TUTUP
TUTUP

Menuding Alkohol

Sifatnya kasuistik. Salah satu pemicu, tapi bukan yang utama.
Pemusnahan Puluhan Ribu Botol Miras

VIVA.co.id – Hampir seribu perempuan dan laki-laki berkumpul di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta. Tanpa harus diinstruksikan, massa bergerombol dengan tertib. Pelataran yang temaram menjadi terang setelah lilin-lilin dinyalakan. Mereka yang hadir lalu duduk melingkar, mendengarkan puisi berisi simpati dan seruan perjuangan. Inilah aksi #NyalaUntukYuyun.

Aksi solidaritas 1.000 lilin tersebut bertepatan dengan 40 hari kematian Yuyun, remaja perempuan yang diperkosa dan lalu dibunuh oleh 14 pria dewasa dan remaja di sebuah kebun di Rejang Lebong, Bengkulu. Sebelum kejadian nahas itu, Yuyun hendak kembali ke rumah sepulang sekolah.

Di tengah pelataran tugu, dibentangkan pula spanduk memanjang. Setiap simpatisan bergantian membubuhkan tandatangan sebagai simbol petisi agar pelaku kekerasan seksual dihukum seberat-beratnya.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/05/13/5735f7594b164-seribu-lilin-menyala-untuk-yuyun_663_382.jpg

Seribu lilin menyala untuk Yuyun. FOTO: VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto

Kasus Yuyun seperti membuka kotak pandora maraknya kasus kekerasan seksual. Macam-macam teori dilontarkan, dituduh sebagai penyebab perilaku agresif ini. Salah satunya, maraknya minuman keras atau beralkohol. Pada kasus Yuyun misalnya, para pelaku mengaku menenggak minuman keras sebelum mereka melakukan tindakan biadabnya. Berita Acara Perkara (BAP) yang disusun polisi menunjukkan adanya pengakuan para pelaku soal minuman keras tersebut. 

Dalam wawancara dengan VIVA.co.id, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi, Awi Setiyono, tak menampik alkohol kerap jadi biang kerok kasus-kasus kriminalitas. “Itu juga termasuk (alkohol). Yang selama ini kami ketahui karena miras itu kebanyakan pemicu perkelahian termasuk juga pemerkosaan. Itu kan tidak sadar, mabuk dan di bawah alam bawah sadar,” kata Awi Setiyono.

Namun dia juga menuding media dan perkembangan teknologi informasi sebagai pemicu para kriminal melakukan kejahatan. Awi memaparkan, dari keterangan yang dikorek aparat dari pelaku kejahatan seksual, beberapa di antaranya memang diketahui kerap menonton pornografi yang terakomodasi melalui situs internet maupun kepingan DVD ilegal yang dijual secara luas.

“Bisa jadi minuman keras (faktor). Kalau dari ponsel bisa download (pornografi),” kata Kepala Biro Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Suharsono di Mabes Polri, Jakarta.

Suharsono dalam kesempatan itu sempat pula menanggapi angka kekerasan seksual yang disebut-sebut meningkat. Menurutnya, angka tersebut naik turun. Hanya dia tak menyebut rincian dengan alasan bahwa data harus disiapkan dahulu sebelum dipublikasikan.

Selanjutnya...Hasil Riset

TERKAIT
TUTUP