TUTUP
TUTUP

Menampung yang Tak Beruntung

Pesantren tak hanya untuk anak yatim dan dhuafa. Pun anak jalanan.
Sejumlah santri mengikuti kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Nurul Huda. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

VIVA.co.id – Puluhan anak terlihat khusyu. Mata mereka kompak menatap papan tulis warna putih (white board) yang berdiri kokoh di depan ruangan. Mengenakan sarung dipadu baju dan kopiah warna putih, mereka duduk bersila di lantai. Masing-masing anak menghadap meja kayu berukuran kecil dengan kitab, buku tulis, dan pena di atasnya. 

Para remaja usia belasan tahun ini adalah santri Pondok Pesantren Nurul Huda. Tak ada yang istimewa di ruang kelas. Hanya poster Garuda Pancasila diapit foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menghias ruangan seluas lapangan bola voli ini.

Foto para petinggi negara itu terpampang tepat di atas papan tulis. Di sisi kanan, ada deretan kertas karton yang berisi tulisan struktur kelas serta jadwal piket siswa. Sisanya adalah dinding warna putih.

“Orang yang pintar itu akan terus dikenang oleh masyarakat, meski ia telah meninggal,” ujar Muhammad Imam Maarif (31) memecah kesunyian kelas. Hari itu, guru sekaligus pengelola Ponpes Nurul Huda ini sedang memberikan pelajaran akhlak bagi para siswa kelas VII atau I SMP.

Pria yang akrab disapa Gus Imam ini mengatakan, akhlak merupakan salah satu pelajaran yang ditekankan di pesantren yang terletak di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Purwoktero ini. Ia mengatakan, di pesantren peninggalan ayahnya itu, santri belajar dari pagi hingga sore. Sesekali, santri juga belajar hingga malam.

Selain memberikan pelajaran agama, pesantren ini juga menyelenggarakan pendidikan formal untuk level SMP dan SMA. Meski demikian, pesantren ini tak memisahkan antara pendidikan formal dan pendidikan agama, semuanya terpadu menjadi satu.

”Tidak ada pemisahan antara ngaji dan sekolah,” ujarnya saat VIVA.co.id menyambangi Ponpes Nurul Huda, Rabu, 17 Maret 2016.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/03/25/56f53c5a44fe3-muhammad-imam-maarif-guru-sekaligus-pengelola-ponpes-nurul-huda_663_382.JPG

Muhammad Imam Maarif sedang mengajar di ruang kelas Pondok Pesantren Nurul Huda. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Hal itu diamini Zainur Rohman (31), salah satu guru di Ponpes Nurul Huda. Menurut dia, pendidikan agama dan pelajaran umum terintegrasi menjadi satu. Senada dengan Gus Imam, ia mengatakan, prioritas sekolah adalah pelajaran agama dan akhlak.

“Meski nilai pelajaran umum bagus, kalau nilai pelajaran agama dan akhlaknya jelek tidak akan lulus,” ujar guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia ini.

“Kalau di sini pendidikan jadi satu. Jadi, tidak ada kegiatan sekolah yang nabrak pondok dan sebaliknya. Kurikulum dari dinas hanya 30 persen. Sisanya kurikulum kami sendiri,” ujar Pengasuh Ponpes Nurul Huda, Muhammad Abror (41) kepada VIVA.co.id, Kamis, 17 Maret 2016.

Saat ini ada sekitar 700 santri putra dan putri yang belajar dan mengaji di Nurul Huda. Mereka tak hanya berasal dari wilayah seputar Purwokerto dan Kabupaten Banyumas, namun juga ada yang dari luar Jawa, seperti Lampung dan Palembang.

Selanjutnya...Pesantren Dhuafa

TUTUP