TUTUP
TUTUP

Cara Amerika dan China Perangi Makanan Berbahaya

Mereka punya lembaga yang punya kewenangan besar untuk bertindak.
Petugas FDA melakukan uji lab di Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat.

VIVA.co.id –  Keberadaan badan yang bertugas mengawasi obat dan makanan dalam suatu negara pasti ada. Pertanyaannya, seberapa kuat fungsi lembaga tersebut untuk mengawasi dan mengontrol peredaran farmasi palsu dan ilegal yang membahayakan nyawa?

Pertanyaan itu layak muncul ketika pada Senin, 25 April 2016, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengumumkan hasil Operasi Storm VII. Operasi yang digelar BPOM RI bareng Kepolisian dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, menemukan fakta yang mengejutkan.

Dalam operasi ini, BPOM fokus pada pemberantasan sediaan farmasi ilegal atau palsu. Termasuk obat, obat tradisional (OT) mengandung bahan kimia obat (BKO), dan kosmetika mengandung Blemish Balm (BB).

Hasil operasi yang dilakukan selama satu bulan, sepanjang Februari-Maret itu sungguh mencengangkan. Secara keseluruhan operasi ini berhasil menyita dan mengamankan sediaan farmasi bermasalah sebanyak 4.441 barang. Nilai ekonomisnya bahkan mencapai lebih dari Rp49,83 miliar.

Operasi ini tak hanya dilakukan di Indonesia, tapi juga di negara-negara Asia Pasifik antara lain Singapura, Malaysia, China, India, Myanmar, Laos, Pakistan, Vietnam, Thailand, dan Afganistan.

Akhir Maret 2016, pemerintah China, yang juga terlibat dalam Operasi Storm VII, menyampaikan pengumuman yang menyentak kemarahan di seluruh Negeri Panda tersebut. Melalui Dewan Negara (kabinet), pemerintah China mengabarkan terjadinya peredaran vaksin ilegal yang terjadi sejak tahun 2011.

Vaksin ilegal ini menyebar di 20 wilayah, dan nilai transaksinya mencapai hampir US$90 juta. Vaksin yang dijual secara ilegal itu antara lain untuk kasus meningitis, rabies, dan penyakit lainnya.  

Berita  ini membuat publik geram. Penjualan vaksin secara ilegal berdampak pada cara penyimpanan vaksin yang tak sesuai standar. Padahal vaksin tersebut digunakan pada anak-anak, juga orang dewasa.

"Kasus vaksin ini berdampak pada berbagai wilayah dan menyebabkan masalah yang cukup menonjol seperti pengawasan kualitas yang tidak memadai, menunda penemuan baru, dan mekanisme manajemen risiko yang belum matang," kata Dewan Negara China, seusai hasil awal penyelidikan seperti dikutip dari Xinhua, 14 April 2016.

Penjualan vaksin ilegal ini sudah tercium sejak tahun 2011 lalu. Namun penyelidikan resmi baru dilakukan sejak awal bulan lalu. Untuk menindaklanjuti temuan ini, kepada publik,  State Council  lalu mengumumkan penyelidikan lintas departemen yang dipimpin oleh Bi Jingguan, pimpinan China Food and Drug Administration.

Dikutip dari www.sfda.com, China Food and Drug Administration (CFDA) merupakan lembaga langsung di bawah Dewan Negara RRC, yang bertanggung jawab atas pengawasan komprehensif tentang manajemen keamanan pangan, makanan kesehatan, dan kosmetik.

Lembaga ini adalah pihak yang berwenang atas regulasi obat di China. CFDA  juga yang mengatur rancangan undang-undang, rencana kebijakan administrasi dan pengawasan makanan (termasuk makanan aditif dan makanan kesehatan), obat (termasuk obat-obatan tradisional China), peralatan medis, dan kosmetik.

Peran CFDA di China sangat penting. Sebab, di negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia ini pelanggaran terhadap obat dan makanan selalu muncul. Tahun 2013, negara ini pernah digemparkan dengan susu formula untuk bayi yang mengandung melamin.  

Selanjutnya...Cara Amerika

TUTUP