TUTUP
TUTUP

Mereka Pilih Pindah Haluan

Berani ambi risiko demi berbisnis secara Islami dan hindari riba.
Setelah enam tahun memimpin perusahaan, Putra Fajar (kanan) memilih hijrah dan berusaha berbisnis sesuai syariah.

VIVA.co.id - Kedua matanya memerah. Tesmak bening yang bertengger di atas hidung, tak mampu menutupi air yang menggenang di kedua bola matanya. Sesekali, ia melepas kacamata dan menyeka air mata yang jatuh dengan kedua tangannya.

Suaranya terdengar berat, seolah ada beban yang menyumbat. Tak jarang, ia mendesah dan menarik napas panjang.

Beberapa kali, ia menghentikan cerita dan terdiam. Matanya yang basah terlihat nanar, memandang jalanan.

Ia berusaha menghangatkan suasana dengan berkelakar dan bercanda. Sesekali, ia tertawa, meski dengan mata merah dan raut wajah yang tak berubah.

Putra Fajar (37), demikian nama yang tertera di kartu identitasnya. Namun, pria yang dikenal hangat dan suka bercanda ini biasa disapa dengan Putra.

Tak ada yang istimewa dengan ayah empat anak ini. Tubuhnya yang terlihat kurus hanya dibalut kaos oblong warna merah dipadu celana gelap dan sandal jepit kulit ala kadarnya.

“Istri saya sekarang kurus. Mungkin karena pusing mikirin kondisi keuangan kami,” ujarnya seraya tersenyum kecut saat VIVA.co.id menemuinya di salah satu rumah toko (ruko) di kawasan Bogor, Rabu, 6 Januari 2016 lalu.

“Anak saya juga sudah lima bulan belum bayar uang sekolah. Jangankan uang sekolah, air di galon habis saja kami sudah bingung,” ujarnya sambil terkekeh.

Pengakuan Putra sangat mengejutkan. Pasalnya, suami Dessy Noviyanti ini merupakan mantan orang nomor satu di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang outdoor advertising.

Putra adalah Direktur Utama di perusahaan bonafide tersebut. Tak hanya itu, pria ini juga berasal dari keluarga yang berkecukupan. Sejak kecil hingga kuliah dan memimpin perusahaan, hidupnya bergelimang harta, tak pernah kekurangan.

Rising Star

Nama Putra mungkin sudah tak asing di telinga para pelaku bisnis outdoor advertising di Ibu Kota. Pasalnya, ia merupakan salah satu ‘pangeran’ dalam bisnis ini.

Sejak ia menjadi direktur utama pada 2006, perusahaannya terus menangguk untung. Padahal, jebolan Strategi Pemasaran dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengaku tak memiliki pengalaman memimpin perusahaan.

“Bahkan saya tidak tahu bagaimana cara memimpin rapat saat awal-awal menjadi dirut,” ujarnya sambil tertawa.

Namun, berbekal berbagai pelatihan, serta segudang buku-buku manajemen dan motivasi, ia berhasil menakhodai perusahaan keluarganya tersebut.

Bahkan, di tahun pertama, ia mampu mencatatkan keuntungan besar untuk perusahaan. “Setahun saya bisa membangun rumah untuk orangtua,” ujarnya bangga.

Di tangan Putra, omzet dan keuntungan perusahaan terus meningkat. Berbagai penghargaan juga ia terima karena dinilai berhasil memimpin perusahaan dan terus membukukan keuntungan.

Meski demikian, ia terus menimba ilmu dan belajar baik dari buku maupun forum-forum pelatihan. Ia mengikuti sejumlah pelatihan, di antaranya di Emotional Spiritual Quotient (ESQ) dan Asia Work (AW). “Di AW saya belajar bagaimana mengatasi rasa takut,” ujarnya mengenang.

Namun, Putra merasa ada yang kurang. Keberhasilannya memimpin perusahaan menyisakan gundah dan resah.

Ia merasa hidupnya tak tenang karena selalu terasa ada yang mengganjal. Putra mengaku, untuk mendapatkan proyek dan pekerjaan, ia sering melanggar larangan Tuhan, termasuk menyuap dan "meng-entertain" pejabat.

Ia juga merasa gagal menjadi ayah dan suami yang baik. Harta yang berlimpah tak membuatnya bahagia.

Bahkan, rumah tangganya nyaris kandas usai bertengkar hebat dengan istrinya. “Saya sudah sempat mengatakan talak kepada istri saya,” ujarnya.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Usai bertengkar, alih-alih menghibur diri, Putra memilih ke masjid. Di sana ia ‘menantang’ Tuhan.

Ia ingin melihat dan merasakan kemarahan Tuhan atas semua yang telah ia lakukan, baik dalam mengelola perusahaan maupun memimpin keluarga. “Ternyata, bukan kemarahan yang saya dapatkan, tapi keteduhan,” ujar dia.

Kemurahan dan kasih sayang Tuhan juga ia rasakan saat menemani ibunya menunaikan ibadah haji. Meski pengetahuan agamanya pas-pasan, ia merasa Tuhan telah membimbingnya dalam menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

“Jangankan soal tata cara berhaji, saat itu baca Alquran saja saya tak mampu,” ujarnya tersenyum.

Pengalamannya di Tanah Suci tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk memperbaiki diri, termasuk dalam mengelola perusahaan. “Allah baik sama saya. Dia selalu menyelamatkan saat saya akan jatuh,” ujar Putra dengan suara bergetar.

Hijrah

Setelah enam tahun memimpin perusahaan, pada tahun 2012, Putra memutuskan untuk hijrah. Keyakinan itu membuat ia berbalik 180 derajat dalam mengelola perusahaan.

Ia tak lagi mau menyogok pejabat dan rekanan untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, ia juga menghentikan tradisi memberi bingkisan untuk pejabat.

Padahal biasanya, ia bisa menghabiskan dana satu miliar rupiah untuk belanja bingkisan. “Saya ingin mencari rejeki yang halal,” ujar Putra.

Sejak itu, omzet dan keuntungan perusahaan terus menurun. Tiap tahun, pendapatan perusahaan anjlok.

Pasalnya, selain menolak menyogok dan "meng-entertain" pejabat dan rekanan untuk mendapatkan pekerjaan, Putra juga menolak proyek dari sejumlah perusahaan yang ia nilai tidak sesuai syariah Islam, salah satunya iklan dari bank.

Alasannya, bank mengandung riba. “Padahal 80 persen klien kami adalah bank,” ujarnya menjelaskan.

Kondisi keuangan perusahaan terus memburuk. Akibatnya, Putra bolak-balik dipanggil dan disidang keluarga.

Namun, ia berusaha meyakinkan, bahwa yang ia lakukan benar, yakni demi membersihkan perusahaan. Sayangnya, kondisi keuangan perusahaan sedikitpun tak beringsut dan terus terpuruk.

Sejumlah aset perusahaan bahkan dijual untuk menutupi utang. Puncaknya, pada pertengahan tahun 2015, ia kembali disidang keluarga.

Kali ini, Putra tak bisa meyakinkan keluarga besarnya dan ia diminta mundur karena dianggap gagal. Putra akhirnya meletakkan jabatannya sebagai dirut.

Namun, ia tak surut. Bersama dengan sejumlah temannya, ia mendirikan PT. Ummar, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang aplikasi dan membangun jejaring pengusaha muslim yang ingin hijrah.

Belajar dari kegagalannya mengelola bisnis sesuai syariah di perusahaan sebelumnya, ia berusaha menciptakan jejaring pengusaha muslim agar bisa menciptakan komunitas dan bekerja sama.

Sayangnya, karena masih baru, Putra belum bisa mengail untung dari aplikasi ini. Sementara, ia tak punya pekerjaan dan sumber penghasilan lain.

Akibatnya, ia ngap-ngapan untuk memenuhi kebutuhan istri dan keempat anaknya. Tak jarang, ia harus gali lubang tutup lubang untuk bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.

Beruntung, saudara-saudaranya berkenan mengulurkan tangan memberikan bantuan.  “Saya sedang menjual rumah untuk bertahan.”

Fenomena Pengusaha Hijrah

pengusaha syariah

Semakin banyak pengusaha muslim yang memilih hijrah dan berusaha berbisnis sesuai syariah.

Putra tak sendiri. Selain dia, banyak pengusaha muslim lain yang memilih hijrah dan berusaha berbisnis sesuai syariah.

Salah satunya Dian Ranggajaya (34). Pria asal Pekalongan, Jawa Tengah ini mengaku, ia sampai menutup sejumlah usahanya karena dinilai mengandung riba. “Saya berusaha mencari bisnis dan usaha yang sesuai syariah,” ujarnya, Rabu 6 Januari 2016.

Jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sempat merintis usaha konveksi dan cinderamata. Ia juga pernah memimpin perusahaan trading.

Selain itu ia juga pernah menekuni bisnis jual beli emas. Namun, akhirnya ia menutup semua bisnis tersebut.

Alasannya, karena mengandung riba dan sejumlah hal yang dilarang agama. Ia kemudian mendirikan PT. Syariah Wealth Management, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan dana dengan sistem yang islami.

Selain itu, bersama sejumlah koleganya sesama pengusaha yang hijrah, ia mendirikan Sekolah Muamalat Indonesia (SMI). Menurut dia, sekolah ini didirikan sebagai tempat para pengusaha muslim belajar bisnis yang islami.

Menurut dia, banyak pengusaha yang mengalami kondisi seperti Putra, termasuk dia. “Banyak pengusaha yang merasa gundah dan tak bahagia meski bisnisnya sukses dan berlimpah harta. Masalahnya karena mereka menjalankan bisnis dengan cara kapitalis yang hanya dinilai dengan uang semata,” ujar pria yang ramah ini.

Di SMI, para pengusaha muslim yang hijrah dididik dan dibimbing bagaimana berbisnis secara islami. Ada beragam materi yang diberikan, mulai dari soal akad, pemahaman tentang riba hingga asuransi.

Pematerinya juga tak tanggung-tanggung, yakni doktor jebolan Arab Saudi. Peserta didiknya rata-rata adalah CEO dan pemilik perusahaan. Putra, merupakan salah satu alumni sekolah yang berdiri sejak 2013 ini.

Selain SMI, para pengusaha yang hijrah ini juga mendirikan berbagai organisasi dan komunitas. Salah satunya komunitas Pengusaha Tanpa Riba.

Pendiri komunitas Samsul Arifin mengatakan, komunitas tersebut berdiri pada tahun 2013. Menurut dia, banyak pengusaha besar yang mengeluh. Usaha mereka sudah berkembang, tapi masih terliliut utang. Misalnya omzet Rp100 miliar, utangnya malah menjadi Rp200 miliar.

“Itu karena adanya riba. Nah dari situ, saya membuat program dan mendirikan Komunitas Pengusaha tanpa Riba,” ujar Presiden Syariah Bisnis Coach ini kepada VIVA.co.id, Kamis 7 Januari 2016. Ia mengatakan, saat ini ada sekitar lima ribu pengusaha muslim yang bergabung di komunitas yang ia dirikan.

Hal yang sama disampaikan Nursyamsu Mahyuddin. Ketua Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) ini mengatakan, trend pengusaha muslim yang hijrah meningkat tiap tahun.

Untuk itu, keberadaan organisasi yang berdiri pada 2010 ini merupakan tempat berhimpun dan belajar pengusaha muslim yang ingin berbisnis sesuai syariah. “Jadi kita berhimpun ini untuk tempat media belajar,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 7 Januari 2016.

Menurut dia, KPMI bertujuan meningkatkan peran pengusaha muslim di kancah perekonomian nasional. Selain itu juga untuk meningkatkan keterampilan dalam berbisnis.

“Ketiga sebagai sesama muslim tentu harus belajar bagaimana kaidah-kaidah muslim dalam berbisnis dan membangun network dan sinergi dengan pengusaha-pengusaha muslim lainnya,” ujarnya menambahkan.

Ia mengatakan, organisasi yang Ia pimpin sudah memiliki 22 ribu anggota yang tersebar dalam 25 koordinator wilayah di seluruh Indonesia. Guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota, KPMI sering menggelar beragam pelatihan, workshop belajar bisnis sesuai syariah serta sharing pengalaman melalui media online.

Kebutuhan

Pemerhati Ekonomi Islam Didin Hafidhudin mengapresiasi maraknya pengusaha muslim yang hijrah. Ia mengatakan, para pengusaha itu harus didorong untuk terus menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis.

Karena menurut dia, kegiatan bisnis syariah ini akan berdampak pada moral pengusaha. “Bisnis syariah ini juga meningkatkan kualitas baik dari aspek ekonomi maupun sosial,” ujarnya kepada VIVA.co.id di Jakarta, Kamis 7 Januari 2016.

Menurut dia, banyaknya pengusaha yang hijrah karena motivasi dan kesadaran pengusaha sendiri. Ia yakin, kondisi ini bukan tren sesaat, melainkan sesuatu yang akan berlanjut terus menerus dan membesar.

“Saya yakin ini tidak cuma tren. Karena bisnis ini sudah general, tidak hanya dijalankan oleh umat Islam saja. Bisa juga dilakukan orang lain, asalkan betul-betul menerapkan sistem syariah,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Ulil Albab ini yakin.

Ia mengatakan, awal munculnya ekonomi syariah diawali dari lahirnya bank yang menggunakan sistem syariah, yakni sekitar tahun 1992. Namun menurut dia, booming-nya di atas tahun 2000-2007.

“Saya yakin ini akan terus berkembang, terlebih kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi, dibarengi kesadaran beragama masyarakat juga tinggi.”

Anggota Dewan Pertimbangan MUI Ahmad Saberah menilai, fenomena pengusaha muslim yang hijrah adalah sesuatu yang positif. Karena menurut dia, ekonomi syariah memiliki kelebihan dibanding ekonomi konvensional.

“Ekonomi syariah itu dasarnya adalah bagi hasil. Dia rugi sama rugi untung sama untung,” ujar mantan Ketua MUI Bidang Ekonomi dan Produk Halal ini kepada VIVA.co.id.

Ia mencontohkan dalam kerja sama bisnis. Misalnya yang mengelola dengan pemilik modal berapa masing-masing nisbahnya itu dibagi secara proporsional dan adil.

“Bukan bagi rata tapi proporsional, itu kelebihannya,” ujarnya menerangkan. Karena itu, ketika terjadi krisis moneter sistem ekonomi dan lembaga keuangan syariah tak ikut terpuruk. “Dia memiliki ketahanan tersendiri dibanding sistem konvensional.”

Ia menjelaskan, jika mendapat pinjaman dari bank syariah, misalnya untuk usaha dagang. Jika dia bangkrut, misalnya karena kebakaran itu akan diteliti, apakah betul-betul karena kebakaran atau kelalaian.

Kalau betul-betul karena kebakaran dan setelah diteliti dia masih mampu menjalankan perusahaan, maka dia dipinjami lagi. “Tapi kalau konvensional tidak mau tahu. Kalau udah kebakaran dia harus melunasi utangnya dengan bunganya. Ini ekonomi syariah yang berbasis etika, tidak seperti binatang pemakan mangsa.”

Pengamat Ekonomi Syariah Andhita Yukihana mengatakan, sebenarnya sudah banyak pengusaha yang berusaha menerapkan ajaran Islam dalam menjalankan bisnis. Karena, mereka menganggap, menjalankan bisnis syariah lebih nyaman, dan terhindar dari riba yang dilarang oleh ajaran Islam.

Sependapat dengan Didin Hafidhudin, Andhita juga yakin, fenomena pengusaha hijrah bukan hanya tren tapi memang sesuatu yang harus mereka jalankan.

“Mereka ingin hijrah menjalankan bisnis yang diridhai oleh Allah. Pada saatnya nanti hampir di semua negara akan menjalankan sistem dan bisnis syariah,” ujar pengamat asal Universitas Indonesia ini kepada VIVA.co.id, Kamis, 7 Januari 2016.

Sementara, pengamat ekonomi asal Universitas Gadjah Mada, Akhmad Akbar Susanto, mengatakan, ada beberapa alasan yang membuat pengusaha memasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam usahanya. Menurut dia, ada pengusaha yang merasa berbisnis harus sesuai dengan ajaran agama.

Kemudian, ada yang merasa bisnis syariah itu menguntungkan, dan ada yang ingin tampil beda dalam usahanya. "Dalam prinsip ilmu ekonomi, berbeda itu bagus. Misalnya di Bali menjamur hotel konvensional. Lalu, begitu ada hotel syariah langsung orang melihat ke sana," ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 7 Januari 2016.

Akbar mengatakan, ekonomi syariah berkembang cepat mulai dari awal tahun 2000 hingga tahun 2010. Menurut dia, pertumbuhannya sangat pesat. "Mungkin setelah ada langkah baru dari pemerintah, bisnis syariah akan berkembang lagi.”

TERKAIT
TUTUP