TUTUP
TUTUP

Mendunia Berkat Tempaan Asing

Timba ilmu di negeri orang. Desainer konsep RI unjuk gigi di dunia.
Chikita Fawzi

VIVA.co.id – "Upin dan Ipin selamanya, betul, betul, betul. Pisang goreng ngap-ngap, bahagian satu". Begitu ucap kedua bocah lucu berkepala plontos dalam salah satu episode serial animasi Upin dan Ipin.

Cerita berawal dari seorang kakek yang berkendara motor memasuki pekarangan rumah Upin dan Ipin. Di jok belakang motornya teronggok dua keranjang yang penuh dengan tumpukan pisang.

Si kakek pun bergegas menurunkan setandan pisang. Diletakkannya dengan susah payah di sebuah balai-balai. Upin dan Ipin sempat mengagetkannya.

Lalu, kakek pun meminta keduanya membantu untuk mengangkat pisang-pisang yang masih berada di keranjang motornya. Upin dan Ipin menyanggupi, meski juga dengan bersusah payah mengangkatnya.

Sekelumit adegan serial animasi Upin dan Ipin asal negeri jiran, Malaysia, itu, memang terkesan sederhana. Bagi anak-anak, mungkin tidak ada yang istimewa. Mereka hanya terhibur dengan tingkah polah dua bocah lucu itu.

Adegan bermain, berlari, hingga bercakap-cakap, kadang juga sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. "Betul, betul, betul." Ucapan khas Upin dan Ipin yang sering ditirukan anak-anak.   

Ya, terlepas dari menghiburnya serial animasi televisi itu bagi sebagian anak-anak di Tanah Air, di balik itu ada "tokoh-tokoh" yang sangat berjasa. Mereka adalah para animator.

Peran pelaku di industri kreatif itu yang membuat Upin dan Ipin masih digemari hingga saat ini. Melalui tangan dingin mereka, alur cerita serial animasi itu dapat dengan mudah dicerna anak-anak.

Dari sekian banyak industri kreatif, yang cukup kentara dan terlihat hasilnya memang industri desain kreatif atau konsep desain yang bisa terdiri atas ilustrator, animator, hingga komikus. Banyak juga desainer konsep asal Indonesia yang sudah unjuk gigi di kancah internasional.

Sebut saja Marsha Chikita atau Chikita Fawzi yang terlibat dalam pembuatan animasi Upin dan Ipin itu.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2010/03/07/86233_ipin_dan_upin_ikut_merayakan_nyepi__peni_widarti___bali__663_382.jpg

Serial animasi Upin dan Ipin asal Malaysia juga digemari anak-anak di Tanah Air. FOTO: Peni Widarti

Christiawan Lie juga merupakan pembuat konsep karakter mainan untuk GI Joe, Transformers, Marvel Ultimate Alliance 2, Amazing Spider-man, dan Iron Man 3. Ada juga Andre Surya, satu-satunya digital artist asal Indonesia di Industrial Light and Magic (ILM) Lucas Film, yang didirikan tahun 1971 oleh George Lucas, sutradara Star Wars. Lainnya seperti Rini Sugianto yang pernah terlibat The Hunger Games.

Di industri desain grafis, Melissa Sunjaya pernah menggarap proyek branding Fox 20th Century, atau Henri Kusbiantoro yang menjadi salah satu art director di Landor, konsultan merek dan logo yang berpusat di San Francisco, AS. Ada juga nama Yolanda Santosa yang pernah masuk nominasi Emmy Award selama tiga tahun berturut-turut dengan karya desainnya untuk Desperate Housewives (2005), Ugly Betty (2006), dan Zack Snyder’s 300 (2007).

Di Indonesia tidak banyak anak muda yang memiliki kemampuan tersebut. Tidak heran jika bagi Chris, bisnis ini tidak memiliki banyak pesaing.

Dia pun dipercaya selama bertahun-tahun mengerjakan ratusan proyek klien dari luar negeri seperti Sony Online Entertainment, Mattel, Marvel Studio, hingga Lego.

“Kalau ilustrator, ada perkumpulannya di Indonesia. Sedangkan konsep desain tidak ada. Enggak banyak juga yang mengerti soal ini karena memang tidak ada (institusi) pendidikannya di Indonesia,” ujar Chris Lie, kepada VIVA.co.id.

Pernyataan senada juga diungkapkan Chikita Fawzi atau Kiki. Anak dari Ikang Fawzi dan Marissa Haque ini mengatakan, meski semakin lama industri animasi semakin membaik, tetap saja belum sejalan dengan apa yang telah terjadi di luar negeri.

Selanjutnya...Tempaan Perusahaan Asing

TERKAIT
TUTUP