TUTUP
TUTUP

Aku dan Himalaya

Tak percaya, saya wanita yang bisa menjelajah Himalaya dengan motor.
Dian Tami

VIVA.co.id - Perkenalkan, nama saya Dian Tami Kosasih. Saya merupakan jurnalis perempuan di VIVA.co.id, yang biasa mengisi rubrikasi otomotif. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman seru perjalanan di atas motor untuk menaklukkan Pegunungan Himalaya yang terkenal mengerikan dan tak bersahabat buat manusia.

 
Jika bicara riding kali ini, sejujurnya menjadi pengalaman yang tak terlupakan buat saya. Sebab, saya merupakan satu-satunya peserta perempuan dari Indonesia yang diundang Royal Enfield. Selain itu, ini merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah India, terlebih langsung ke medan ekstrem. 
 
Saat saya datang ke daratan India, pabrikan motor asal Inggris yang sekarang dibeli oleh India itu diketahui juga tengah menggelar acara tahunan ke-13, Royal Enfield Himalayan Odyssey. Pada ajang tahun ini, Royal Enfield resmi mengenalkan Himalayan Odyssey Women’s Edition, dan saya mendapat kesempatan menjajal motor itu.
 
Untuk sampai ke Pegunungan Himalaya, saya harus menempuh perjalanan udara selama 10 jam dari Jakarta, tempat saya tinggal. Saya tiba ke New Delhi sekira pukul 21.00, Jumat 15 Juli. 
 
Jujur, saat kaki menginjakkan tanah yang terkenal akan film Bollywoodnya itu, tampak jauh dari ekspektasi saya: ada segerombolan anjing dekil sedang cari sisa makanan di tumpukan sampah yang berserakan di terminal kedatangan. 
 
16 Juli, saya melanjutkan perjalanan dari New Delhi ke Leh menggunakan pesawat. Sejak di depan airport, terlihat pemeriksaan tiket dan paspor telah dilakukan petugas keamanan. Berbeda dengan Indonesia, petugas keamanan ini mirip tentara, karena membawa senjata lengkap.
 
Menempuh perjalanan udara satu jam, saya akhirnya sampai di airport tertinggi di dunia. Berada di tengah-tengah pegunungan dan perbukitan, sejak turun pesawat kita sudah disuguhkan pemandangan yang luar biasa.
 
Pemandangan tak kalah luar biasa selama menuju hotel. Penduduk yang menghuni Leh juga sangat beragam. Selain terdapat penduduk dengan wajah khas India, di kota pariwisata tersebut juga terdapat penduduk bermata sipit dengan kulit putih dan berpipi merah layaknya penduduk negara tetangga, Nepal dan Tibet.
 
Petualangan dimulai
 
 
Setelah sehari diberi kebebasan untuk akrab dengan iklim dingin dengan oksigen tipis, saya bersiap melakukan riding pertama, 17 Juli.  Saya bangun pukul 06.00, berkemas dan sarapan.
 
Sarah merupakan pemimpin perjalanan kali ini. Dalam pengarahan yang dimulai pukul 08.00, saya bertemu dengan dua perempuan Kolombia dan Thailand, Angie dan Nok.
 
Saya diberi kunci dengan lambang RE. Ya, motor yang saya gunakan Royal Enfield Himalayan dengan pelat nomor DL 3S CZ6502 berkelir hitam.
 
Motor Royal Enfield di Himalaya
Motor Royal Enfield
 
Motor ini baru saja diluncurkan, dan tentu banyak orang yang mengincar ingin berada di balik setang itu. Syukur pun terucap, bisa menjadi orang pertama yang menjajal motor gagah ini, menjelajah Himalaya, seperti pada namanya. 
 
Dengan cepat, saya kemudian mengikat tas berisikan perlengkapan perjalanan di jok belakang.
 
Perjalanan hari itu saya bersama belasan bikers wanita, menempuh 100 kilometer menuju Khardung La Top. Melewati jalur meliku tak beraspal, sempit, dengan kanan tebing dan kiri jurang atau sebaliknya. Khardung La diklaim sebagai  jalan tertinggi di dunia 5.600 meter dari dasar permukaan laut.
 
Sekira 10 km memuntir gas motor, kami sudah disuguhkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa indah. Surga dunia. Terdapat pegunungan tinggi dengan jalan berliku, sangat memanjakan mata.
 
Setelah menempuh perjalanan 20 km kami harus berhenti di sebuah pos pengecekan yang dijaga oleh militer. Bagi Anda yang berasal dari negara lain, jangan pernah lupa untuk mempersiapkan paspor dan identitas diri, karena kerap dibutuhkan.
 
Hamparan batu, pasir serta pegunungan dengan salju di atasnya selalu setia menemani perjalanan saya. Suhu udara yang mencapai 10 derajat celsius telah saya persiapkan dengan membawa perlengkapan safety gear dengan tambahan jaket tebal di dalamnya.
 
Tak terhitung banyaknya tikungan, jalanan berbatu dan pasir yang saya lalui. Medannya memang berat. Lebih dari setengah perjalanan, tubuh kurus ini harus berdiri di atas motor bongsor 400cc itu, agar lebih nyaman.
 
Benar saja, medan berat membuat biker asal dari Thailand, Nok, tidak mampu mengontrol motornya dan harus terjatuh sebanyak dua kali. Namun saya berikan apresiasi padanya, karena dia tak patah semangat, dan tetap melanjutkan perjalanan menaklukan Pegunungan Himalaya.
 
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, kami berhasil mencapai puncak tertinggi Pegunungan Himalaya dengan sepeda motor. Hamparan salju serta pegunungan terlihat jelas. Sebagai salah satu tujuan wisata, Khardung La ternyata tak pernah berhenti dikunjungi wisatawan dunia.
 
Dian Tami di Khardungla
Setelah menempuh 100 kilometer, akhirnya kami sampai di Khardungla Top
 
Oksigen di Khardung La yang sangat tipis, disebutkan mampu menyebabkan high altitude sickness, sehingga para pengunjung yang berhenti di Khardung La Top, tak bisa berhenti terlalu lama, maksimal hanya 30 menit.
 
Setelah berfoto dan menikmati pemandangan luar biasa selama 20 menit, kami akhirnya kembali mempersiapkan menuruni pegunungan. 
 
Setelah menempuh empat jam perjalanan, akhirnya saya tiba di penginapan. Saya dengan empat rider tiba terlebih dahulu meski kami sempat mengambil jalan salah dan bertanya pada penduduk sekitar.
 
Hari kedua
 
Setelah menempuh perjalanan panjang menuju Himalaya, Senin 18 Juli saya harus mempersiapkan motor untuk melanjutkan perjalanan.  Pukul 06.00 kami bangun.
 
Tapi, tak lama seorang kru, Armita, mendatangi kami bertiga dan memberitahu bila kami tidak bisa riding hari ini. Saya, Angie, dan Nok harus menunda perjalanan gara-gara perizinan.
 
Lalu saya diminta menyiapkan motor, membawa ke bengkel, dan mengisi bahan bakar.
 
Hari ketiga
 
Selasa 19 Juli 2016, kami siap berangkat pukul 07.00. Setelah semuanya siap, kami memacu Himalayan menuju Tsokar. Jaraknya 153 km. 
 
Perjalanan hari ini dihiasi dengan pemandangan berwujud perbukitan cokelat. Hanya sesekali kami berjumpa dengan padang rumput dan tanaman hijau.
 
Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, jalan menuju Tsokar wajib melintasi beberapa wilayah militer yang dijaga ketat. Kami sempat ditahan untuk dimintai keterangan ke mana arah kami pergi.
 
Penduduk lokal yang berada di sekitar kami mencoba membantu menjelaskan maksud dan tujuan kami. Setelah sekira 25 km melewati wilayah militer, kami berjumpa dengan sungai jernih yang setia menemani kami sejauh 40 km.
 
Tak kalah menarik saat saya berjumpa dengan puluhan sapi yang sedang makan dan beristirahat di tepian jalan. Tak sedikit juga saya menemukan sapi sedang menyeberang dan membuat saya harus lebih ekstra hati-hati agar tidak menabrak mereka.
 
Hanya touring bertiga, kami lebih memperhatikan kondisi jalan dan arah yang akan kami lalui agar tidak tersesat. 
 
Benar saja, tak terasa, kami berbelok ke kiri menuju jalanan beraspal sempit dengan hamparan pasir luas. Berjalan sekira 30 menit di jalan beraspal kecil, kami harus berbelok ke arah pasir tanpa tapakan jalan. Pasir yang cukup dalam membuat kami harus menjaga jarak dan benar-benar menjaga keseimbangan berkendara.
 
Beberapa kali kami hampir terjatuh karena kedalaman pasir yang kami lalui setara dengan pasir pantai tanpa air. Perjalanan hari ini tidak dapat terlupakan karena seluruh pakaian kami kotor oleh pasir.
 
Royal Enfield melintasi padang pasir
 
Lelah, karena harus berkendara berbeda dari biasanya kami rasakan. Walaupun hanya 30 menit berkendara di pasir, lelahnya setara dengan tiga jam berkendara di aspal.
 
Namun itu semua hilang saat melihat banyaknya tenda, sepelemparan batu dari kami berada. Kami akhirnya mempercepat laju motor ke tenda-tenda yang sudah disiapkan untuk beristirahat. 
 
Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam, saya bermalam di satu tenda dengan dua tempat tidur kecil bersama Angie. Ditemani mi instan, satu-satunya menu makan malam yang kami doyan.
 
Pukul 18.30 matahari masih bersinar. Tapi suhu sudah menggigil. Kira-kira 4 derajat. Sembari santai, kami mengisi bahan bakar yang telah disedikan panitia. Menyiapkan motor untuk esok.
 
Tepat tengah malam, langit cerah, bintang gemerlap. Tapi tak ada satu pun yang keluar dari tenda. Tangan ini rasanya sudah beku. Aplikasi di handphone menunjukkan 1 derajat. Saya tak bisa tidur meski sudah pakai tiga jaket tebal.
 
Hari keempat
 
Meski badan kurang bersahabat, hari itu saya harus tetap melanjutkan perjalanan menuju Jispa. Jaraknya 203 km. Pukul 09.00 kami memacu kendaraan melewati padang pasir yang cukup dalam. 
 
Baru 10 menit, seorang rider terjatuh di antara gundukan pasir. Dua rider terjebak di antara gundukan pasir. Harus dibantu diangkat.
 
Setelah padang pasir, kami juga harus melewati aliran sungai kecil yang cukup panjang. Usai menerjang sungai, saya harus berhenti di pos pengecekan dan memberikan data diri beserta paspor. 
 
Kami lalu melanjutkan perjalanan dan mencoba mencari tempat makan karena sudah menempuh perjalanan hingga 6 jam. Sambil menunggu rider lainnya, saya memesan secangkir teh dan nasi dengan kari.
 
Royal Enfield melintasi sungai
 
Terdapat 4 aliran sungai dan jalan sempit dengan batas jurang yang harus kami lalui setelah 'mengganjal perut'. Pallavi, si penunjuk arah sempat mengalami masalah karena salah memilih jalur sungai, sehingga harus mendapatkan bantuan.
 
Setelah menempuh 2,5 jam, kami akhirnya sampai. Matahari masih bersinar. Saya bersyukur tidak melewati perjalanan di malam hari.
 
Hari kelima
 
Harusnya kami berangkat pukul 08.00 ke Manali. Tempat wisata dengan jarak 107 km. Tapi beberapa riders telat bangun. Sarah, leader kami, marah setelah tahu para riders belum siap. Perjalanan pun mundur ke pukul 11.30. 
 
Perjalanan kami dimulai dengan menyusuri jalan bertepikan jurang. Setelah menempuh perjalanan 30 menit kami akhirnya mengisi bahan bahan bakar di sebuah stasiun pengisian kecil. BBM yang biasa digunakan di India itu Petrol. Harga untuk satu liter lebih dari 60 rupee atau setara Rp11,7 ribu.
 
Jalan pertama yang kami lalui jalur menikung dengan jarak pandang terbatas, karena tertutup pasir tebal. Lepas dari jalur itu kami harus melalui jalan berbatuan menanjak.
 
Banyaknya truk yang belalu lalang menambah halangan kami saat memacu kendaraan. Bagaimana tidak, jalur yang hanya dapat dilewati satu truk dan jurang disebelah kanan membuat kami harus ekstra berhati-hati.
 
Jalur ektrem berbatu membuat tas saya terjatuh dari motor. Dibantu Angie dan Jimmil, saya kembali menyusun tas di atas motor.
 
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, kami akhirya tiba di sebuah jalur bukit dengan kabut tebal. Minum secangkir teh ditepi jalan dengan pemandangan gunung-gunung membuat saya semakin bersyukur diberikan kesempatan mengendarai Royal Enfield di pegunungan Himalaya.
 
Motor Royal Enfield di Himalaya
 
Agar sampai penginapan tidak telalu larut, kami akhirnya bersiap kembali setelah berfoto. Kabut sangat tebal membuat Pallavi yang berada di depan saya terjatuh saat menghadapi tikungan tajam. Dapat kembali melanjutkan perjalanan, saya akhirnya berada di posisi pertama dengan Angie diposisi kedua.
 
Jurang yang dalam, kabut yang tebal, banyaknya hewan yang berkeliaraan dan truk yang gemar memacu kendaraannya diatas rata-rata adalah tantangan berat yang harus saya lalui hari ini. Tidak hanya itu, saya dan Angie juga harus menghadapi hujan sebelum berada disebuah kota kecil yang sangat ramai.
 
Setelah menempuh perjalanan selama 2,5 jam dari tempat terakhir kami berhenti, saya dan Angie memutuskan beristirahat. 
 
Baru 10 menit kami melanjutkan kendaraan, kami melihat kemacetan yang disebabkan Nok terjatuh. Dia sedang dibantu warga sekitar. Maklum saja, jalanan saat itu sangat licin karena hujan deras baru saja berhenti.
 
Kembali memacu kendaraan, Saya, Angie, Sharada, dan Nok sempat tersesat dan harus bertanya kepada penduduk lokal letak pasti hotel kami. Sekitar pukul 19.00 waktu setempat akhirnya kami tiba di sebuah hotel yang letaknya berada di atas bukit.
 

Hari keenam

 
23 Juli merupakan hari terakhir saya. Sejak pukul 07.00, saya sudah bersiap kembali melakukan perjalanan dari Gaushani menuju Chandigarh di India.
 
Kami memulai perjalanan pada pukul 09.00. Jarak yang harus saya tempuh hari itu 210 km. Setelah sukses menyeberangi sungai, kami memacu kendaraan di tengah guyuran hujan. Cuaca mendung seolah-olah memberikan isyarat kesedihan di akhir perjalanan ini.
 
Jalanan licin dan berliku merupakan salah satu tantangan yang harus kami lalui. Dengan menyusuri pinggir sungai berhiaskan kabut tebal membuat perjalanan terasa sendu. 
 
Setelah 3 jam memacu si kuda besi, kami memutuskan meminum teh sejenak. Cuaca yang tadinya hujan, mendadak cerah, baju yang tadinya basah jadi kering, menjadi saksi perjalanan saya hari itu.
 
Ratusan tikungan tajam dengan pinggir jurang menjadi teman setia saya selama perjalanan, tak terkecuali hari ini. Bedanya, hari ini sudah dekat dengan kota. 
 
Karena kondisi jalan perbukitan yang macet, saya akhirnya memutuskan istirahat sejenak. 
 
Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalan berbatuan menuju kota. Sejam berselang kami tiba di kota. Mengikuti petunjuk arah yang ada, saya beserta riders lainnya terus memacu kendaraan menuju sebuah jalan bebas hambatan atau di Indonesia lebih dikenal jalan tol.
 
Berbeda dengan Indonesia, tol di India dapat dilalui kendaraan roda dua tanpa membayar. Hanya kendaraan roda empat yang dipungut biaya. 
 
Asik memacu motor, saya sempat tidak melihat seekor sapi di tengah jalan. Hampir saja saya menabrak hewan suci bagi umat Hindu tersebut.
 
Petunjuk arah yang salah membuat kami beberapa kali harus memutar laju kendaraan dan mengambil arah lainnya. Setelah beberapa kali bertanya dan mengikuti arah GPS yang ada, saya akhirnya tiba di Chandigarh pada pukul 17.30.
 
Perasaan lelah, senang dan sedih bercampur dalam hati setiap riders. Kami saling berpelukan untuk mengucapkan selamat karena telah berhasil menjelajahi pegunungan Himalaya. Memasuki pukul 20.00, seluruh riders Himalayan Odyssey berkumpul dan bertukar cerita pengalaman yang dilalui.
 
Mendapat sertifikat bagi kami para bikers wanita pertama yang mengikuti perjalanan Himalayan Odyssey adalah sebuah kebanggan yang tidak dapat diukur nilainya. Ini adalah bukti bila kami, bikers wanita dari seluruh dunia, berhasil menuntaskan perjalanan dan menaklukan jalanan Himalaya meski tantangan berat harus kami hadapi.
 
Baca Juga:
 
 
 
 
TUTUP