TUTUP
TUTUP

Ponsel Ilegal Susah Dijegal

Kerugian negara bisa mencapai belasan miliar rupiah.
Pemusnahan ponsel ilegal di Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta, Senin (20/6/2016).

VIVA.co.id –  Pagi itu, 20 Mei 2016, Maul bergegas menyalakan laptopnya. Waktu menunjukkan hampir pukul 10.00 WIB saat pria bertubuh besar itu membuka sebuah situs e-commerce. Saat itu toko online tersebut tengah melego iPhone SE seharga Rp99.000. Normalnya iPhone SE dibanderol Rp8.000.000 per unit.

Penawaran murah itu tentu tak disia-siakan Maul. Dan, kenyataannya Maul tidak sendirian. Situs e-commerce yang baru naik daun itu diserbu ribuan konsumen pada waktu bersamaan. Nyaris satu jam Maul berkutat di toko online ini.

Namun transaksi tidak pernah berhasil diselesaikan tuntas. Berkali-kali situs ini error. Sampai pengelola situs memasang pengumuman daftar 100 pemilik iPhone SE, ia tidak juga berhasil menyelesaikan transaksinya.

Maul tak kurang akal. Keinginan memiliki ponsel cerdas masih mengalir deras. Gagal membawa pulang iPhone SE, ia melirik smartphone lain yang ditawarkan di situs e-commerce asal China itu. Saat ia menemukan ponsel Xiaomi yang harganya lebih murah dibanding harga di pusat perbelanjaan, Maul tidak segan-segan memencet tombol ‘Beli’.

Maul mungkin hanya satu dari sekian ribu orang yang terhipnotis merek besar Apple dan angka 99.000. Dia juga salah satu dari sekian juta penggemar smartphone baru yang tertarik dengan iming-iming harga murah di toko online.

Tak hanya Maul, berburu smartphone murah juga dilakoni Ajeng. Wanita berusia 21 tahun itu mengaku baru saja membeli Xiaomi Redmi Note di toko online.

peluncuran resmi xiaomi redmi note 3

Selain iPhone, Xiaomi juga banyak diburu lewat transaksi online. Foto: REUTERS/Bobby Yip

Ajeng mengaku selalu membeli smartphone di toko online karena tidak perlu repot pergi ke sentra penjualan ponsel yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Hanya dengan memesan melalui toko online, bayar melalui mobile banking, maka handphone baru akan segera meluncur ke rumah keesokan harinya.  

"Soalnya lebih murah beli di online daripada di toko resmi. Harganya malah kadang jauh lebih rendah dibanding harga pasaran," ujar Ajeng kepada VIVA.co.id.

Murah memang selalu menjadi kata yang menarik bagi konsumen di Indonesia. Sayangnya, kata sakti itu kerap tidak diikuti dengan kualitas dan purna jual yang mumpuni. 

Wakil Ketua Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia (AIPTI) Lee Kang Hyun  mengatakan industri sangat geram dengan maraknya penjualan ponsel di ranah online ini. Ia menengarai toko online menjadi jalan bagi masuknya ponsel-ponsel ilegal dan yang berasal dari pasar gelap (black market/BM).

Dia bahkan menyebut, dari total smartphone yang beredar di pasar Indonesia, sekitar 30 persen merupakan ponsel yang tidak resmi atau BM. Data GfK menyebut, di 2015 saja ada sekitar 33 juta unit smartphone yang terjual di Indonesia. Ini berarti hampir 10 juta bisa dibilang ilegal.

Country Lead Smartphone Division Lenovo Indonesia, Adrie R Suhadi, juga menyebutkan  kian maraknya peredaran ponsel ilegal. Selain merugikan pemerintah dari segi pajak pemasukan negara, ponsel-ponsel ini juga merugikan konsumen. Tanpa layanan purna jual, jika ada kerusakan dan masalah teknis usai pembelian, kepada siapa konsumen meminta jaminan perbaikan.

"Harga vendor resmi sudah pasti mahal. Selain bayar pajak, mereka juga membebankan harga berlebih karena harus berinvestasi untuk membangun pabrik, service center, kantor, dan marketing di Indonesia. Service center penting untuk menjamin kepuasan pelanggan dan memberikan garansi resmi saat perbaikan,” ujar Adrie.

Senada, Head of Product Marketing IT and Mobile Samsung Electronics Indonesia, Denny Galant, mengatakan, ponsel ilegal akan merugikan konsumen langsung. Untuk itu, dia menyarankan konsumen agar jeli dan pintar dalam memilih. Baca: Teliti Sebelum Membeli

“Justru yang kami pikir konsumen. Kalau konsumen tidak membeli dengan garansi resmi, kasihan mereka,” ujar dia. 

Namun siapa yang peduli garansi? Saat jari Maul maupun Ajeng menekan transaksi pembelian smartphone di toko online, mereka tentu tahu risiko tidak adanya garansi perbaikan resmi yang akan didapat ketika ponsel mengalami kerusakan. Bahkan mereka mengaku tidak kapok berbelanja gadget di toko online.

"Dulu saya beli yang resmi, garansi juga enggak pernah dipakai. Kalau servis enggak pernah tuh pakai kartu garansi resmi, selalu langsung ke tempat servis mana saja. Enggak bisa diperbaiki, ya beli baru. Banyak hape murah, kok,” kata Maul.

Harga murah ini juga yang membuat vendor semacam Xiaomi dan OnePlus bersikukuh tidak menggelar lapak mereka di dunia nyata. Dalam sebuah situs asing, Carl Pei, co-founder OnePlus yang baru berusia 26 tahun, mengatakan, mereka akan tetap berjualan online, dan tidak menggandeng partner di daratan. Baca: Diadang Kandungan Lokal

Strategi dilakukan karena mereka ingin harga ponsel yang ditawarkan tetap murah ke pelanggan, termasuk juga menjaga eksklusivitas dari OnePlus kepada penggunanya.

“Kami belum kepikiran menjual melalui toko ritel karena tidak ingin smartphone ini dijual seperti sayuran. Dengan tetap mengandalkan e-commerce, tidak ada yang mampu menandingi kami. Pesaing terdekat kami masih memiliki harga jual dua kali lipat lebih mahal dari kami karena mereka harus berpikir jualan online dan offline," kata Pei, dilansir dari Telegraph.

Selanjutnya, Tak Berkesudahan

TUTUP