriannya bahwa ia masih ingin bertahan di Surabaya. Janjinya kepada warga Surabaya mengikatnya erat di dalam hati. "Ini kan sudah janji atau komitmen saya," kata Risma di Surabaya, Kamis 11 Agustus 2016.

Partai-partai politik lain juga gigih merayu Risma. Partai Amanat Nasional (PAN) yang pada tahun 2015, menjadi lawan Risma di Pilkada Surabaya bahkan rela memutar haluan. PAN menasbihkan diri mendukung Risma agar bisa duduk di kursi DKI I. “PAN sangat mendukung Risma untuk ke Jakarta. Kami yakin Risma akan sukses memimpin Jakarta dengan cara yang ramah, santun dan tidak arogan," ujar Ketua DPP PAN Yandri Susanto di Jakarta.

Tak cuma itu, pimpinan wilayah PAN bersama PDIP, Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat, juga membentuk koalisi bernama Kekeluargaan. Misi koalisi ini sederhana, yakni menyepakati ada calon pemimpin alternatif bagi pemilih. Siapa calon, masih berkembang dalam diskusi dan pembahasan di tingkatan internal partai.

Hanya saja memang, opsional yang berkembang di beberapa petinggi parpol, pembentukan koalisi Kekeluargaan ini salah satu harapannya setidaknya adalah meyakinkan Risma agar mau ke Jakarta. "Kita rayu Risma agar bisa ke Jakarta. Agar Jakarta punya alternatif pilihan," ujar Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan di DPR.

Begitu pun dengan Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa. Pria berkepala plontos ini sepertinya masih menyimpan 'dendam' terhadap Ahok. Sikap Ahok yang meninggalkan partai mereka ketika duduk di kursi DKI Jakarta, menjadi dasar utama Gerindra untuk menolak Ahok kembali sebagai calon gubernur.

Diskusi Menakar Kandidat DKI 1

Nama Sandiaga Uno pun menjadi opsi Gerindra yang sudah mendapat restu dari Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Namun, apakah Sandiaga menjadi pilihan utama atau sekadar mendampingi Risma yang juga muncul sebagai pilihan, Gerindra sepertinya masih merahasiakan soal ini. Sebab partai ini tak mencukupi kursi untuk mencalonkan calon sendiri. 

Koalisi bersama partai lain pun menjadi pilihan wajib agar Gerindra bisa menjegal Ahok. "Kami kapok, orang yang kami besarkan, kami modalin, kok injak-injak kami. Masa kami mau diinjak dengan orang yang sama dua kali? Kami malu kalau kami dihina tiba-tiba kami calonkan lagi," kata Desmond.

Ya, apa pun unsur di balik koalisi ini. Harus diakui Risma memang boleh dibilang 'mampu' melawan Ahok dalam hal popularitas. Risma memang layak diusung melawan Ahok yang sudah mendapatkan tiga ‘perahu’ untuk berkompetisi yakni Partai  Golkar, Nasdem dan Hanura.

Namun politik Ketua Komite Pemenangan Pemilu (KPP) DPP Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono menyebut partainya belum mengeluarkan keputusan resmi terkait Koalisi Kekeluargaan. Demokrat belum memutuskan mendukung siapa pun di Pilkada Jakarta.

"DPP masih mempelajari segala kemungkinan. Demokrat cuma menginginkan agar DKI Jakarta dipimpin sosok yang humble, profesional, amanah dan dicintai masyarakat dan komitmennya membangun menuju kemajuan," kata lelaki yang akrab disapa Ibas ini.

Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDIP Gembong Warsono menyatakan bila partainya belum menetapkan apa pun soal Pilkada DKI Jakarta 2017. Munculnya nama Risma juga dianggap hanya sebatas kemungkinan, tergantung dengan situasi politik.

"Elektabilitas bukan satu-satunya alat untuk menentukan siapa yang akan diusung partai. Masih banyak variabel. Kepemimpinan menjadi hal penting," kata Gembong.

"Kami masih penuh dengan kalkulasi. Yang jelas sebagai partai pemenang pemilu dan pemilik kursi terbanyak di DPRD. kami punya kewajiban menghadirkan alternatif pemimpin yang layak untuk dipilih bagi masyarakat Jakarta," tambah petinggi DPP PDIP lainnya Arteria Dahlan.

Suara-suara Risma

Apa pun itu, munculnya Risma membuat politik Jakarta menghangat. Surabaya juga ikut menghangat dengan gerakan-gerakan menolak Risma ke Jakarta. 

Di Jakarta, sejak 21 Juli 2016 lalu, muncul sebuah forum yang menamai dirinya JakLover. Lembaga ini mengklaim merupakan gabungan dari berbagai elemen masyarakat yang intinya menginginkan Risma duduk di DKI Jakarta sebagai Gubernur. Kelompok ini percaya Risma akan memberi rona baik bagi ibu kota Indonesia tersebut. 

"Risma memiliki kepemimpinan yang lebih menarik terutama sisi humanis, sopan santun dan pribadinya yang sederhana," kata Ketua Media Kreatif JakLovers Ikhwan Saefulloh.

Namun demikian, JakLovers tetap tak menampik jika memang keputusan pencalonan Risma adalah kewenangan dari parpol pengusungnya. Ikhwan mengaku tak bisa berbuat banyak. "Isu di politik memang berubah setiap saat. JakLovers hanya menginginkan Risma ke Jakarta, urusan mengangkat domain parpol," tutur Ikhwan.

Lain hal dengan di Surabaya. Rumah pendukung Risma ini justru merasa keberatan jika wali kota mereka beranjak ke Jakarta. Figur Risma yang sudah membumi dengan warga di Kota Surabaya membuatnya layak dipertahankan dengan cara apa pun.

Menurut Aciek, selama ini yang menginginkan Risma ke Jakarta, adalah warga Jakarta. "Bu Risma tetap di Surabaya adalah harga mati, dan ini merupakan etika politik," kata Ketua Aliansi Perempuan jawa Timur Aciek Lutfianah. "Warga Surabaya tidak menginginkan Bu Risma ke Jakarta, karena beliau adalah pemimpin terbaik kami.”

Aksi penolakan Risma ke Jakarta pun juga diwarnai dengan penandatanganan petisi penolakan. Ribuan orang pun menandatangani petisi itu. "Pokoknya jangan pergi dari Surabaya sampai tugasnya selesai," tutur annisa, perempuan yang ikut menandatangani petisi menolak Risma ke Jakarta di Taman Bungkul Surabaya, Minggu lalu.

Putra sulung Risma, Fuad Bernardi, juga menolak ide ibunya berlaga di Pilkada Jakarta. Dengan tegas Fuad meminta agar ibundanya tetap memimpin di Surabaya. "Ibu masih punya janji menjalankan tugas sebagai wali kota Surabaya selama lima tahun," kata Fuad.

Atas itu, sebagai putra Risma, Fuad mendesak Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menolak mencalonkan Risma ke Jakarta. “Saya secara pribadi memohon agar rekomendasi itu tidak diberikan kepada Ibu, karena masih banyak tokoh lainnya,” ujarnya.

Risma memasak saat pelatihan kewirausahaan di Surabaya

Dan yang mengharukan, penolakan Risma untuk ke Jakarta ternyata juga menelusup hingga ke siswa sekolah dasar. Ketakutan akan hilangnya figur Risma di Surabaya, mendulang haru bagi para pelajar.

Ini terlihat ketika Risma menyambangi SD Negeri II Sumberejo Surabaya, Kamis 11 Agustus 2016. Tanpa disangka, seorang siswi bernama Meilia Ilmi langsung memeluk Risma dan menangis dengan sendu.

"Aku sedih kalau Bu Risma ke Jakarta. Kalau tidak ada Bu Risma, tidak enak, karena Bu Risma itu baik," ujar siswi kelas V SD itu sesenggukan di pelukan Risma.

Janji Risma

Lalu bagaimana dengan Risma? Sejauh ini perempuan pertama yang dipilih lewat pilkada langsung di Surabaya ini sepertinya tak ambil peduli jauh soal Pilkada DKI Jakarta 2017.

Dengan gaya khasnya, alumnus Institut Teknologi Sepuluh November ini selalu ceplas-ceplos ketika menanggapi soal Pilkada DKI. "Kalau aku berangkat ke Jakarta, lalu bagaimana kesejahteraan orang Surabaya?" kata Risma.

Risma tak menampik memiliki peluang menjadi gubernur DKI Jakarta. Namun, bagi Risma perebutan itu bukan semata memenangkan kekuasaan. "Ini bukan bagaimana PDIP berkuasa di Jakarta atau saya menang. Tapi ini bagaimana mensejahterakan masyarakat Jakarta," Kata Risma lugas.

Komitmen Risma untuk warga Surabaya memang menjadi dasar kuat ia menolak untuk berangkat ke Jakarta. Utang janji mengikat Risma kuat bahwa warga di Surabaya memang tengah membutuhkan figurnya. "Ini amanah berat, kalau saya melanggarnya, berarti salah," ujarnya.

Tapi sejauh mana komitmen ini, sebagai kader partai, Risma tak berani kukuh langsung dengan tegas menolak. Jawaban diplomatis Risma sepertinya tak sejalan jika kemudian disuguhkan dengan pertanyaan jika keinginan itu 'dipaksakan' oleh PDIP.

Risma memilih untuk menjawab seadanya. Ia pun memilih enggan berspekulasi. "Aku itu sebenarnya masih sangat ingin di Surabaya. Karena seperti yang aku omongkan sebelum-sebelumnya, tugasku di sini itu belum selesai," katanya.

Untuk itu, Risma berharap agar Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mau mempertimbangkan keberatannya. Risma bahkan meyakini jika Megawati pasti memiliki pertimbangan bijaksana, khususnya soal pengabdiannya di Surabaya.

“Ibu (Megawati) itu orangnya sangat memberikan kesempatan kepada orang lain. Sebelum rekomendasi (penunjukan) itu turun, saya pasti akan dipanggil terlebih dahulu, dan diajak bicara. Jadi tidak mungkin langsung turun begitu saja,” kata Risma.

Sementara itu, pengamat politik dari Saiful Mujani Research and Consulting, Saidiman Ahmad, menilai saat ini PDIP memang dalam posisi gamang untuk menentukan keputusan atas siapa yang akan didudukkan di DKI Jakarta saat Pilkada. Langkah untuk mencari lawan tanding Ahok jelas bukan perkara mudah. Penerimaan warga Jakarta atas kepiawaian Ahok membenahi birokrasi dan sejumlah pembenahan fasilitas, menjadi nilai kuat yang harus dicarikan penawarnya.

"PDIP mengalami kegamangan dalam mencari figur calon gubernur di DKI. Belum terlihat bahwa PDIP solid mendukung satu calon, termasuk kader mereka sendiri seperti Risma," kata Saidiman.

Menurut Saidiman, nama Risma memang memiliki peluang untuk duduk di Jakarta. Hanya saja, dari riset mereka, peluang itu tetap kecil. Sulit bagi PDIP jika tetap memaksakan Risma ke Jakarta.

"Dari simulasi kami, Ahok masih sangat tangguh, siapa pun lawannya.  Bila kondisi politik berada dalam kondisi normal sampai dengan 2017, saya kira kecil kemungkinan Ahok bisa dikalahkan," kata Saidiman.

Lantas mungkinkah Risma tetap ke Jakarta? Politik tetap politik, semua bisa berubah dalam sekejap. Bisa jadi banteng moncong putih kembali memasang Ahok. Bagaimanapun sejarah PDIP dengan Ahok tidak bisa dihapus begitu saja. 
Dan mungkin saja isyarat ini sudah dilontarkan Risma lewat ketidakpeduliannya soal Pilkada DKI Jakarta. Risma sepertinya sudah memberi isyarat bahwa nama Risma memang bukan untuk di Jakarta, namun partainya akan mengusung yang dianggap paling berpeluang.

“Lihat mukaku, apa terlihat galau dan tertekan? Ndak sama sekali kan?” ujar Risma lalu tertawa. (aba)

Baca Juga

Ahok ‘Bujuk' Mega

Kiprah Risma di Kota Pahlawan

TERKAIT
TUTUP