TUTUP
TUTUP

Bahasa Daerah Tergerus Zaman

Ada 700 lebih bahasa di nusantara, tapi banyak yang terancam punah.
Sejumlah seniman tampil dalam pertunjukan ludruk khas Jawa Timur.

VIVA.co.id - Daniel, seorang bocah berusia 7 tahun. Dia kerap diajak bicara dengan Bahasa Madura oleh ayahnya, Faidi.

Sayangnya, sang Ayah hanya bisa mengajak Daniel berbincang dengan bahasa Madura Kasar (enjhek-iyeh). Kalau pakai versi halus (enggih-bhunten), Faidi mengaku anaknya belum bisa menuturkan.

Di Kecamatan Gapura dan Sumenep pada umumnya, ungkap alumnus IKIP Sumenep itu, bahasa Madura tetap dipakai. Namun, serbuan ponsel pintar yang bisa mengakses informasi apapun, memengaruhi cara warga, terutama pemudanya, dalam berkomunikasi.

Mulai banyak digunakan bahasa-bahasa gaul yang dikenal dari percakapan-percakapan di luar bahasa Madura melalui akses internet dan sosial media.

Daniel mungkin masih lebih baik ketimbang Alkeys Akbar Arumi. Siswi kelas 2 SD Muhammadiyah Surabaya itu tak bisa sama sekali berbahasa Jawa atau Madura.

Meski tinggal di Surabaya dan memiliki orang tua asli Madura dan Tuban, bocah berusia 8 tahun itu mengaku tidak bisa berbahasa keduanya. Saat ditanya dengan bahasa Madura, Alkeys hanya tersenyum karena tak mengerti.

Pun saat disapa dengan menggunakan bahasa Jawa, meski mengerti sedikit, gadis berkerudung itu memilih menjawab pertanyaan dengan bahasa Indonesia. Zaki, ayah Alkeys, tidak menyalahkan dirinya maupun anaknya terkait dengan ketidakpahaman akan bahasa daerah itu.

Dia mengaku telah mengajarkan anaknya bahasa Jawa dan Madura di rumah namun lingkungan sekolah dan tempatnya bermain selalu saja bertutur dengan bahasa Indonesia.

“Anak saya kan sekolah di swasta, di situ semuanya pakai bahasa Indonesia. Akhirnya, banyak kosakata Jawa yang tidak diketahui," kata Zaki. 

Padahal, di rumah, Zaki dan istri terus berusaha menerapkan dan mengenalkan bahasa Jawa secara ketat kepada anak. "Tapi kesulitan karena anak terbiasa menggunakan bahasa yang bisa digunakan di lingkungan rumah saya,” kata pria kelahiran Mojokerto, yang juga alumnus Universitas Airlangga, Surabaya.

Miris memang. Padahal sebagai orang tua, mereka tahu pentingnya bahasa daerah sebagai identitas bangsa, sebuah bahasa Ibu yang menandakan darimana asal seseorang, sebuah penegas identitas.

Mulai Mengkhawatirkan

Enggannya masyarakat saat ini menggunakan bahasa daerah rupanya telah menjadi perhatian peneliti sejak lama. Bahkan sebuah penelitian yang dipaparkan situs Ethnologue tahun ini menyebutkan ada 700 lebih bahasa yang dituturkan oleh lebih dari 220 juta penduduk Indonesia.

Dari total 7.100 bahasa yang ada di seluruh dunia, 10 persennya ternyata ada di Indonesia. Dengan kondisi semakin kurangnya tuturan bahasa daerah, bukan hal yang mungkin jika semakin lama jumlah bahasa tersebut semakin menyusut.

Pakar bahasa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Kisyani Leksono, mengatakan secara operasional ada lima tahapan daya hidup bahasa, dalam kaitannya dengan ancaman kepunahannya.

Pertama, bahasa berpotensi terancam punah karena generasi muda berpindah ke bahasa lain. Kedua, terancam punah karena generasi muda tidak menggunakannya.

Ketiga, lanjut Kisyani, sangat terancam punah karena hanya dituturkan oleh generasi yang berusia di atas 50 tahun. “Keempat, sekarat karena hanya dituturkan oleh generasi usia 70 tahun ke atas. Dan kelima, dikategorikan punah jika hanya ditutukan oleh satu penutur,” jelas Kisyani.

Dia mengakui belum tahu secara pasti berapa jumlah bahasa daerah atau etnis yang terancam punah. Masih diperlukan penelusuran secara saksama karena tidak mudah mendeteksi bahasa pencilan.

“Pernah dilakukan pemetaan bahasa daerah di Indonesia tapi macet sampai tahun 2008. Hasilnya, di Indonesia ditemukan 444 bahasa daerah,” kata Kisyani.

Sedangkan menurut penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), seperti dipaparkan oleh Obing Katubi, jumlah bahasa etnis Indonesia berada di posisi nomor dua setelah Papua Nugini. Indonesia memiliki 746 bahasa sedangkan Papua lebih dari 800.

Obing Katubi, Koordinator Penelitian Bahasa LIPI

Di Indonesia yang sudah teridentifikasi ada 746 bahasa etnis. FOTO: Agus Tri Haryanto/VIVA.co.id

“Mereka (Papua) sekitar 800 bahasa. Itu karena letak geografis Papua, bersekat-sekat, makin banyak rintangan," kata Obing.

Itu yang membuat semakin banyak bahasanya. Menurut Obing, di Indonesia yang sudah teridentifikasi ada 746 bahasa etnis.

Kemungkinan bertambah terbuka, karena semakin terbuka akses atau wilayah yang dulunya terisolasi, itu bisa membuat (bahasa) bertambah lagi,” ujar Obing, yang didapuk menjadi koordinator penelitian bahasa di LIPI.

TERKAIT
TUTUP