TUTUP
TUTUP

Menata Desa Wisata

Desa wisata sudah ada sejak 2009, namun kini kembali didengungkan.
desa wisata Giriloyo, desa batik tulis

VIVA.co.id –  Tahun ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata RI mengucurkan dana untuk sektor pariwisata hingga Rp5 triliun. Target wisatawan mancanegara pun ditingkatkan menjadi 12 juta dan wisatawan lokal 260 juta. Desa wisata menjadi salah satu program yang diyakini mampu memikat dan mendongkrak jumlah wisatawan.

Program desa wisata sebenarnya sudah digalakkan sejak tahun 2009 melalui program PNPM Mandiri Pariwisata dan dibantu dengan dana Bansos. Kala itu, program desa wisata fokus pada pengembangan dan pengelolaan potensi yang ada di desa-desa. 

Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata Oneng Setya Harini mengatakan, saat ini program desa wisata lebih fokus terhadap pemberdayaan masyarakat desa itu sendiri. Meski begitu, ia mengatakan bahwa pemerintah kini tetap mengembangkan konsep desa wisata.

Lebih lanjut, ia mengatakan, konsep desa wisata adalah community based tourism atau pariwisata berbasis komunitas, di mana masyarakat sebagai pemilik sekaligus pengelolanya. Peran pemerintah sendiri lebih kepada sisi pemberdayaan masyarakat.

"Kalau misalnya ada satu desa yang dikelola oleh investor, saya bilang itu bukan desa wisata. Itu wisata pedesaan. Kalau desa wisata itu ya memang dikelola oleh masyarakat," ujar Oneng  saat dihubungi VIVA.co.id, Kamis, 14 April 2016.

Selanjutnya...Kriteria Desa Wisata

***

Kriteria dan potensi desa wisata

Dari begitu banyaknya desa di seluruh wilayah Indonesia, tak semua bisa menjadi desa wisata. Sebuah desa tentu harus memiliki daya tarik, baik itu budaya, alam, maupun daya tarik buatan.

Daya tarik tersebut kemudian dikemas menjadi sebuah atraksi yang menarik para wisatawan, misalnya menjelaskan bagaimana cara pembuatan makanan atau mengolah minuman khas desa tersebut dan aktivitas lain yang ada di sana.

"Intinya sih mereka (wisatawan) datang tidak hanya melihat, sudah. Tapi bagaimana wisatawan bisa berinteraksi dengan pengelolanya di situ," ucap Oneng. 

Pengelola Desa Wisata Guliang Kangin, Bali, Putu Suarsana, juga mengatakan bahwa keunikan merupakan kriteria wajib bagi desa yang ingin menjadi desa wisata. Jika tak ada keunikan yang bisa ditonjolkan, masih ada faktor SDM yang bisa membantu.

Seperti desa wisata yang dikelola Putu. Ia mengatakan, mereka memiliki beberapa SDM yang sudah terbiasa dengan dunia pariwisata. Warga di desanya, ujar dia, banyak yang bekerja di travel agent dan hotel.

"Kita memang dari awal penataannya bagus, jadi ada pijat, les Bahasa Inggris, penataran budaya dan lain sebagainya," ujar Putu saat dihubungi VIVA.co.id, Kamis, 14 April 2016.

Desa wisata yang pernah dikunjungi siswa-siswi dari sebuah sekolah di Amerika itu menawarkan beragam aktivitas kepada para wisatawan yang berkunjung. Menurut Putu, beberapa aktivitas yang sudah berjalan adalah village trekking, di mana wisatawan diajak mengelilingi desa, kemudian melihat pembuatan alat-alat rumah tangga khas Bali dan melihat warga membuat minyak kelapa. Ada pula kelas memasak hidangan khas lokal dan cara membajak sawah dengan sapi.

"Kita juga ada restorannya. Cuma tidak seramai di Penglipuran. Kita homestay juga ada. Sampai hari ini sudah ada 15 homestay yang sudah standar lah untuk penginapan wisatawan asing," kata Putu.

Oneng juga mengatakan bahwa homestay di desa wisata memiliki daya pikat tersendiri bagi wisatawan. Dengan bermalam di homestay, wisatawan bisa berinteraksi dengan pemilik rumah.

Intinya, konsep-konsep kehidupan sehari-hari warga bisa dikemas menjadi sebuah atraksi. Selain itu, konsep desa wisata biasanya mengenai budaya di masing-masing desa yang dikembangkan.

"Wisatawan sekarang itu kan sudah agak berubah ya. Mereka tidak hanya sekadar datang kemudian pergi, tetapi ada sesuatu yang mereka ingin bawa,” ujar Oneng.

Selanjutnya...Desa Wisata di Nusantara

TUTUP