SOROT BAGIAN 1
RSJ buat Caleg

Rumah Gila Caleg Kita

Ongkos politik menjulang, persaingan sengit. Ratusan Caleg terancam gila.

Jum'at, 3 April 2009, 20:16 WIB
Nurlis E. Meuko
Foto:
Petugas Rumah Sakit Jiwa Solo membersihkan ruang pasien (Antara/ Akbar Nugroho Gumay)

RSJ Palembang Siapkan Ruang Perawatan Untuk Caleg Gagal

VIVAnews – CIANJUR, 11 Agustus 2008. Lima ratus orang mengular di Kampus Akademi Perawat Pemerintah. Mereka bukan calon perawat, bukan juga para pegawai di situ, tapi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Cianjur. Semuanya kader terbaik partai politik yang akan bertarung dalam Pemilu 2009.

Kehadiran mereka di sekolah perawat itu, tidak ada hubungan dengan aspirasi rakyat Cianjur. Ini urusan pribadi. Tepatnya urusan jiwa sang Caleg.  Di sekolah perawat itu, dua psikolog dan psikiater akan menyelam ke dalam jiwa para Caleg. Apakah sang calon sehat walafiat, depresi atau malah sudah setengah edan.

Jenis tes yang digunakan Psikometri. Ini jenis tes untuk melacak kejiwaan seseorang. Pertanyaan yang diajukan kepada calon wakil rakyat itu saling berhubungan. Sebab akibat.

Misalnya, mengapa menjadi Caleg, apa saja perilaku sebelum menjadi calon, laku sesudahnya, bagaimana pengaruh perubahan kelakuan itu terhadap keluarga dan serentetan pertanyaan lain. Total 500 pertanyaan.

Pertanyaan sebanyak itu harus dijawab dalam tempo dua jam. Sesudah mengerjakan pertanyaan tertulis itu  mereka mengikuti wawancara kejiwaan. Pewawancara empat orang. Dua psikolog dan dua psikiater. Para ahli jiwa itu dikirim dari Bandung, ibukota Jawa Barat.  Sesi wawancara itu juga dua jam lamanya.

Begitu banyaknya Caleg yang antri, proses  ujian kejiwaan itu baru tuntas dalam tiga hari.

Tes kejiwaan calon wakil rakyat juga berlangsung di sejumlah kota. Di Bandar Lampung, ratusan Caleg berjubel di sebuah Gedung di Jalan Soekarno Hatta, awal Agustus 2008 itu. Mereka antre mengerjakan sejumlah soal yang disodorkan psikiater.

Di Palembang, para psikolog dan psikiater mengunakan  metode Minussota Multivesic Personality Inventory (MMPI) untuk menyelam ke dalam jiwa para Caleg itu. Jenis tes yang terakhir ini  sudah jadi standar uji kejiwaan internasional.

Apa hasil dari semua tes itu, belum ada angka totalnya. Belum ada angka final dari sekitar 1,7 juta Caleg Pemilu 2009 ini berapa yang berpotensi sakit jiwa.

Tapi sekedar sebagai gambaran, dengarlah cerita Ketua Komite Medik Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat, Lelly Resna, berikut ini. Agustus lalu itu, 1.551 Caleg di Jawa Barat melakukan uji kejiwaan. Uji kejiwaan itu penting sebab persaingan antara Caleg itu sangat keras. Sebab kursi yang diperebutkan cuma 100.

Dari tes itu sejumlah Caleg dinilai memiliki kecenderungan ganguan jiwa manifest berat. “Dua persen berpotensi menjadi gila,” kata Lilly. Jumlah itu cukup mengejutkan.

Jika hasil ujian dari Jawa Barat itu benar, tentu saja kita patut cemas. Sebab jumlah Caleg kita sangat banyak. Tingkat persaingan sangat keras. Jumlah kursi yang tersedia sedikit, peminat banyak. Lihatlah data-data berikut ini.

Sekitar  11.215 warga Indonesia hari-hari ini sibuk berebut kursi DPR pusat. Padahal kursi yang tersedia cuma 560. Sejumlah 1.109 orang akan sekuat tenaga  merebut 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah.

Di daerah pertarungan jauh lebih sengit. Sekitar 112 ribu orang yang berjibaku merebut 1.998 kursi wakil rakyat di propinsi. Dan 1,5 juta orang bertarung untuk 15.750 kursi wakil rakyat di kabupaten/ kota. Bertarung dalam persaingan seketat itu, orang mudah stress, depresi, bahkan setengah edan.

Dan ini bukan lagi sekedar ramalan. Lihatlak Pemilu 2004 lalu. Di sejumlah wilayah, Caleg yang kalah terganggu jiwanya.

Dengarlah cerita Dr Heri Dharma, Direktur Rumah Sakit Jiwa, Bogor, Jawa Barat . Sesudah pemilihan umum 2004, kata Heri, ada 20 mantan Caleg berobat di rumah sakit itu. Para Caleg itu di rawat di sana sesaat setelah Pemilu Legislatif 2004. Mereka berasal dari Bekasi, Bogor dan Depok.

Para mantan Caleg itu umumnya cuma rawat jalan. Dari para mantan Caleg yang dirawat itu, “Semuanya sembuh dan hidup wajar kembali,” kata Heri Dharma.

Jiwa mereka terguncang karena kalah. Emosi  cenderung turun-naik, sedih, panik  dan suka melamun, suka murka kepada anak dan istri,  bahkan cenderung berhasrat bunuh diri. Umumnya mereka depresi lantaran kehilangan uang dan harta benda untuk kepentingan Pemilu.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau