TUTUP
TUTUP

Di Balik Akun @_TNIAU

Sukses bawa TNI lebih komunikatif dengan bahasa gaul di dunia maya.
Bersama Tuhan Kita Menyerbu Langit, salah satu gambar yang diunggah di akun twitter resmi TNI Angkatan Udara

VIVA.co.id – Makin banyak orang yang belakangan ini  penasaran dengan akun milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) di Twitter. Meski memiliki banyak akun yang menamakan TNI AU, ada satu yang cukup menarik perhatian, yakni @_TNIAU.

Akun tersebut mengaku sebagai Twitter resmi milik TNI AU dan dikelola oleh Dinas Penerangan (Dispen) AU. Berawal dari rasa penasaran kami atas cuitannya yang pintar memicu interaksi dan kerap nyeleneh, kami pun memberanikan diri bertanya dengan pihak Dispen AU.

Gayung bersambut. Pihak Dispen AU mengundang Viva.co.id untuk berkunjung ke kantor mereka di Cilangkap, Jakarta. Memang tidak begitu jauh, tidak sampai setengah jam jika berangkat dari kantor Viva.co.id di Pulogadung. Hanya saja, gedung TNI AU masih berada di kompleks Markas Besar TNI yang sangat luas luar biasa.

Kami pun harus masuk ke Mabes TNI AL agar bisa sampai ke gedung TNI AU. Di sana, sudah menunggu Letkol Sus Maylina, Kepala Sub Dinas Penerangan Umum (Kadispenum) TNI AU.

Sayang, kami tidak diizinkan untuk bisa melihat ‘dapur’ para Airmin, sebutan untuk admin Twitter @_TNIAU. Namun, kami berkesempatan untuk bisa berkenalan dengan Kadispen TNI AU, yang kebetulan baru dua bulan menjabat, Marsekal Pertama TNI Wieko Sofyan.

Kadispen AU Marsma TNI Wieko Syofyan

Kami memang punya tim khusus di sini (TNI AU) untuk urusan media sosial, tidak hanya Twitter tapi juga punya Facebook dan Instagram, juga website.

Dia menjelaskan betapa pentingnya publikasi melalui media sosial untuk bisa menjaga nama baik TNI AU sekaligus mengedukasi masyarakat akan seluk beluk TNI AU. Format penerangan menggunakan sosial media dianggapnya sebagai suatu keharusan seiring dengan teknologi yang semakin berkembang dan banyaknya pengguna smartphone.

Baca juga:

Mereka di Balik Media Sosial

Senjata Bernama Media Sosial

Setetes Darah dari Dunia Maya

“Kita memang punya tim khusus di sini (TNI AU) untuk urusan media sosial, tidak hanya Twitter tapi kami juga punya Facebook dan Instagram, juga website. Setiap minggu kami selalu melakukan evaluasi untuk memperkaya konten, termasuk untuk merespons sebuah isu di dunia penerbangan. Evaluasi ini sangat penting sebagai koordinasi sekaligus untuk memperbaiki konten ke depannya,” tutur Wieko.

Menurut Wieko, memang tidak banyak anggota tim media sosial di TNI AU, jumlahnya hanya sekitar 5 sampai 7 orang, yang komposisinya bisa berubah-ubah. Artinya, Airmin-nya tidak tetap.

Yang ditugaskan pun tidak sembarangan melainkan mereka yang sudah terbiasa berkutat di media sosial. Tidak selalu anak muda atau generasi milenial. Bahkan, kata Wieko, ada yang umurnya sudah 40 tahun lebih. Tidak heran jika kemudian isi cuitan @_TNIAU cukup mengena bagi segala umur, baik generasi milenial maupun baby boomers.

“Kami berusaha untuk tetap ada batasannya. Gaul boleh tapi tidak menghilangkan karakter akun sebagai institusi militer. Ini yang tetap kita jaga. Kami hanya ingin lebih dekat dengan masyarakat. Jika kami kaku, kan tidak semua orang suka dengan militer yang tegas. Kita ingin berbaur makanya kami coba sebijak mungkin,” kata Wieko.

Oleh karena itu, lanjut Wieko, pihaknya sangat mengharamkan untuk merespons apa pun yang bersifat politik. Mereka berusaha sebijak mungkin untuk tidak menanggapi ataupun terpancing dalam isu yang bersifat politik.

Ini merupakan kebijakan yang sudah kuat sejak akun ini dibuat pada 6 Juni 2012. Tidak heran jika kemudian perusahaan riset Markplus menganugerahinya Marketeers Netizen Award. Kala itu, Markplus menyebut Akun TNI Angkatan Udara adalah lain daripada yang lain karena hadir di jagat media sosial dengan semangat horizontal, inklusif, dan sosial. “Tak jarang, akun ini jago dalam memainkan conversation yang hangat, ramah, sekaligus berisi,” tulis Markplus untuk @_TNIAU.

Selanjutnya: Jauhi Politik dan Sara

TUTUP