TUTUP
TUTUP

Memburu Bahrun Naim

Sempat diciduk Densus. Benarkah dia aktor kunci Bom Teror di Thamrin?
Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Solo, 21 Februari 2011.

VIVA.co.id - Rumah dua lantai itu - yang terletak di dekat Sungai Pepe, Kelurahan Sangkrah, Kota Solo - terlihat sepi. Lantai satu yang digunakan sebagai toko dengan pintu warna biru itu juga tertutup rapat.

Bangunan berdinding putih ini merupakan kediaman orangtua Bahrun Naim. Biasanya, toko yang terletak di lantai satu bangunan itu ramai pembeli.

Beragam makanan beku siap saji - seperti nuget, tempura, otak-otak, bakso dan lainnya - dijual di toko ini. Namun, setelah teror bom dan penembakan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016,  toko itu langsung tutup. Pelanggan yang ingin membeli makanan olahan tersebut harus memencet bel lebih dulu di bagian pintu sebelah selatan toko.

Usai Teror Bom di Thamrin itu, keluarga Bahrun Naim menutup diri dan lebih banyak berdiam di dalam rumah. Ini terjadi setelah polisi menuding Bahrun Naim sebagai dalang aksi teror di Thamrin.

Dua orang perempuan berhijab sempat membukakan pintu, setelah sejumlah wartawan mencoba bertamu. Namun, mereka menolak melayani permohonan wawancara dan langsung menutup pintu.

Bahkan, pada hari Jumat, sehari setelah teror di Jakarta terjadi, rumah tersebut dijaga oleh sejumlah laskar.

Sosok Pendiam

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/01/22/361300_bahrun-naim_663_382.JPG

Bahrun Naim saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Solo, 21 Februari 2011.

Bahrun Naim dikenal sebagai warga Solo dan masih terdaftar sebagai warga Sangkrah, Pasar Kliwon. Menurut seorang petugas Kelurahan Sangkrah, yang tak mau disebutkan namanya, hingga saat ini pria kelahiran Pekalongan, 6 September 1983 tersebut belum pernah mengajukan pindah alamat.

“Dia masih tercatat sebagai warga sini,” kata petugas itu kepada VIVA.co.id, Jumat, 15 Januari 2016.

Setelah menikah, pria bernama lengkap Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo ini sempat mengontrak sebuah rumah, yang jaraknya tak jauh dari kediaman orangtuanya, yakni di daerah Mertodranan, Pasar Kliwon, Solo.

Di rumah kontrakan itu, putra nomor dua dari empat bersaudara tersebut pernah dicokok oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror pada tahun 2010.

Tudingan polisi yang menyebutkan Bahrun Naim menjadi dalang di balik serangan teror bom Thamrin membuat warga di sekitar kediaman orangtuanya kaget.

Sugeng, salah satunya. Ia tak percaya, tetangganya itu dituduh sebagai otak dari bom Thamrin.

“Kaget saja karena tidak ada tanda-tanda jika Mas Naim seperti itu,” ujar Sugeng kepada VIVA.co.id, sehari setelah kejadian.

Menurut warga setempat, Bahrun Naim merupakan sosok yang dikenal memiliki kepribadian yang sangat sopan. Selain itu, jebolan D3 Ilmu Komputer, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo ini juga pendiam.

Alumnus SMA Al Islam Solo tahun 2001 ini juga jarang meriung dan berkumpul dengan warga sekitar. Berbeda dengan ayahnya, Fathurohman, yang sangat aktif bertetangga.

“Kalau bapaknya memang orangnya baik dan sering bersosialisasi dengan warga. Sedangkan Mas Naim itu jarang berkumpul dengan masyarakat,” ujar Sugeng menambahkan.

Dia mengaku sudah jarang melihat Bahrun Naim di rumah orangtuanya. Terakhir kali melihat putra nomor dua dari empat bersaudara itu sekitar setahun lalu.

“Saya tidak lihat Mas Naim sudah lama sekali. Kira-kira tahun lalu terakhir melihatnya.”

TUTUP