TUTUP
TUTUP

Berawal dari Barcelona

Tradisi emas di Olimpiade coba dikembalikan tim bulutangkis Indonesia.
Susy Susanti

VIVA.co.id – Histeria dan gemuruh seisi stadion The Pavello de la Mar Bella, Barcelona, Spanyol, pun pecah saat smes kencang tunggal putri Korea Selatan, Bang Soo-hyun, ke sisi kiri bidang permainan Susy Susanti terlampau melebar dan keluar lapangan. Ya, momen itu seolah menuntaskan sebuah penantian panjang dan menjadi momen paling bersejarah bagi bangsa Indonesia di arena Olimpiade.

Hari itu, Selasa 4 Agustus 1992, jadi sejarah terukirnya torehan gemilang kontingen Indonesia dengan sukses merebut medali emas untuk kali pertama di pesta olahraga terakbar sejagat raya itu. Jutaan publik Tanah Air pun turut larut dalam kegembiraan menyambut hasil impresif yang dicetak oleh pebulutangkis putri Susy Susanti.

Tangis haru dan perasaan bangga yang begitu mendalam menjadi pemandangan menarik kala Susy berada di podium tertinggi dengan berkalung medali emas. Suasana semakin haru kala lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan mengiringi berkibarnya Sang Merah Putih.

"Puji syukur, saya berhasil dan tugas mulia ini pun selesai," begitulah ungkapan hati Susy yang kala itu memang menjadi andalan dari cabang bulutangkis kontingen Indonesia dalam mengemban misi besar untuk meraih medali emas di Olimpiade Barcelona 1992, di mana bulutangkis untuk kali pertama dipertandingkan di kancah multievent dunia itu.

Susy mampu memenangkan partai puncak sektor tunggal putri setelah mengalahkan wakil Korea Selatan, Bang Soo-hyun, dengan skor 5-11, 11-5 dan 11-3. Sebelumnya, kedua pemain ini memang selalu terlibat dalam rivalitas tinggi dan bersaing ketat pada kejuaraan-kejuaraan bergengsi lainnya.

Hebatnya lagi, momen tersebut pun menjadi sangat menarik setelah kekasih Susy, Alan Budikusuma, juga sukses meraih prestasi serupa di sektor tunggal putra. Dalam partai all Indonesian final, Alan menundukkan rekan sepelatnas, Ardy B Wiranata, 15-12 dan 18-13. Alan dan Susy pun akhirnya menikah dan hingga kini dikenal sebagai "pengantin emas Olimpiade".

Susy Susanti & Alan Budikusuma saat meraih emas Olimpiade 1992 Barcelona

Susy Susanti dan Alan Budikusuma, Pengantin Emas Olimpiade

Indonesia sepanjang partisipasinya di ajang Olimpiade sejak 1952 di Helsinki, Finlandia, memang baru berhasil mendulang medali emas di Barcelona 1992. Ini merupakan kemajuan dari empat tahun sebelumnya di Seoul, Korea Selatan, di mana Kontingen Merah Putih mendapat medali pertama yakni perak dari cabang panahan lewat nomor beregu putri.

Menjadi juara di arena sekelas Olimpiade tentunya selalu jadi sebuah impian bagi seluruh olahragawan di muka bumi. Bidikan ini sebagai ajang pembuktian untuk menjadi yang terbaik di dunia olahraga.

"Olimpiade itu momen yang pasti sangat dinantikan bagi setiap atlet. Merebut medali emas tentunya torehan puncak sebagai olahragawan karena di situlah nama kita akan dikenang dalam sejarah dunia olahraga," jelas Susy Susanti yang identik dengan julukan 'Ratu Bulutangkis Indonesia' saat ditemui VIVA.co.id.

"Saat itulah momen yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Suatu kemenangan yang luar biasa dengan mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia. Saya bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa ini, meski sebelumnya target harus emas ini sempat membuat saya menjadi terbebani. Tapi, saya mampu membuktikan hal itu," ungkap wanita 45 tahun ini.

Baca juga:

Merajut Mimpi ke Olimpiade Rio

Medali Indonesia di Olimpiade

Perasaan bangga masuk buku sejarah sangat dirasakan Susy. Apalagi, ia mengukuhkan bulutangkis sebagai cabang olahraga yang begitu mengakar dengan kejayaannya dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Dan euforia serta momen mengharukan itu kini kembali melanda dan dinantikan oleh masyarakat Tanah Air dalam mendukung perjuangan para pebulutangkis terbaik Indonesia di ajang Olimpiade di Rio de Janerio, Brasil, pada 5-21 Agustus 2016.

Tercatat 10 atlet bulutangkis terbaik negeri ini akan bertarung dalam 5 sektor berbeda demi memberikan yang terbaik untuk Merah Putih. Mereka adalah Tommy Sugiarto (tunggal putra), Linda Wenifanetri (tunggal putri), Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (ganda putra), Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri), Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto (ganda campuran).


Asa di Pundak 10 Orang

Perjalanan para andalan Indonesia itu menggapai tiket Olimpiade tidaklah mudah. Berbagai tantangan berat mewarnai langkah mereka menuju Negeri Samba.

Mereka harus bisa masuk kualifikasi akumulasi poin dan peringkat sebagai syarat menuju Olimpiade yang dikeluarkan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) dalam periode 4 Mei 2015 hingga 1 Mei 2016. Setiap negara juga hanya dapat mengirim maksimal dua wakil pada masing-masing sektor di posisi 8 besar, dengan mengacu pada posisi di rangking dunia yang juga dibedakan antara sektor tunggal dan ganda.

Salah satu yang cukup menjadi kejutan adalah munculnya nama Linda Wenifanetri sebagai wakil tunggal putri. Sebelumnya, peringkat dunia Linda diprediksi tidak akan bisa mengalahkan Maria Febe Kusumastuti. Tapi, di saat-saat akhir masa penentuan di awal Mei lalu, Linda mampu mengungguli Febe, seusai hasil perhitungan poin dari ajang Kejuaraan Asia yang bergulir 26 April-1 Mei 2016.

"Berdasarkan list peringkat race to Rio, Linda berada di peringkat 15 besar dunia. Kami juga melihat data rekor pertemuan Linda dengan para pemain peringkat 10 besar dunia lebih bagus, sehingga otomatis dia lolos ke Olimpiade," kata Rexy Mainaky, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Senin 9 Mei 2016.

"Dari hasil analisa pelatih, Linda kami putuskan untuk lebih difokuskan ke Olimpiade, dan Febe justru lebih menyakinkan permainannya dalam ajang beregu seperti Piala Uber," tambah Rexy.

Tim bulutangkis Indonesia untuk Olimpiade Rio de Janeiro 2016

Dalam daftar peringkat BWF yang dilansir pada 5 Mei 2016, Linda berada di peringkat 22 dunia, sedangkan Febe menduduki posisi 24. Namun, dalam perhitungan Race to Rio, Linda berada di posisi 15.

Di sisi lain, 4 sektor lainnya justru punya catatan lebih stabil dibanding tunggal putri. Termasuk juga di tunggal putra yang diwakili oleh Tommy Sugiarto.
Putra pebulutangkis legendaris Icuk Sugiarto ini memang harus menjadi 'single fighter' di dalam zona 20 besar peringkat dunia tunggal putra dalam satu tahun terakhir.

Tommy kini berada di peringkat 8 dunia. Meski demikian, lolosnya Tommy bukan tanpa rasa kekhawatiran mengingat pencapaiannya dalam persaingan jelang ke Rio nanti.

Hal ini berdasarkan catatan kurang impresif yang diraih Tommy sepanjang 2016. Tommy belum sekali pun merebut gelar usai kali terakhir juara di ajang Indonesia Masters Grand Prix Gold 2015 di Malang, Jawa Timur.

"Saya sudah siap menatap Olimpiade. Ini kesempatan saya untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Jika sebelumnya kerap gagal, saya berharap kali ini usaha dan kerja keras maksimal saya bisa berbuah positif," terang Tommy setelah memastikan lolos ke Olimpiade 2016 pada awal Mei lalu.

Sektor ganda putra yang kerap menjadi primadona tim bulutangkis Indonesia pada ajang ini tetap mengandalkan duet terbaiknya, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, untuk meraih sukses. Sayangnya, performa Ahsan/Hendra juga terbilang tak begitu meyakinkan dalam perjalanannya menatap Olimpiade kali ini.

Juara dunia 2015 ini praktis hanya mengemas gelar pada Thailand Masters Grand Prix Gold sepanjang tahun ini dan sering kandas di turnamen-turnamen sekelas Superseries. Menyikapi hal ini, pelatih kepala ganda putra pelatnas, Herry Iman Pierngadi, masih tetap optimistis anak asuhnya itu bisa menjaga asa untuk membawa pulang medali emas, seperti yang ditargetkan PBSI.

"Sampai sejauh ini, saya melihat fokus mereka memang untuk Olimpiade. Tanpa mengecilkan arti turnamen-turnamen lainnya, situasi ini saya pikir masih bisa mereka atasi dan tak berpengaruh besar pada persiapan mental Ahsan dan Hendra," tegas Herry.

Satu wakil yang sering disebut-sebut dapat menghadirkan kejutan bagi skuad Merah Putih saat ini yakni duo srikandi Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Ganda besutan peraih medali perunggu Olimpiade Athena, Eng Hian, ini dipersiapkan menjadi salah satu andalan skuat Cipayung.

Pemilik medali emas Asian Games 2014 dan pemegang rekor laga bulutangkis terlama di dunia ini juga muncul sebagai "kuda hitam" dalam membidik podium tertinggi di Rio nanti. Terakhir, duet asal klub Jaya Raya Jakarta ini menjadi kampiun pada Singapore Open dan runner up di Australia Open Superseries tahun ini.

Adapun sektor yang sukses menyumbang 2 pilarnya ke Brasil adalah ganda campuran. Di bawah komando Richard Mainaky sebagai pelatih kepala, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto siap menebus kegagalan menyumbang medali emas pada Olimpiade London, 4 tahun silam dan Asian Games di Incheon, Korsel 2014 lalu.

Sederet koleksi gelar Owi/Butet tentu jadi pembeda bahwa pasangan ini tetap jadi yang terdepan dalam misi membalas kegagalan di Olimpiade edisi sebelumnya. Ketika itu, peraih 'hattrick' All England 2012-2014 ini sempat digadang-gadang bisa merebut medali emas untuk Indonesia, namun gagal di semifinal. Torehan paling anyar mereka tahun ini yaitu juara Malaysia Open Superseries Premier pada Januari lalu dan berada di peringkat 3 ganda campuran dunia.

Prestasi tak kalah mentereng tentunya juga dikoleksi oleh pelapis Owi/Butet, yang juga juara All England 2016, Praveen Jordan/Debby Susanto. Pasangan binaan klub PB Djarum Kudus ini diproyeksikan sudah bukan sebagai pelapis, tapi justru menjadi ujung tombak yang punya target dan ekspektasi sama yakni membawa pulang emas sektor ganda campuran.

Digembleng di Cipayung Hingga Kudus

Sejumlah jelang berlaga di arena Olimpiade pun disusun PP PBSI untuk menunjang dan pemantapan performa para atlet. Baik pengurus dan tim manajer punya proyeksi cukup menarik.

Persiapan pertama dilakukan seperti biasa dengan memaksimalkan fasilitas di kawasan pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur. Setelah itu, rombongan menjalani karantina selama 5 hari di Kudus, Jawa Tengah, 11-16 Juli 2016.

Pemusatan latihan di Kudus bertujuan untuk memantapkan persiapan atlet jelang pesta olahraga terbesar di dunia tersebut. Ini jadi program karantina pertama, setelahnya tim bulutangkis juga menjalani program karantina di Sao Paulo, Brasil, mulai 28 Juli 2016.

“Pada program karantina tersebut, kami melakukan simulasi selama di Olimpiade nanti. Jadi suasananya dibuat seperti di Olimpiade, di mana atlet tinggal di athlete village dan mereka harus menyesuaikan diri dengan jadwal selama di sana,” ujar Rexy, yang juga menjabat sebagai manajer tim bulutangkis di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

“Setiap sektor sudah menentukan jadwal dan program selama karantina. Selain latihan fisik dan teknik, mereka juga akan ada sesi diskusi bersama psikolog olahraga, analisa video pertandingan, dan berbagai program lainnya,” tutur peraih medali emas ganda putra Olimpiade Atlanta 1996 bersama Ricky Soebagdja tersebut.

Dengan agenda tersebut, para atlet diharapkan akan mampu menjaga konsentrasi dan fokus di program karantina. Harapan itu sempat diungkapkan oleh legenda sekaligus mantan Direktur Pelatnas PBSI, Christian Hadinata.

“Di training camp ini, kami harapkan pemain bisa saling mendukung satu sama lain. Hanya sektor ganda campuran yang meloloskan 2 wakil, sedangkan sektor lain hanya satu, namun mereka bisa saling bahu membahu dan mendukung satu sama lain. Kebersamaan ini akan menjadi senjata yang sangat ampuh dalam menghadapi event sebesar Olimpiade,” jelas pria yang akrab disapa Koh Chris ini.

Selain menggandeng tim analisis fisik, psikolog dan staf fisioterapis, dalam program ini juga ini dibentuk tim sparring partner khusus yang disiapkan bagi para atlet Olimpiade di karantina tahap pertama tersebut.


Analisis Taktik dan Mental

Selama karantina, 9 pebulutangkis pelatnas yang akan bertanding di Olimpiade --minus Tommy yang berlatih di Malaysia-- mendapat program latihan yang kurang lebih sama dengan di pelatnas. Akan tetapi, suasana latihan akan berbeda dari biasanya karena ditambah dengan berbagai kegiatan refreshing, guna membuat latihan makin kondusif dan menekan rasa jenuh dari para pemain.

Poin pembenahan psikologis para pemain rupanya juga menjadi sasaran utama dalam mengatasi ketegangan dan besar tekanan publik yang dapat membebani psikis atlet. "Salah satu yang paling penting adalah menjaga kenyamanan dan motivasi mereka. Baru setelah itu kita diskusikan apa saja yang masih mereka rasa jadi kekurangan untuk diperbaiki," kata Richard Mainaky, pelatih kepala ganda campuran PBSI kepada VIVA.co.id.

Richard juga yakin bahwa dua wakil ganda campuran yang turun bertanding memiliki kesempatan yang bagus di Rio. Owi/Butet akan bersaing dengan Bodin Issara/Savitree Amitrapai dari Thailand, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) dan wakil Australia, Robin Middleton/Leanne Choo di Grup C.

Sedangkan di Grup A, Jordan/Debby bersama dengan pasangan Tiongkok, Zhang Nan/Zhao Yunlei, Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah (Hong Kong) dan Michael Fuchs/Birgit Michels (Jerman).

Pentingnya faktor psikologis pemain ini juga disampaikan oleh Herry Iman Pierngadi selaku juru taktik Ahsan/Hendra. Ia menekankan bahwa sebisa mungkin seluruh proses persiapan jangan sampai membebani atau mengekang sang pemain.

"Saya berusaha untuk terus memberi motivasi dan jangan sampai terlalu mengekang serta membuat mereka terbebani. Untuk strategi, nantinya tergantung dari tipikal lawan yang akan kami hadapi," jelas mantan pelatih duet Candra Wijaya/Tony Gunawan tersebut.

Dari hasil undia yang belum lama ini dilansir, Ahsan/Hendra ditempatkan bersama Chai Biao/Hong Wei (China), Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang), Manu Attri/B Sumeeth Reddy (India). Adapun dua pasangan yang diwaspadai andalan Indonesia itu adalah Endo/Hayakawa dan Chai/Hong.

Sementara itu, pelatih Linda Wenifanetri, Bambang Supriyanto, justru menyoroti kondisi fisik semifinalis Kejuaraan dunia 2015 ini yang sedang tidak dalam situasi fit 100 persen. "Secara keseluruhan proses persiapan menuju ke Olimpiade berlangsung lancar, meski kondisi mereka belum pulih benar. Tapi, secara pribadi, Linda tentunya memiliki keinginan besar untuk tampil sebaik mungkin. Sebab, bisa jadi ini adalah Olimpiade terakhir bagi dirinya," terang Bambang.

"Linda telah saya beri motivasi dari tayangan rekaman-rekaman pertandingannya saat Kejuaraan Dunia 2015 lalu. Saya mencoba terus mengingatkannya bahwa jika tampil all-out, maka Linda juga bisa bersaing dengan para pemain tangguh lainnya," tambah mantan pemain ganda putra itu saat dihubungi VIVA.co.id.

Linda memang dituntut untuk bekerja keras dari awal laga. Karena ia tergabung di Grup J bersama pemain rangking 6 dunia, Nozomi Okuhara, dari Jepang dan wakil Vietnam, Vu Thi Trang.

Menyikapi hasil undian ini, Linda memilih untuk terus menjaga fokus dan kesiapannya. “Bismillah saja. Saya akan berusaha yang terbaik. Yang penting tetap fokus saja,” tegas Linda.

Untuk tunggal putra, Tommy tergabung di Grup J dengan Howard Shu (Amerika Serikat) dan Osleni Guerrero (Kuba). Jika mengacu pada kekuatan di atas kertas, hampir dipastikan Tommy bisa memenangkan kedua pertandingan penyisihan Grup J, walaupun Tommy tercatat belum pernah bertemu dengan keduanya.

“Menurut saya Tommy cukup berpeluang di penyisihan grup, secara rangking, Tommy jauh lebih unggul. Namun, Tommy tetap harus waspada karena Hsu dan Guerrero adalah pemain-pemain berpengalaman,” ujar pelatih Tommy, Toto Sunarto.                                                                 

Jika berhasil menjadi juara Grup J, Tommy bakal berjumpa dengan jawara dari Grup I, kemungkinan Rajiv Ouseph (Inggris) atau Sho Sasaki (Jepang).

Bonus Menanti

 Gita rencananya akan menyaksikan langsung perjuangan para pebulutangkis terbaik Merah Putih di Stadion Riocentro Pavilion 4.

Cabang bulutangkis baru dimainkan pada 11-20 Agustus 2016. Ketua Umum PP PBSI, Gita Wirjawan, menegaskan kepada para pebulutangkis yang akan bertolak ke Brasil untuk tetap semangat dan dapat tampil all-out. Bukan hanya itu, Gita rencananya akan menyaksikan langsung perjuangan para pebulutangkis terbaik Merah Putih di Stadion Riocentro Pavilion 4.

“Lakukanlah yang terbaik. Saya yakin kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan. Banyak ekspektasi dari masyarakat Indonesia, tetapi kita harus bisa mengatur ekspektasi tersebut supaya tidak terbebani,” ungkap Gita.

“Faktor keberuntungan juga sangat berperan. Apapun bisa saja terjadi di kejuaraan sebesar Olimpiade, jadi tetap berikan yang terbaik. Hope for the best and expect the worst,” tutur Menteri Perdagangan di era Presiden SBY tersebut.

Bukan hanya itu, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah menjanjikan bonus uang sebesar Rp5 miliar bagi atlet Indonesia yang bisa merebut medali emas pada Olimpiade 2016 ini. Dukungan serta dorongan moral ini pun diharapkan akan dapat menjadi motivasi dan pemacu yang positif bagi para pemain agar merasa bahwa perjuangan mereka benar-benar mendapat perhatian besar dari publik Tanah Air.

"Kami sadar, kami harus memanjakan para atlet. Kami juga merasa wajib untuk memenuhi apa yang seharusnya menjadi hak mereka," ucap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Gatot Dewa Broto.

"Bonus kali ini kami akan tingkatkan lima kali lipat dibandingkan dari Olimpiade London (2012). Untuk (peraih medali) emas Rp5 miliar, perak Rp2 miliar, dan perunggu Rp1 miliar," katanya.

Bonus besar yang dijanjikan pemerintah bagi para duta Olimpiade ini, mendapat sambutan positif dari Candra Wijaya sebagai mantan atlet nasional yang juga pernah sukses mempersembahkan medali emas dari cabang bulutangkis pada Olimpiade Sydney 2000.

"Ini tentunya bagus sekali. Bukan dilihat hanya sebagai dorongan motivasi saja, tapi lebih kepada bagaimana kerja keras dan perjuangan sang atlet ini dapat dihargai dengan setimpal. Artinya, perhatian pemerintah ini pula bisa memberikan sinyal bahwa prestasi di bidang olahraga yang diukir untuk Merah Putih maka jerih payah Anda tidak akan disia-siakan," tegas Candra.

Candra pun berharap hal ini juga menjadi sesuatu yang sifatnya menjadi agenda permanen dan mendorong munculnya sejumlah penghargaan lainnya bagi para atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa di bidang olahraga.

"Harapannya kebijakan ini bisa menjadi sebuah agenda tetap dengan payung hukum yang mengikat, entah itu berbentuk Undang-undang atau Keputusan Menteri (Kepmen). Yang jelas ini harus jadi terobosan baru upaya pemerintah yang terus memberikan jaminan kesejahteraan bagi para atletnya," tambah Candra.

Persiapan teknis dan psikologis telah dilakoni para pebulutangkis untuk mengembalikan tradisi emas bagi kontingen Indonesia. Bonus pun telah menanti. Ditambah doa seluruh masyarakat Indonesia, diharapkan keping-keping medali emas bisa menjadi buah tangan para atlet saat pulang ke Tanah Air kelak.

TERKAIT
TUTUP