TUTUP
TUTUP

Mengubur 'Teluk Suci'

Teluk Benoa wilayah sakral bagi lingkungan dan budaya di Pulau Bali.
Sejumlah pengunjuk rasa menggelar aksi tolak reklamasi Teluk Benoa di perairan Pantai Lebih, Gianyar, Kamis (10/3).

VIVA.co.id –  “Sejumlah besar air, bersama dengan yang lainya berkumpul menjadi sungai yang mengalir bersama-sama menuju ke penampungan (muara dan teluk). Air yang murni (suci), baik dari mata air maupun dari laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan.” Itu petikan dari naskah Manawa Dharmasastra IV, Kitab Hukum Hindu Bali.

Sejak berabad silam warga Hindu di Bali menempatkan air dalam posisi penting. Tanpa air, maka tidak akan ada upacara yang bisa diselesaikan.

Sebab itu, Agama Hindu Bali pun juga disebut agama Tirtha. Agungnya air pun menjadi pedoman hidup masyarakat di Pulau Dewata. Dan atas itu juga sejak lama kenapa orang Bali pun percaya, perlakuan buruk terhadap air akan menimbulkan sengkala (celaka) atau pemali (terganggu energi gaib).

Tahun ini, hampir lima tahun sudah nama Teluk Benoa mengemuka. Ada rencana proyek reklamasi atau pembuatan pulau baru di atas kawasan yang sejak lama dikenal warga Bali sebagai Campuhan Agung (pertemuan sungai dan air laut).

Diakui, kedekatan Hindu Bali dengan Teluk Benoa sudah mengakar erat. Sejak berabad silam, Benoa menjadi kawasan penting nan suci. Maklum, Teluk Benoa sudah menjadi rumah bagi tujuh aliran sungai dan berkumpul membentuk sebuah aliran kehidupan yang bersemayam di falsafah hidup warga Bali.

Sebab itu, mahfum adanya di sekitar perairan Teluk Benoa setidaknya terdapat 60 titik suci sakral yang hingga kini masih dipertahankan warga Hindu Bali. "Teluk Benoa itu kawasan suci. Sebab itu harus dijaga dan tidak boleh disentuh apa pun," kata Koordinator Divisi Teknis Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) I Nyoman Mahardika.

Dari perspektif lingkungan, kawasan Teluk Benoa sesungguhnya merupakan wilayah perairan pasang surut. Ia terletak di belahan selatan Pulau Bali dan berbentuk teluk yang dilingkari hutan Mangrove.

Luas kawasan ini secara keseluruhan mencapai 1.988 hektare jika diukur dari garis terluar pantai dan dikelilingi oleh 12 desa, enam desa di Kota Denpasar dan lainnya dari Kabupaten Badung.

Sejak lampau, Teluk Benoa menjadi benteng mangrove terbesar bagi Pulau Bali di Selatan. Setidaknya ada 1.394 hektare mangrove bertebaran di Teluk Benoa. Sebab itu juga, Teluk Benoa pun menjadi rumah berlindung bagi ribuan fauna dan flora. Dan tentu saja, Teluk Benoa merupakan segitiga emasnya Bali. Sebab kawasan ini berada tepat di pusat pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata seperti Sanur-Kuta dan Nusa Dua.

Selanjutnya..Awal Masalah

TUTUP