Yang Terserak di Rawagede

Rawagede kini menjadi Desa Balongsari. Jejak pembantaian Belanda masih membekas.
Jum'at, 12 Agustus 2011
Oleh : Anggi Kusumadewi, Nila Chrisna Yulika
Ilustrasi pembantaian Rawagede

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa

(Sajak Krawang-Bekasi, Chairil Anwar, 1948)

VIVAnews--Senin, 8 Desember 1947.  Lukas Kustario menghimpun kekuatan di Rawagede.  Dia seorang serdadu. Pangkat Kapten. Suka nekat dengan nyali seribu. Petinggi militer Belanda memberinya julukan si  Begundal Karawang.  Kerjanya selalu bikin berang kumpeni.

Berkali-kali Lukas sukses menggempur  pos militer Belanda. Dia juga jadi momok sebab kerap menyergap mendadak patroli serdadu Kumpeni di daerah-daerah di sekitar Bekasi dan Karawang.

Berkali-kali diserbu dengan cara mengejutkan, militer  Belanda membuat perhitungan dengan Lukas. Dan suatu ketika petinggi serdadu di Jakarta mendengar informasi Lukas bakal melintas di Rawagede.

Rawagede adalah sebuah desa di Rawamerta. Terletak di antara Bekasi dan Karawang, Rawagede sudah menjadi markas gabungan semua laskar pejuang kemerdekaan.  Di situ ada Laskar Citarum, Barisan Banteng, Hizbullah, juga kelompok laskar lain yang menyala semangatnya mengusir Belanda.

Di kawasan itu banyak orang kaya.  Semangat mereka untuk merdeka juga membara. Itu sebabnya para laskar membangun basis di sini. Kaum berada itu suka cita menyumbang logistik. Tanpa diminta. Bukan hanya telur ayam. Kerbau pun mereka sumbang. Demi republik.

Pagi itu, Kapten Lukas hendak menghela pasukan ke Cililitan. Menyerang basis serdadu kumpeni di Jakarta. Persiapan sudah matang. Tapi sungguh celaka tiga belas. Pukul sembilan pagi, seorang mata-mata melapor ke Markas Belanda.  Belanda berang. Pasukan bersenjata bergegas. Menyusun siasat menyerbu duluan.  Pukul empat sore masuk berita dari Karawang. Rawagede bakal dibumihangus.

Penduduk di sana gemetar. Apalagi Kapten Lukas yang cekatan itu sudah membawa pasukan. Sudah tiba di Cibinong. Dan yang terjadi  sore itu memang bukan perang. Tapi pembunuhan. Warga desa dihajar ribuan serdadu kumpeni.  Berusaha bertahan warga desa membangun benteng.  Serdadu Belanda susah merangsek. 

Tapi benteng itu cuma sakti sejenak. Sebab serdadu Belanda menganti siasat. Menyerbu dari semua sudut. Jadilah kampung itu terkurung. Warga setempat menyebut siasat model beginian sebagai pengepungan “letter O”. Pukul 12 malam Rawagede sudah di “letter O” oleh Belanda.

Warga kampung melawan ribuan serdadu, jelas bukan perang.  Kalah jumlah. Kalah senjata. Di keremangan Selasa subuh, 9 Desember 1947, sebagian warga berusaha kabur dari neraka jahanam itu. Berlari ke arah sawah. Celaka, Belanda sudah menunggu di situ.

Sebagian ditangkap. Sisanya putar balik. Kembali ke desa. Tapi mereka yang berlari pulang itulah yang sial. Pelor berdesing mengejar.  Menancap di badan, berjatuhan, lalu mati.  Merasa di atas angin, pasukan Belanda merangsek masuk desa. Warga yang bertahan lintang pukang mencari perlindungan.

Tapi yang ada cuma rumah penduduk yang gemetar. Yang mengunci rapat pintu rumah. Cuma sedikit yang membuka pintu. Tapi Belanda justru menaruh curiga dengan rumah-rumah yang terkunci rapat itu. Pintu didobrak, mengeledah semua sudut rumah, dan mengiring penghuni keluar.

Di halaman kampung mereka dibariskan. Laki-laki disuruh berjejer.  Ketakutan tiada terkira menyapu wajah mereka. “ Di mana Lukas?” bentak seorang tentara Belanda. Mereka yang berjejer ketakutan itu diam seribu bahasa. Dipaksa buka mulut, mereka cuma menjawab, “Tidak tahu.” Para serdadu Belanda itu murka alang kepalang.

Dan “tidak tahu” itu bisa berarti kematian.  Peluru langsung menghujam.  Mereka yang berjejer itu berjatuhan. Tersungkur menemui ajal termasuk para lelaki belia belasan tahun. Warga di sana menyebut penembakan model beginian, di dredet.

Pukul 12 siang serdadu Belanda menemukan sebuah rumah yang dipenuhi pejuang dan warga. Dari wanita tua hingga anak-anak Belia. Pasukan Kumpeni langsung memberondong. Sebagian langkah seribu masuk hutan. Banyak pula yang lari lewat saluran air. Berlari sembunyi ke arah sungai. Banyak yang masuk ke dalam air. Juga sembunyi di bantaran sungai, di antara rerimbunan rindang pohon. Agak aman memang.

Tapi itu cuma sementara. Sebab serdadu Belanda menghela anjing galak ke bantaran sungai. Anjing-anjing itu menggonggong seperti sedang berburu. Tahu ada warga di sana, para serdadu beramai-ramai memberondong.  Mereka berjatuhan bersimbah darah. Mayat-mayat mengambang dan hanyut. Air sungai berubah merah darah.

Hari itu, 9 Desember 1947, 431 warga laki-laki sipil Rawagede mati bersimbah darah.  Hari itu, para lelaki punah dari kampung ini.  Hanya tersisa kaum wanita. Mereka menangis sejadi-jadinya. Mengenang  anak, suami dan ayah yang bertebar tanpa jiwa di sawah-sawah dan bantaran sungai.

Para wanita itu cuma bisa termangu. Ratusan jenasah itu urung dimakamkan sebab malam sudah datang. Esok harinya, Rabu 10 Desember 1947  ratusan wanita kampung bahu membahu mengangkut jenazah. Mengubur anak, suami, juga ayah.

Berhari-hari, bertahun-tahun  kemudian Rawagede menjadi kampung  janda. Penyair kondang, Chairil Anwar, mengenang pembantaian itu lewat sajak Karawang Bekasi. Chairil menulis sajak itu di daerah Anjun, dekat Masjid Agung Karawang.

***

Pagi 9 Desember 2008. Nikolas van Dam berdiri tegak. Duta Besar Belanda untuk Indonesia itu berdiri di depan Monumen Rawagede. Bangunan itu berbentuk bunga melati yang belum lagi mekar. Bagian belakang monumen itu bersambung dengan Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga. Ratusan makam berjajar. Di sana terpampang  tulisan besar mengenang kepiluan dari masa lalu itu, ‘Esa Hilang Dua Terbilang.’

Hari itu, Van Dam menghadiri peringatan 61 tahun tragedi Rawagede.  Tragedi itu dikenang setiap tahun.  Entah untuk membunuh kepiluan itu, warga kemudian menganti  nama Rawagede menjadi Desa Balongsari. Tapi duka itu tetap di kenang.  Tanggal 9 Desember 2008, warga desa memenuhi kawasan pemakaman itu.
 
“Atas nama pemerintah Belanda, saya ingin menyampaikan rasa penyesalan yang dalam atas segala penderitaan yang harus dialami,” kata Van Dam di hadapan keluarga para korban pembantaian.  Sesudah diperingati selama  61 tahun, itulah kali pertama seorang pejabat Belanda hadir di pemakaman itu.

Peristiwa itu, lanjut Van Dam, merupakan salah satu contoh paling menyedihkan dari cara Belanda dan Indonesia saling berpisah, “Dengan begitu menyakitkan dan penuh kekerasan.”  Tindakan brutal para serdadu itu, lanjutnya, telah menaruh Kerajaan Belanda pada tempat yang salah dalam sejarah, sampai kapan pun.

Van Dam hadir di pemakaman itu atas desakan Van Bomel. Harry van Bomel adalah salah seorang anggota parlemen negeri kincir angin itu. Dia wakil Partai Sosialis. Tanggal 18 November 2008, tiga pekan sebelum peringatan itu, Bomel mengajukan mosi ke parlemen Belanda (Tweede Kamer).  Bomel meminta parlemen agar mendesak pemerintah mengirim Duta Besar ke acara peringatan pemakaman ini.

Sesudah melewati perdebatan berhari-hari, anggota parlemen menerima usulan itu. Lalu keputusan parlemen pun terbit. Parlemen Belanda mulai membahas kasus ini, sesudah keluarga korban pembantaian itu mengajukan gugatan ke Pengadilan Belanda, 15 Agustus 2008. Pengadilan atas kasus ini kemudian menyedot perhatian media massa dan pemerhati hak asasi manusia internasional.

Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede, yang juga anak salah seorang korban pembantaian, bolak-balik Jakarta-Den Haag untuk menghadiri proses peradilan dan melakukan audiensi dengan parlemen Belanda. Oktober-November 2010, ia pergi ke Belanda membawa korban pembantaian yang ditemukan selamat dan masih hidup. 15-30 Juni 2011, ia kembali bertolak ke Belanda sambil membawa sejumlah janda.

***

Tanggal 9 Agustus 2011. Panas menyergap Desa Balongsari. Terik mentari terasa membakar kulit. Namun Suryadi dan Junaedi tetap setia menyapu dan merawat  monumen itu.  Kepada VIVAnews.com yang berkunjung ke situ, mereka berkisah soal pembantaian itu.

“Warga benar-benar sakit hati karena dibantai tanpa tahu apa salahnya,” kata Junaedi.  Pembantaian itu, katanya, sudah jadi ingatan kolektif warga. Diperingati bersama-sama.

Menjadi desa yang tergolong makmur ditahun 1947 itu, kini Rawagede berjalan lambat. Tertinggal dari desa-desa di sekitar. Sekitar 80 persen penduduk desa hidup di bawah garis kemiskinan. Mayoritas warga jadi buruh tadi.

Siang 9 Agustus 2011 itu, sejumlah warga terlihat melintas di jalan kering  berdebu. Memakai topi tani, membawa pacul. Sejumlah warga terlihat menumpang sepeda ontel menjaja barang kerajinan tangan.

Surya, Kepala Urusan Kelurahan Desa Balongsari, menegaskan bahwa kehidupan warga desa memang belum  menggembirakan. “Hanya 20 persen warga desa ini yang tergolong mampu. Sisanya hanya buruh tani dan usaha kecil-kecilan,” kata Surya.

Ironisnya, dari total areal persawahaan di desa itu, hanya 30 hektar yang dimiliki oleh penduduk asli Rawagede. Sisanya dikuasai  pendatang. Desa ini terlihat garing. Sungai yang dulu merah darah itu, kini kering kerontang. Jika ada air menggenang, warnanya hitam pekat.

Di beberapa tempat di pinggir sungai, tampak berdiri kakus seadanya bertiang bambu. Rumah-rumah penduduk yang reyot tampak berselang-seling dengan sedikit rumah yang layak.

Siang 9 Agustus itu, VIVAnews bertemu dengan Nenek Cawi di Sampurna Raga. Dia sudah tua renta. Usianya 87 tahun. Artinya, nenek Cawi berusia 23 tahun ketika pembantaian itu terjadi.  Meski renta, dia merekam jelas tragedi itu. Kakak dan suaminya mati pada hari itu.

Dia lalu berkisah.  “Saat itu saya sedang tidur, lalu dibangunin suami. ‘Bangun... bangun... banyak Belanda.’ Waktu itu perempuan nggak boleh keluar rumah. Harus diam di rumah saja. Nggak boleh ikut-ikutan lelaki.”

Di luar terdengar bunyi tembakan. Nenek renta ini berusaha mengulang kisah jahanam itu. “ Dor dor dor, tekdung tekdung tekdung, dredededet. Sorenya, perempuan nyariin mayat. Laki saya mati. Rata-rata laki kena tembakan di kepala. Ada yang sampai kepalanya putus. Kakak saya kena di dada. Dihitung ada 9 lubang,” ujar Nenek Cawi.  Esok harinya, lanjut nenek Ciawi, kaum wanita susah payah memilah-milah mayat sanak saudara sebab banyak mayat yang berantakan.

Kehidupan setelah pembantaian itu, berjalan sangat sulit. Susah, karena isi desa ini hampir perempuan semua. Semua mengungsi dari Rawagede. “Jadi 15 hari pertama setelah pembantaian, desa kosong,” kenangnya.

Apakah nenek tua ini masih menyimpan dendam?  Dan menghendaki para pembantai itu dihukum berat. Ditanya soal itu, sang nenek terdiam sejenak. Lalu, “Saya mah orang bodoh. Itu urusan orang pinter. Ibu sudah nggak ada dendam. Ibu yakin anak-cucu Ibu akan bales,” katanya.

Balas, yang dimaksudkan nenek renta ini bukan membunuh. Tapi menuntut keadilan atas penderitaan panjang itu. Dan itulah yang kini dilakukan salah seorang cucunya, Sukarman.(wm)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found