TUTUP
TUTUP

'Kami Tak Ada Tawar Menawar'

Mahasiswa saat itu fokusnya hanya satu, meruntuhkan rezim.
Ahmad Doli Kurnia dalam sesi kader muda Partai Golkar

VIVA.co.id – Hari itu, tanggal 12 Mei 1998. Matahari belum sampai puncaknya ketika ribuan mahasiswa dari berbagai almamater memenuhi titik-titik strategis di Jakarta. Tengah hari, mereka berencana berkumpul di gedung MPR/DPR. Satu tujuan, menumbangkan rezim Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun.

Hari itu aksi unjuk rasa berakhir dengan tragis. Empat mahasiswa Trisakti Jakarta, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie meregang nyawa di halaman kampusnya. Timah panas menembus kepala, dada, dan kerongkongan mereka.
 
Bukan menyurut, gerakan mahasiswa justru makin besar, bak bola salju. Pecah, menjalar ke kota-kota besar lain di Indonesia. Mereka semakin gigih ingin perubahan. Kerusuhan pun pecah di Jakarta dan beberapa kota besar lain pada kurun waktu 13-15 Mei 1998. Aksi pembakaran dan kerusakan terjadi di mana-mana.  
 
Tepat sehari usai peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 21 Mei 1998, sejarah tercipta. Soeharto menyatakan mundur dari kekuasaannya.  Mendengar itu, ribuan mahasiswa, di antaranya Ahmad Doli Kurnia, yang kala itu ikut menduduki gedung DPR/MPR bersuka cita, mensyukuri perjuangannya membuahkan hasil.

"Paling dramatis itu saat Pak Harto mengumumkan pengunduran diri. Beberapa hari di Gedung DPR, terus kemudian kita mendengar pengumuman itu, kita jadi sujud syukur, nyebur ke kolam dan lain sebagainya,” kata seorang pelaku sejarah itu kepada VIVA.co.id.

Ketika peristiwa itu terjadi, Doli merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Bersama rekan-rekannya, dia turut menggalang aksi unjuk rasa besar-besaran tersebut. Peristiwa dramatis lain yang dikenangnya selain lengsernya Soeharto adalah insiden penembakan yang terjadi saat unjuk rasa besar-besaran itu terjadi.

”Soal penembakan-penembakan itu, saya kebetulan tidak jauh dari lokasi. Saat ke luar dari daerah Semanggi-Atmajaya, terjadilah penembakan itu,” ujarnya.

Doli memaknai gerakan mahasiswa 98 sebagai sebuah bentuk kritik terhadap kepemimpinan yang dianggap penuh penyimpangan. Paling menonjol adalah budaya oligarki, bagaimana pemerintah hanya membesarkan kelompok tertentu, memperjuangkan kelompok tertentu, baik dari segi kekuasaan maupun bisnis, termasuk juga keluarga Soeharto. Di lapangan, jurang antara si kaya dan miskin pun kian nyata.

Mahasiswa, kata Doli, sebetulnya tidak mempermasalahkan Soeharto secara pribadi. Di luar kesalahannya di akhir kepemimpinan, harus diakui jasanya sangat besar. Yang dipersoalkan adalah kepemimpinan yang tidak kompatibel lagi dengan perkembangan masyarakat yang terus bergerak maju menuju perubahan.

Doli sendiri mengaku turut membangun gerakan dari kalangan mahasiswa yang kritis terhadap kepemimpinan saat itu. Tahun itu, ia sudah berkiprah di kancah nasional sebagai salah satu ketua di PB Himpunan Mahasiswa Indonesia. Di intra kampus, Doli merupakan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Padjadjaran.

”Beberapa teman-teman yang kritis dari kampus berbeda membangun jaringan komunikasi. Begitu masuk level nasional ketemu semua,” ujarnya.

Sejumlah tokoh gerakan mahasiswa yang bertemu dan membangun gerakan bersamanya antara lain, Rama Pratama dari Universitas Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dan Ray Rangkuti dari UIN Syarif Hidayatullah, Sarbini dari FKSMJ, dan Simanjuntak dari GMKI.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/05/13/5735e611a458c-taufik-basari_663_382.jpg

Sejumlah aktivis berpose di tengah-tengah aksi demonstrasi 1998. Foto: Dokumentasi Pribadi Taufik Basari 

”Kita tentu berbeda latar belakang, yang jelas beda kampus, beda organisasi kemahasiswaan, ada HMI, PMII, ada GMNI. Juga bersama teman-teman yang independen, yaitu Ray, yang mengambil posisi dalam gerakan-gerakan LSM,” kata Doli.

Gerakan aksi mahasiswa 1998 itu terbilang solid karena tak mempersoalkan latar belakang. Mereka tidak membuat kompromi atau pun tawar menawar. Fokus mereka satu, rezim Orde Baru harus runtuh.

Sebagai aktivis yang tergolong senior, Doli bersama rekan-rekannya mengonsolidasi jaringan guna menyikapi situasi yang tak menentu itu. Diskusi digelar, isu dimatangkan, pemimpin mahasiswa disolidkan, nasihat senior didengar.

”Senior-senior di atas kita ada yang menjadi mentor, misalnya Yudi Latief, beberapa kali kita diskusi, mematangkan situasi, langkah-langkah apa yang akan kita konversi menjadi gerakan, dengan melibatkan senior-senior itu,” dia bercerita.

Meski menjadi pelaku sejarah, Doli menegaskan, bukan orang yang terdepan. Ia dan kawan-kawannya berada di lapis kedua, di belakang ketua-ketua BEM yang lebih muncul banyak muncul di publik.

Selanjutnya...Mahasiswa Tak Lagi Kritis

TERKAIT
TUTUP