Rumah Gila Caleg Kita

Ongkos politik menjulang, persaingan sengit. Ratusan Caleg terancam gila.
Jum'at, 3 April 2009
Oleh : Nurlis E. Meuko
Petugas Rumah Sakit Jiwa Solo membersihkan ruang pasien

VIVAnews – CIANJUR, 11 Agustus 2008. Lima ratus orang mengular di Kampus Akademi Perawat Pemerintah. Mereka bukan calon perawat, bukan juga para pegawai di situ, tapi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Cianjur. Semuanya kader terbaik partai politik yang akan bertarung dalam Pemilu 2009.

Kehadiran mereka di sekolah perawat itu, tidak ada hubungan dengan aspirasi rakyat Cianjur. Ini urusan pribadi. Tepatnya urusan jiwa sang Caleg.  Di sekolah perawat itu, dua psikolog dan psikiater akan menyelam ke dalam jiwa para Caleg. Apakah sang calon sehat walafiat, depresi atau malah sudah setengah edan.

Jenis tes yang digunakan Psikometri. Ini jenis tes untuk melacak kejiwaan seseorang. Pertanyaan yang diajukan kepada calon wakil rakyat itu saling berhubungan. Sebab akibat.

Misalnya, mengapa menjadi Caleg, apa saja perilaku sebelum menjadi calon, laku sesudahnya, bagaimana pengaruh perubahan kelakuan itu terhadap keluarga dan serentetan pertanyaan lain. Total 500 pertanyaan.

Pertanyaan sebanyak itu harus dijawab dalam tempo dua jam. Sesudah mengerjakan pertanyaan tertulis itu  mereka mengikuti wawancara kejiwaan. Pewawancara empat orang. Dua psikolog dan dua psikiater. Para ahli jiwa itu dikirim dari Bandung, ibukota Jawa Barat.  Sesi wawancara itu juga dua jam lamanya.

Begitu banyaknya Caleg yang antri, proses  ujian kejiwaan itu baru tuntas dalam tiga hari.

Tes kejiwaan calon wakil rakyat juga berlangsung di sejumlah kota. Di Bandar Lampung, ratusan Caleg berjubel di sebuah Gedung di Jalan Soekarno Hatta, awal Agustus 2008 itu. Mereka antre mengerjakan sejumlah soal yang disodorkan psikiater.

Di Palembang, para psikolog dan psikiater mengunakan  metode Minussota Multivesic Personality Inventory (MMPI) untuk menyelam ke dalam jiwa para Caleg itu. Jenis tes yang terakhir ini  sudah jadi standar uji kejiwaan internasional.

Apa hasil dari semua tes itu, belum ada angka totalnya. Belum ada angka final dari sekitar 1,7 juta Caleg Pemilu 2009 ini berapa yang berpotensi sakit jiwa.

Tapi sekedar sebagai gambaran, dengarlah cerita Ketua Komite Medik Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat, Lelly Resna, berikut ini. Agustus lalu itu, 1.551 Caleg di Jawa Barat melakukan uji kejiwaan. Uji kejiwaan itu penting sebab persaingan antara Caleg itu sangat keras. Sebab kursi yang diperebutkan cuma 100.

Dari tes itu sejumlah Caleg dinilai memiliki kecenderungan ganguan jiwa manifest berat. “Dua persen berpotensi menjadi gila,” kata Lilly. Jumlah itu cukup mengejutkan.

Jika hasil ujian dari Jawa Barat itu benar, tentu saja kita patut cemas. Sebab jumlah Caleg kita sangat banyak. Tingkat persaingan sangat keras. Jumlah kursi yang tersedia sedikit, peminat banyak. Lihatlah data-data berikut ini.

Sekitar  11.215 warga Indonesia hari-hari ini sibuk berebut kursi DPR pusat. Padahal kursi yang tersedia cuma 560. Sejumlah 1.109 orang akan sekuat tenaga  merebut 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah.

Di daerah pertarungan jauh lebih sengit. Sekitar 112 ribu orang yang berjibaku merebut 1.998 kursi wakil rakyat di propinsi. Dan 1,5 juta orang bertarung untuk 15.750 kursi wakil rakyat di kabupaten/ kota. Bertarung dalam persaingan seketat itu, orang mudah stress, depresi, bahkan setengah edan.

Dan ini bukan lagi sekedar ramalan. Lihatlak Pemilu 2004 lalu. Di sejumlah wilayah, Caleg yang kalah terganggu jiwanya.

Dengarlah cerita Dr Heri Dharma, Direktur Rumah Sakit Jiwa, Bogor, Jawa Barat . Sesudah pemilihan umum 2004, kata Heri, ada 20 mantan Caleg berobat di rumah sakit itu. Para Caleg itu di rawat di sana sesaat setelah Pemilu Legislatif 2004. Mereka berasal dari Bekasi, Bogor dan Depok.

Para mantan Caleg itu umumnya cuma rawat jalan. Dari para mantan Caleg yang dirawat itu, “Semuanya sembuh dan hidup wajar kembali,” kata Heri Dharma.

Jiwa mereka terguncang karena kalah. Emosi  cenderung turun-naik, sedih, panik  dan suka melamun, suka murka kepada anak dan istri,  bahkan cenderung berhasrat bunuh diri. Umumnya mereka depresi lantaran kehilangan uang dan harta benda untuk kepentingan Pemilu.

***

Sejak sepuluh tahun terakhir, politik kita memang telah menjadi politik padat modal, juga pada karya. Jumlah partai yang begitu banyak, telah  menyedot 1,7 juta orang masuk ke stuktur politik. Politik bahkan sudah dianggap sebagai lapangan kerja baru. Politik adalah jawaban atas pengangguran. Banyak pengganguran jadi Caleg.

Lihat lah apa yang terjadi di Sulawesi Utara. Daftar Caleg untuk kabupaten dan kota di propinsi itu didominasi pengangguran. Nomor dua ditempati Pegawai Negeri Sipil(PNS).

Data dari Polres Kabupaten Bolaang Mongodow, misalnya, secara telanjang menunjukan bahwa dari 1.085 Caleg yang mengurus keterangan catatan kepolisian, 578 orang adalah pengangguran.
Polisi Minahasa juga menemukan fakta yang sama. Fakta seperti ini sesungguhnya sudah merebak di sekujur negeri ini.

Pertarungan politik ini kian sengit setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan  bahwa kunci sukses kemenangan adalah suara terbanyak. Bukan nomor urut. Ini politik pasar bebas. Siapa yang akan terpilih menjadi Caleg terserah mekanisme pasar politik itu.

Keputusan Mahkamah Konstitusi itu, “Secara kejiwaan mendorong para Caleg berloma-lomba mengeluarkan harta bendanya,”  kata Dr Heri Dharma, Direktur Rumah Sakit Jiwa, Bogor.

Ongkos untuk menjadi wakil rakyat kemudian begitu mahal. Dari berbagai wawancara dan survei VIVAnews, biaya paling murah Rp 210 juta. Ini sudah ngirit di mana-mana.

Sumber VIVANews berkeluh kesah karena  telah menghabiskan duit Rp 500 juta hanya untuk membeli alat peraga Pemilu.  Tetapi, “Angka itu saya kira termasuk yang kecil,” kata Helmy Fauzy, pengurus DPP PDIP, Caleg dari daerah pemilihan Bogor.

Helmy haqul yakin bahwa banyak  Caleg yang jor-joran mengorbankan harta bendanya demi merebut kursi wakil rakyat.

Derasnya aliran dana Pemilu itu juga terbaca dalam survey AC Nielsen dua bulan lalu. Biaya iklan Caleg dan partai politik sudah menembus bilangan Rp 3 triliun. Hermawan Kertajaya dari Mark Plus menghitung ongkos minimal itu melambung di bilangan Rp 500 juta.

Sulit membayangkan bahwa para Caleg kita yang jumlahnya 1,7 juta itu memiliki tabungan sejumbo itu. Kalau bukan dikeruk dari keluarga terdekat, mereka akan menjual harta bendanya demi mimpi menjadi wakil rakyat.

Bila mimpi itu kandas, sementara  harta benda sudah melayang, “ Maka secara kejiwaan orang seperti ini rawan depresi,” kata Heri Dharma.

***

Tiga bulan pertama adalah titik kritis bagi Caleg gagal. Sebab itulah waktu di mana jiwa mereka pindah dari mimpi besar untuk  beradaptasi dengan kekalahan. Kalau tidak bisa beradaptasi dengan kekalahan, kata Heri Dharma, sang Caleg akan sakit jiwa.

Sejumlah Rumah Sakit Jiwa (RSJ)  di Indonesia memperkirakan jumlah Caleg yang depresi itu akan membludak. Itu sebabnya mereka ramai-ramai mengantisipasinya dengan menambah jumlah kamar dan fasilitas untuk pasien politik ini.

Rumah Sakit Marzuki Mahdi (RSMM) di Bogor sudah mengantisipasi permintaan itu dengan menambah kelas Very Important Person (VIP). "Kami menyiapkan 10 ruangan VIP untuk caleg Kota Bogor yang kaya dan tidak lolos," kata Heri Dharma.

Mereka juga menyiapkan 10 orang psikiater, 10 spesialis jiwa, dan 13 psikolog. Mereka lah yang akan menuntun para Caleg itu kembali ke dunia normal.

Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya, Jawa Timur, pada pemilu 2004 juga pernah menampung tiga caleg yang sakit jiwa karena gagal menjadi anggota dewan. Karena itu, kata Hendro Ryanto, Direktur Utama Rumah Sakit Menur, mereka bersiap menampung pasien mantan caleg tahun ini.

Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta, Solo, Jawa Tengah, juga menyiapkan tim terpadu yang terdiri dari dokter, psikiater, perawat, psikolog, pekerja sosial, dan pendamping agama untuk menangani caleg gagal terganggu jiwanya. Persiapan serupa juga ada di Rumah Sakit Grhasia, Jalan Kaliurang, Yogyakarta.

Dari Sumatera Utara, dilaporkan Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara yang berlokasi 15 kilometer dari Medan itu menyiapkan 30 dokter dan 200 perawat. Mereka siaga 24 jam. ”Kami menjaga kemungkinan membludaknya pasien,” kata Kepala Rumah Sakit Jiwa Sumut, Dr. Donald F. Sitompul. “Tenaga dokter juga siap untuk ditambahkan sesuai dengan kebutuhan nantinya.”

Bahkan daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, kini bersiap-siap mendirikan rumah sakit jiwa. Di sana ada 742 caleg yang berebut  40 kursi. Nah yang sangat terpukul diperhitungkan adalah caleg nomor urut satu dan dua yang jumlahnya 256 orang.

Kendati tak ada persiapan khusus, pengurus Rumah Sakit Jiwa Dadi Makassar, Sulawesi Selatan, mulai membersih-bersihkan ruangan yang lama tak terpakai. “Untuk persiapan pasien dari caleg,” kata Dwi Djoko Purnomo, Direktur Rumah Sakit Jiwa Dadi. Dari empat gedung rumah sakit, ada dua yang selama ini kosong.

Persiapan RSJ Makassar, kata Dwi, mereka bukan latah karena melihat rumah sakit jiwa lain di Indonesia. Dia melihat potensi pasien rumah sakit ini pada 18.308 caleg di sana, sebab di dewan hanya ada 873 kursi untuk seluruh daerah Sulawesi Selatan.

Dari Bandung dilaporkan, Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat juga lebih serius lagi mempersiapkan diri. Pengurus rumah sakit yang terletak di Jalan Riau, Bandung, ini mendandani 28 kamar VIP. Dokter, psikater, psikolog dan perawat, yang jumlahnya 300 orang telah disiapkan. Juga ada unit gawat darurat, klinik depresi dan layanan konsultasi 24 jam.

Menurut Lelly, kata Ketua Komite Medik RS Jiwa Jawa Barat, Lelly Resna,  gangguan kejiwaan yang dapat menyerang para calon anggota legislatif itu bermacam-macam. “Dapat berupa skizophrenia atau penyakit tidak realistis, halusinansi, serta adanya keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan.”

Lelly menjelaskan, gangguan kejiwaan itu diawali psikosomatik. “Keluhan gangguan fisik seperti sakit kepala, pusing, maag, darah tinggi, sakit badan,” katanya. “Gangguan kejiwaan yang dikeluhkan dalam bentuk fisik lain seperti susah tidur.”

Ada juga yang depresi. “Emosinya turun naik antara sedih dan depresi. Panik, serta berpilaku tak realistis cenderung hendak bunuh diri.”

Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Cabang Partai Amanat Nasional Kota Bogor, Syafrudin, juga bilang bakal banyak mantan caleg akan dirawat di Rumah Sakit Jiwa. “Masalahnya ya tak kuat mental, dia telah banyak mengeluarkan harta benda untuk kampanye,” katanya.

Itulah sebabnya, Direktur Rumah Sakit Jiwa Mataram Nusa Tenggara Barat Elly Rosila Wijaya, menyarankan para Caleg untuk meluangkan waktu konseling. Elly memuji seorag caleg di daerahnya yang telah datang ke tempatnya untuk konseling. “Itu langkah yang baik,” katanya.

Siti Husni, caleg DPRD Provinsi NTB dari Partai Pelopor mengakui telah datang ke RSJ Mataram. Sebab dia merasakan pola perubahan pola hidupnya selama jadi caleg. Tetapi dia mengatakan datang ke RSJ bukan karena takut kalah.

“Saya khawatir apakah saya sanggup membayar janji-janji untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat,” katanya. Kekhawwatiran inilah yang mendorongnya ke konseling. Dokter menyatakan jiwa Siti masih normal.

Dari Solo, Jawa Tengah, lain lagi ceritanya. Seorang caleg dari Partai Amanat Nasional, Bambang Saptono, Rabu 25 Maret 2009 lalu, datang ke RSJ Solo memesan kamar perawatan. “Untuk antisipasi bila stress karena gagal dalam pemilu nanti,” katanya.

Bambang juga memesan beberapa kamar untuk caleg lainnya. “Jika stres sudah ada rumah sakit yang menampung,” katanya. “Ini rentan bagi caleg.”  Namun, RSJ menolaknya. “Kami tak menerima, karena pasiennya harus yang benar-benar mengalami gangguan jiwa,” kata Dyah Sri Astuti, juru bicara RJS Solo.

Dyah berpesan, caleg tak usah khawatir kehabisan kamar. “Kami sudah menyiapkannya.”

Laporan: Ayatullah Humaeni, Sigit Zulmunir, Rahmat Zeena, Inin Nastain, Edi Gustan

File Not Found